Mencatat Ibu Buat Ayah

1.

jika dia dengar buah-buah mangga
di belakang rumah berjatuhan.
dia selalu bertanya kepada engkau

“apakah mereka sudah matang
atau tak betah bertahan di dahan?”

tapi tubuhmu sudah bertahun-tahun
memilih diam dalam selembar foto,
tubuhmu yang tak punya bayangan.
sebab tubuhmu yang hidup pergi
menjelajah tempat-tempat tanpa alamat.

tetapi dia tetap tersenyum dan yakin
engkau semakin jauh masuk ke dalam
jiwanya yang dipenuhi mata air.

dia tabah seperti perigi.

2.

dia akhirnya membeli telepon genggam
meskipun tidak tahu berapa nomormu

dari balik kamar selalu aku dengar
dia meminta kepadamu dengan
bibir gemetar

“suamiku, dekatkan sedikit bibirmu
ke telepon. lebih dekat. lebih dekat…”

3.

aku pikir di bulan-bulan ini hujan
semata air yang bergerak vertikal
ke bawah dan ke atas bergantian

mengubah halaman dan jalan-jalan
menjadi laut yang compang-camping
tidak ada pelayaran mampu sampai

tetapi dia tidak pernah berpaling
dari keyakinannya tentang hujan:
cahaya basah, matanya dan matamu
yang berair. matamu yang di hulu
matanya yang di hilir.

4.

setiap pagi dia selalu membangunkan aku
dan menceritakan mimpinya yang sama

lautan ditumbuhi bintang-bintang
dan engkau datang mengajaknya memancing
ikan berdua di langit yang baru dan lapang.

5.

sebelum berangkat tidur aku selalu menatap
matanya, bertanya tanpa berucap.

dan dia tahu jawaban untuk pertanyaan
yang berulang-ulang aku lontarkan itu

“setia adalah pekerjaan yang baik, nak!
berangkatlah…”

6.

aku menemaninya ke pantai
dia berbaring di pasir seperti kerang
yang terdampar. tubuhnya terbuka
dan angin mencium sebiji mutiara
dari dadanya yang berkilau-kilau.

katanya engkau seorang penyelam
mampu bertahan di palung-palung dalam

itulah kenapa dia selalu datang ke pantai
menunggu kapan engkau datang menghirup
bekal menyelami hidup dari jantungnya

7.

dia memasak selalu dengan rambut
wangi yang tersisir dan terikat rapi
dia selalu ingat suatu malam sebulan
sebelum aku lahir, engkau tumpahkan
sayur dan kemarahan karena menemukan
sehelai rambut terselip di daun kemangi.

dia menyajikan makanan mengenakan
senyum dan pakaian berbunga-bunga.
setiap hari. seolah engkau akan datang
membawa dirimu yang kelaparan.

dia berdoa lalu makan pelan sambil bicara
soal cuaca dan sesekali melirik ke televisi.
dia selalu mengkhawatirkan kesehatan
dan keselamatanmu.

8.

dia suka duduk di muka cermin membunuh
wajah sendiri dengan nafas yang basah
kemudian menghapusnya dengan tangan,
menggantinya dengan wajah yang lebih cantik.

aku sering berdiri di belakangnya
sehingga dia menemukan wajahku
di hadapannya sedih dan berair

dia akan berbalik, tersenyum dan berkata:
menangis adalah upaya untuk tertawa lebih lepas.
sudah, menangislah!

9.

dia melingkari setiap angka di kalender
seperti mengikat mereka agar tak tanggal
dan di akhir tahun dia menghitungnya
sebagai kekayaan. begitu caranya dia
mengajari aku menabung.

tunggulah, katanya, akan tiba waktunya
buat dicairkan dan kita berpesta sekeluarga.

10.

dia terus bernyanyi untuk menidurkan
mata dan nadinya—dan di dalam mimpi
aku menyaksikan malaikat-malaikat riang
terbang dan hinggap dari nada ke nada.

aku selalu tidur mengenakan senyum
karena mengetahui dia selalu jatuh cinta
kepada engkau.

11.

di senja saat mendengar kabar engkau mati
sepasang matanya tak berkobar bagai neraka
sebab mata, katanya, surga bagi kesedihan

sementara kesedihan adalah kebahagiaan
yang lembut dan lembab

ibu selalu meletakkan engkau
di surga itu, ayah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s