Sejumlah Kalimat dari Twitter yang Bermimpi Menjadi Puisi

~ Catatan Harian, September 2010

1.

Aku tahu Kau sangat mencintaiku, tapi
bolehkah kita berteman baik saja, Tuhan?

2.

Aku bermimpi di kejauhan sana Kau tak
putus menyebut amin menyambut doa-
doa yang aku kirimkan dari sini, Tuhan.

3.

Ini rindu, Tuhan, aku tak mampu mengalahkan
nyalanya, aku tak punya nyali mengalihkannya.

4.

Sepasang mataku dan matiku, kata ibuku,
adalah sekolah tempat langit belajar
menciptakan musim hujan.

5.

Ada rasa sakit yang tak mungkin mampu kau cabut
sehingga satu-satunya pilihan adalah menikmatinya.

6.

Hari takluk oleh jamnya sendiri. Jam takluk
oleh menitnya sendiri. Menit takluk oleh detiknya
sendiri. Kau detikku. Sendiri.

7.

Kelak akan berakhir permainan petak-umpet ini.
Kami sembunyi dan tidak ada lagi yang mencari.

8.

Alangkah cair kesedihan dan airmata bersua
setelah sekian lama berdua saling cari.

9.

Maukah kau belajar menggesek biola, Ibu?
Agar kelak di pemakamanku ada kesedihan
yang menyanyi.

10.

Ada seutas tali yang tak bisa dilalui apapun.
Berita atau derita yang meniti di situ akan jatuh
dan tak sampai—mengapa Kau tak mengguntingnya?

11.

Kami cenderung mengungkap siapa kami
kepada yang disebut teman-teman dekat.
Mungkin Tuhan tidak jauh berbeda. Tapi,
Tuhan, aku teman dekat, bukan?

12.

Sebelum berlalu, Ayah menangis
sambil mengenakan senyum.
Apakah senyum yang membuat
airmata begitu hangat, Ibu?

13.

Aku tak akan mengeluarkan Kau
dari diri aku. Aku benci dipenuhi
kekosongan.

14.

Rasa bersalah apa Kau hendaki
aku akui di pulang kali ini?

15.

Bahkan daun-daun yang tanggal
dari pelukan dahan pun akan pulang.
Apakah aku harus percaya selamat tinggal?

16.

Lengan rindu lebih panjang dari semua jangkau
telepon genggam, bisa menemukan Kau kapan
dan di manapun berada. Kini aku di masa lalu.

17.

Akulah hujan yang kelak setia jatuh
dan membuat kamboja di perut
makammu berbunga, Ibu.

18.

Ada sungai yang cuma bisa aku rasa getarannya.
Mengalir tidak putus-putus mencari aku di hilir.
Kau di hulu. Kau di hulu, menjaga mata air.

19.

Bulan di ketinggian bersedia bersedih
hingga pagi melihat orang-orang terpisah
begitu jauh, hidup dengan doa-doa.

20.

Sungguh, aku rindu Kau tubuhi pelukku!

21.

Alangkah abadi ini abdi
di dalam aku, Tuhan.

22.

Apapun yang membunuhku
akan membuat Kau lebih kuat?

23.

Aku memilih menghuni tubuh mimpi.
Kau pernah melihat kebenaran telanjang?
Ada banyak bekas luka di tubuhnya.

24.

Sebab dulu aku yang mengucapkan selamat datang,
Sekarang Kau yang harus mengecupkan selamat jalan.
Sudah adilkah?

25.

Wahai, Kau yang terlalu jauh
untuk aku jangkau, apakah Kau tahu
bagaimana caranya menidurkan rindu?

26.

Di sini seringkali yang benar dan yang benar-benar
sulit adalah dua hal yang sama. Itulah kenapa aku
terus bertahan merindukan Kau.

27.

Malam ini bintang-bintang begitu dekat
buat dijangkau, sedekat dadaku dan gelombang
bimbang yang selalu didekapnya.

28.

Tubuhku adalah pekarangan, tempat Kau
menabur biji-biji kesedihan. Tadi pagi aku
lihat mereka berkecambah siap tumbuh
jadi puisi.

29.

Kesedihan adalah tangga untuk sampai
menggapai yang lebih tinggi, di mana
kebahagiaan dan Kau telah menunggu.

30.

“Jangan menangis terlalu banyak, Sayang.
Aku tak tahu berenang,” kata ibuku.

Padang, 2010

One thought on “Sejumlah Kalimat dari Twitter yang Bermimpi Menjadi Puisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s