Sejumlah Sajak yang Berhutang kepada Orang Buta dan Orang Bisu


Sajak Buat Istri yang Buta
dari Suaminya yang Tuli

Maksud sajak ini sungguh sederhana.

Hanya ingin memberitahumu bahwa baju
yang kita kenakan saat duduk di pelaminan
warnanya hijau daun pisang muda, tetapi
yang membungkus kue-kue pengantin
adalah daun pisang tua. Memang keduanya
hijau, tetapi hijau yang berbeda, Sayang.

Di kepalamu ada bando berhias bunga,
kau merasakannya tetapi mungkin tidak
tahu bunga-bunga itu adalah melati putih.
Sementara di kepalaku bertengger sepasang
burung merpati, bulunya juga berwarna putih.

Aku selalu mengenangkan, hari itu, kita
adalah sepasang pohon di musim semi.
Kau pohon penuh kembang. Aku pohon
yang ditempati burung merpati bersarang.

Aku lihat, orang-orang datang dan tersenyum.
Mereka berbincang sambil menyantap makanan.
Tapi aku tak dengar apa yang mereka bincangkan.
Maukah kau mengatakannya padaku, Sayang?

Di Hari Kematian Istriku yang Bisu

tidak ada, tidak akan ada kesedihan terlahir sama
maka itu tidak pernah ada airmata mengalir sia-sia

dan hari ini telah terlahir kesedihan dari kematianmu
khusus buat menikahi dan membahagiakan airmataku

sungguh, mataku yang buta hanya mencintai matimu
yang tidak tahu mengucapkan selamat tinggal, istriku!

Sebaris Tato di Punggung Seorang Lelaki Bisu

Dia, seorang laki-laki bisu, tahu semenjak mula jari-jari
perempuan buta tukang pijat itu pandai menanam pohon
maka dia menyediakan lapang tubuhnya sebagai ladang.

“Taburlah, tebarlah, bebiji pohonmu, perempuan buta!
Kelak waktu akan datang mengantarkan musim semi,
waktunya aku semai semua bunga dan buah-buahan.”

Tetapi hari-hari yang memanjang selalu saja kosong
serupa merah lidahnya yang tak mengenal huruf-huruf
tak tahu bagaimana caranya memanggil musim hujan.

*

Dia juga tahu semenjak mula jari-jari perempuan buta
tukang pijat itu pandai membaca, maka dia putuskan
menanam kerikil kecil di ladang punggungnya sendiri.

Suatu hari, sebuah kalimat singkat, sebuah tato
berhuruf braille, pelan-pelan terdengar dari jari-jari
perempuan buta itu: alangkah aku mencintaimu!

Sebaris tato braille itu pemanggil hujan paling mantra
seketika air berjatuhan dari mata perempuan buta itu
isyarat akan datangnya musim panen yang dinantikan.

Mati Mata dan Gerhana Mata

/1/

Koran mengabarkan banyak orang panik
listrik akan padam selama beberapa malam,
mereka takut pada gelap, takut mati lampu

“Aku baik-baik saja bertahun-tahun mati mata,”
kata seorang buta sambil tertawa membaca berita.

/2/

Televisi menyiarkan banyak orang terkesima
menyaksikan peristiwa langka gerhana matahari
malam tiba-tiba menyala pukul duabelas siang

“Mereka tak tahu setiap hari aku lihat gerhana mata,”
kata seorang buta sambil menangis menonton berita.

Buta Sempurna

Dik, jika saja aku buta
kau tak perlu menggunakan pupur,
gincu atau warna-warni pita
untuk aku sebagai pelipur

Dik, jika saja aku buta
kau tak perlu cemburu dan mafhum
pagi hari sebelum berangkat kerja
aku melumuri tubuh dengan parfum

Dik, jika saja aku buta
bersamamu aku bisa membayangkan
alangkah cantik dan gagah anak-anak kita
anak-anak tangga menuju tinggi kehidupan

Dik, jika saja anak-anak juga buta
mereka tak perlu memaksa diri bergaya
seperti remaja yang mereka lihat di kotak kaca
dan biaya listrik tidak membuat kita tersiksa

Dik, jika saja aku buta
dan anak-anak juga buta
seperti sepasang mata yang kau punya
alangkah sempurna keluarga kita!

Huruf Jerawat

kau meraba wajahku yang merah
dan kau temukan jerawat

sejak saat itu
biji-biji braille
di sajak-sajak cintamu
kau sebut huruf jerawat yang mekar

Seperti Matamu

Hingga kau pergi, aku tak mampu menulis satu puisi
yang menyerupai keindahan mata. Seperti matamu.

Hanya Tuhan yang tahu bagaimana menciptakan mata.

Setelah kau pergi, aku ingin menemukan rahasia kata
mulai belajar menulis puisi tentang air mata dan buta.

Di Matamu

Di matamu aku lihat wajahku jadi pohonan tua
dan mataku adalah dua lembar daun yang kisut
pelan-pelan basah oleh rimbun embun terakhir
yang hangat dan sangat mencintai keduanya.

Di matamu masih akan terbitkah pagi lagi bagi
mataku—atau matiku? Sebab dua daun jatuh itu
sungguh akan selalu berkeras kembali mencari
ranting pohon yang pernah memeluk kedunya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s