Jaket yang Memeluk Aku Sekarang

kita tukar dengan uang terakhir di sakuku kala itu,
selembar uang 100 ribu rupiah. kasir memberi kita satu
koin kembalian. kau berkata, “suatu waktu akan kita
lemparkan ke udara untuk mengundi.”

berwarna tanah. kau yang memilih. aku setuju
bukan tak ada pilihan lain. tapi ada luka kecil
di dadanya, seperti seseorang pernah menyakitinya.
aku suka merawat luka, termasuk lukamu.

sering kita tinggalkan di kamar tidur.
atau kita tanggalkan ke lantai sebelum tidur.
sering memelukmu ketika kau diserang dingin atau angin.
atau kau peluk ketika sedang sendiri dan ingin.

sekarang erat memeluk aku, tahu aku sedang sendiri
dan sekarat. luka di dadanya telah melebar, menyebar
luka ke bagian lain tubuhnya, juga tubuhku. rasanya aku
mulai tak suka merawat luka. di sakunya ada selembar uang
100 ribu rupiah. aku terus ragu apakah perlu menggantinya
atau tidak. tapi tidak ada koin. tidak ada koin.

Bandung, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s