Mengalimatkan dan Mengalamatkan

~kepada DM

/1/ Hujan Ujung Tahun

ke dadamu: laut. rumah tempat pamit dan pulang bebutiran garam yang menguap dan meluap, membasah dan membasuh langit. garam-garam yang menjulur mengulur diri sebagai benang-benang bening melewati jalur-jalur udara, mencari lalu mencair. menceritakan kisah bintang-bintang yang mengecup mereka kepada ikan warna-warni peliharaanku. jutaan ikan mungil yang kaurawat sepenuh merah dan jantung, sepenuh air dan mata–dengan betah dan tabah. laut lapang dadamu jauh lebih subur dan sabar dari ladang langit. aku ingin tetap asin di sini. tidak peduli kauhujat aku pendatang, garam-garam asing, sebab hilang lalu pulang sebagai sesuatu yang nampak lain.

(aku tulis ini di ujung tahun, ketika aku jatuh ke dadamu. ketika kau atau aku memercik berkelopak cahaya bagai bintang-bintang. ketika kita yang air menjelma jadi kembang–api atau apa, sayang?)

/2/ Ikan Kunang-Kunang

suatu kali seekor ikan jatuh dari langit. kala itu sore dan hujan sudah lama redup. hidup terperangkap di segenang danau maha kecil dan dangkal di jalan yang meninggalkan kampung-kampung. bercahaya bagai ditimpa pecahan-pecahan kaca dan lampu. tertunduk seorang pulang sendiri dari pasar malam usai menemukan kekasihnya melepas tawa ke udara bersama seorang lain. matanya kehilangan cahaya. ia menuduh diri sendiri telah teledor menjatuhkannya di jalan. ia berlutut. menangkap–tepatnya menangkup–ikan itu dengan kedua tangan bergetar menahan entah apa dari dadanya. ia pindahkan danau ke telapak tangan, danau yang alangkah mudah kering. sepanjang pulang ia menangis, mengisi kedua tangannya dengan kesedihan. ia tak ingin melihat sepasang sayap ikan itu berhenti mengepakkan cahaya. di kamarnya sudah menunggu sebuah akuarium yang semata berisi air tak beriak dan masa lampau seekor ikan berwarna jingga. ke situ ia masukkan ikan yang ia yakin cahaya matanya yang hilang–kemudian ia tidur.

(semalam, di dalam mimpi, aku menulis dongeng ini untuk kau. pagi ini, lebih cepat dan lebih cahaya dari matahari, aku bangun dan menemukan tubuhku seekor ikan di akuarium. dari balik kaca, kau tersenyum menyebut-nyebut namaku: ikan kunang-kunang.)

/3/ Akuarium Kecil di Kamarmu

yang warna dan cahaya di tubuhku, yang bening dan asin di tubuhnya adalah masa lampau. yang mengepak di tubuhku, yang beriak di tubuhnya adalah masa depan. dunia ini transparan dan terpisah dari yang seharusnya menangkap maksud atau kecupanku. di tubuhnya aku dipeluk dan senang berenang-renang. aku terbang di dalam air dengan sayap-sayap berkilau-kilau. kau di luar sana sedang tersenyum seperti mimpi menerangi tidur gelisah. tubuhku bisa saja menjangkau jari-jari yang kau masukkan ke tubuhnya, jika kau mau. aku mencintai kuku-kukumu yang tumbuh putih, meski sesekali patah kaugigit, yang mampu jadi cermin bagiku atau bagi siapapun. ini laut kecilmu. sudah terlalu luas bagi tubuhku.

(sambil menyantap sarapan, atau harapan, aku menulis ini. kau mungkin sedang memainkan alat-alat dapur sambil lirih membisikkan lirik-lirik lagu kesukaanmu. di luar jendela, hanya ada januari dan langit lembab.)

/4/ Langit yang Memburu Inti Laut

yang membiru atau membara di bulan-bulan tertentu lalu membaru setiap tahun bertukar. yang memburu inti laut, yang paling palung di dadamu. yang mungkin runtuh atau meledak menyembunyikan bintang-bintang. yang nyata tapi burung menganggapnya seolah-olah. yang menampung aku sebelum menemukan jatah hari baik untuk jatuh, ketika tahu seorang telah menjauh darimu. yang menumpang di matamu setiap kaubuka jendela. yang pernah kautangkup di kedua tanganmu sebagai danau. yang mencintai harapanmu dan merindukan akuarium kecil di kamarmu meluap. yang sabar menunggu kauterbang menunggang aku. hendakkah kau?

(aku menulis ini di tepi jendela sambil menyaksikan seorang lelaki tua berjalan bersama istrinya yang siap memekarkan payung merah–sewarna ikan kunang-kunang yang kaurawat di dalam akuarium di kamarmu.)

Makassar, Desember 2010 – Januari 2011

One thought on “Mengalimatkan dan Mengalamatkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s