Sebuah Buku Kecil yang Aku Tuliskan Ketika Berulang Tahun tentang Lelaki dan Binatang-Binatang dalam Jasnya

Pengantar

aku menulis buku ini sepulang bertemu penjahit.
aku pikir setelah berulang-ulang berulang tahun,
tak salah menghadiahi diri sendiri satu stelan jas.
kadang aku merasa sebagai penjahat yang perlu
pakaian yang bikin tampan dan tampak sopan.

di usia-usia rawan yang ditarik-tarik dari depan
dan belakang ini, memiliki jas adalah kebutuhan.
makin banyak undangan perjamuan yang datang.
meskipun kemungkinan jas itu cuma aku kenakan
di hari kematianku yang diramalkan sudah dekat.

Bab 1

ada pot berisi bebunga tiruan duduk di atas meja.
ada pulpen sedang bekerja menyelesaikan bagian
meja yang tak sempat dirampungkan oleh tukang.

dan laci terkunci meja itu, tentu saja, menyimpan
rahasia, bencana rencana dan mimpi yang hampa.

sementara lelaki berjas di kursi kurus jangkung itu
ialah seorang yang membayangkan diri aristoteles.
dia membaca kalimat ‘manusia adalah binatang …’

Bab 2

laki-laki berjas itu berdiri di atas sepatu lancipnya
sembari menopang kepalanya yang besar berisikan
kelinci (mungkin jantan) yang berisik berbulu putih
bagai selimut baru dicuci dan berhidung sehitam aib.

dari saku jasnya ada yang seolah sudut saputangan.
tapi aku tahu itu kuping tikus yang memerlukan diet.
di dadanya seekor ular tidur melingkar seusai makan.
dua tangannya terkepal—apakah dia hendak melepas
kawanan serangga ke udara yang luas tak terhingga?

tapi dia tak sekalipun pernah salah mengeja namanya.
dia menyentuh dan tersentuh kesedihan bunga-bunga.
sakitnya sembuh oleh senyum si asing yang melintas.
dia tidak marah celananya disinggahi debu dan bulu
dari bangkai yang sudah lama dibingkai masa lalu.

Bab 3

tanah sudah sekeras beton karena itu jangan tunggu
ada yang tumbuh selain pohon yang sudah berubah
menjadi tangga, yang tinggi, ke langit yang seolah-
olah. begitulah yang diyakini oleh lelaki berjas itu.

dia menapak satu demi satu anak tangga membawa
ribuan ekor burung di balik sepasang ketiaknya—
dia tahu puncak tertinggi adalah jatuh lagi ke tanah.

dia ingin mengenakan burung-burung sebagai parasut.
sejak kanak-kanak dia bercita-cita menjadi satu berita.

Bab 4

dia sengaja tak membawa satupun binatang ke mimbar
meski memakai jas yang sama. pikirnya: membiarkan
mereka tinggal di rumah sesekali adalah salah satu cara
menjinakkan. mereka harus lebih jinak dibanding wanita.

dia membaca pidato yang dikutip dari naskah kakeknya.
di atas kepalanya tiba-tiba telah berdiri sebuah istana,
tempat lahir semua binatang yang dia tinggalkan di rumah.

orang-orang dengan kepala terbuka di depannya bertepuk
tangan tapi dia tak bisa mendengarnya sebab dia telah jauh
hilang ke masa lalu kakeknya yang dia lupa siapa namanya.

Bab 5

suatu pagi kelincinya sakit gigi. dia pergi ke kantor
tanpa mengenakan kepala. tetapi koper dan sakunya
penuh dengan tikus. dan celananya berisi kaki kijang
yang paling gesit berlari. dia sangat senang kelincinya
sakit gigi, dia tidak mau berbasa-basi dan tersenyum.

hari itu, di jalan, dia berpapasan dengan orang-orang
buta. hanya orang-orang buta. yang tidak buta sedang
malas meninggalkan tempat tidur. dia sedang menang.

Bab 6

ketika cuaca buruk di negerinya sedang memerahkan
angka kalender, dia akan bekerja di satu kamar hotel
(tentu saja dia mengajak binatang-binatangnya juga.)

di dinding kamar hotel itu dia menggambar bayangan
dirinya. dia ingin seorang raksasa yang rakus tumbuh
dari dinding itu. dia tak pernah lupa membayangkan
dia jatuh cinta dan menikah dengan seorang wanita
yang akan menghadiahinya masalah masa depan.

untuk tumbuh, anak-anak butuh lebih dari sepasang
orang tua. itulah, itulah yang selalu menghantuinya.

Bab 7

dia kadang menggunakan kendaraan umum agar bisa
menyamar sebagai si siapa saja. itu dia lakukan saat
jasnya sedang ada di binatu dan binatang-binatangnya
sedang cuti tahunan merayakan hari-hari besar mereka.

dia terlihat santai dan santun bukan main karena takut.
sebab dia kehilangan cakar. sebab dia kehilangan taring.
sebab dia kehilangan kaki yang kuat berlari. sebab dia
tidak mampu melilit, menjerat, mengerat dan menjilat.

saat-saat seperti itu sesungguhnya dia sungguh kesepian.
sebab tak ada seorangpun mau menyapa dan tersenyum
kepada orang-orang yang jasnya sedang berada di binatu.

Bab 8

dia memutuskan memasang kupu-kupu di kerah jasnya.
dia sedang jatuh cinta. setiap dia duduk atau berbaring,
dia selalu membayangkan seorang perempuan sedang
membayangkan dirinya tersenyum. perempuan berbeda,
bukan yang melahirkan anak-anaknya yang tidak peduli.

di muka cermin dia kerap tersenyum, seolah menghadapi
seorang perempuan yang amat susah dirayu dan mencintai
lelaki lain yang jasnya memiliki lebih banyak kupu-kupu.

dia kasihan kepada dirinya sendiri dan kepada jasnya
yang sudah terlalu sering dicuci di binatu langganannya—
juga seluruh binatang peliharaannya yang semakin tua.


Bab 9

sebenarnya dia sudah meminta berkali-kali kepada dirinya
agar dipensiunkan saja. apalagi dia sudah membeli peti mati
berukuran raksasa yang bisa menampung sekebun binatang.

dia juga sudah berkali-kali meminta dirinya memberi gelar
pahlawan dan seluruh kekayaannya dimuseumkan agar bisa
jadi pelajaran sejarah. setelah meraih cita-citanya jadi berita,
dia ingin sekali masuk ke dalam buku sejarah—tak masalah
jika buku sejarah itu penuh hal tiruan seperti bunga di atas
mejanya yang beberapa bagiannya tak pernah diselesaikan
pulpen yang sudah berhenti bekerja karena kehabisan cinta.

Penutup

aku tidak tega menulis semua nama binatang yang hidup
di balik jas lelaki itu sebab lelaki berjas yang kukisahkan
dalam buku ini adalah ayahku. karenanya aku menanggung
akibatnya: sejumlah binatang yang tak aku sebut itu kini ada
di balik jasku. suatu saat seseorang akan menuliskan mereka,
mungkin anakku saat berulang tahun dan memiliki jas baru.

Makassar, 14 Januari 2010

CATATAN: Sajak di atas adalah interpretasi bebas dari sejumlah drawing karya Saul Steinberg yang menjadi ilustrasi di buku Elliot Aronson, The Social Animal (Freeman, 1996).

5 thoughts on “Sebuah Buku Kecil yang Aku Tuliskan Ketika Berulang Tahun tentang Lelaki dan Binatang-Binatang dalam Jasnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s