Hujan dan Payung Hadiah Ulang Tahun

~ Kepada Dian

1.

Sungguh, sudah sejak lama ingin aku menghadiahkan
beberapa jam hujan dan payung di hari ulang tahunmu.

Setelah itu aku hendak bertanya: maukah kau mengajak
aku berjalan menyusuri bentang jalanan paling lengang?

2.

“Biar aku yang memegang gagang payung, Sayang!” Aku
mengatakan itu agar hujan kian lebat digigilkan cemburu.

Atau kau yang ingin memegang gagang payung? Baiklah,
biarkan aku yang memegang ujung rokmu agar tak basah.

3.

Dulu, katamu, kau ketemu seorang bocah pria tukang ojek
payung yang pasrah cuma kaubayar dengan satu senyum.

Akulah dia. Lelaki kecil yang sejak hari berhujan itu berjanji
tak mau mati sebelum sepayung denganmu. Meski di mimpi.

4.

Suatu hari, aku melihat seorang pria tua berjalan bertongkat
payung yang pernah ia kenakan bersama mendiang istrinya.

Doaku: sekali saja, Tuhan, izinkan aku duduk di balik jendela
menyaksikan kami berjalan dilindung payung. Berengkuhan.

5.

Pernah aku mengangankan dari langit berjatuhan payung.
Aku berlindung di rindang hujan, juga air mataku sendiri.

Pula pernah menginginkan diatapi satu payung, aku dan kau
berbagi headset dan membuat kita tersenyum saat menangis.

6.

Telah diciptakan matahari. Telah diciptakan hujan. Pasti
berjalan sepayung bersamamu ialah menciptakan pelangi.

Tapi di satu kamar, entah di mana, ada payung terus basah
mengenang sepasang kekasih berpisah. Tak akan payung kita.

7.

Pada mulanya sepasang telapak tangan lalu lahir selengkung
payung agar aku memiliki satu lagi cara membuatmu tersenyum.

Kekasih, di bawah sempit payung aku dan kau mampu mencipta
jutaan perihal buat dikenang. Misal: bergantian mengecup kening.

8.

Tanyamu: sesekali, maukah kaulipat payung? Kita berjalan saja.
Kau amat tahu melukis salah satu pemandangan terindah di dunia.

Dari situ aku belajar untuk tak akan pernah mengenakan payung
di bawah airmata yang bisa meluap dari wajahmu. Biar aku basah.

9.

Kelak ketika salah satu di antara kita dimakamkan, tiada boleh
datang dengan sedih memakai payung hitam seperti di film-film.

Akhirnya, biar aku mengatup payung dan mengutip pesan ibuku.
Saat senja ia acap berucap: “Besok, jangan lupa bawa payung!”

Makassar, 2010

2 thoughts on “Hujan dan Payung Hadiah Ulang Tahun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s