Sejumlah Komentar Sahabat

Berikut ini adalah sejumlah komentar untuk calon buku sajak terbaru saya, Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita.

SAJAK Aan dalam buku ini adalah sajak yang riuh, ramai, gaduh, berisik, dan bising. Membacanya, engkau seperti berkunjung ke sebuah taman fantasi. Si penyair kita ini sebenarnya merindukan kesunyian, tapi dia tak bisa dan tak mau mengelak dari suara-suara keras yang mengepungnya. Untuk menaklukkan keramaian itu Aan menyatukan diri dengannya, menghadirkan diri tepat di tengah-tengah keriuhan itu, memotret dengan lihai – dengan sudut pandang yang hanya bisa dilakukan dengan lensa mata penyair yang piawai – bagian-bagian yang bergerak dengan amat lekas. Dan dia berhasil. Saya disuguhi sebuah laporan (dan dalam satu sentakan juga permenungan) yang orisinil, dan melampaui sekadar fakta yang menjadi mata peristiwanya. Saya menyebutnya Sajakarnaval! [Hasan Aspahani]

NYARIS sebagian besar dari puisi Aan dalam bukunya kali ini memiliki nuansa yang sangat jauh berbeda dari “kebiasaan”nya yang telah hampir menjadi trademark, bahwa ia adalah penyair yang selalu bersedu-sedan dan bertutur dalam puisi dengan berbisik, tenang, mengalun pelan. Saya tidak melihat semua itu sekarang, sebaliknya saya melihat puisi yang penuh dengan imajinasi, sesekali terasa bagi saya sebagai rekaan yang sangat liar. Saya merasa sedang berada dalam hutan lebat penuh dengan monster-monster dan binatang-binatang berbentuk aneh. Aan menjadi begitu surrealis. Kalau dalam dunia fotografi atau desain grafis saya mengenal semacam aliran fantasi, maka puisi Aan dalam kumpulan puisinya kali ini saya sebut: “Fantapuisi!” [Bernard Batubara]

HANYA satu yang saya temui dari buku ini, Aan seolah-olah ingin membukankan dirinya. Tetapi, bagaimanapun kelihaiannya untuk bersembunyi, saya tahu bahwa itu dia —yang belum mampu sepenuhnya melepaskan diri: bersudah dari sedih. [Axn Azhar]

SEBAGIAN besar dari puisi-puisi Mas Aan dalam buku ini, saya pikir adalah hasil percobaan dan coba-coba ( main-main ) yang berhasil. dan karena itu ada banyak kebaruan yang ditawarkan. Di lain hal puisi-puisi dalam buku ini begitu emosional tapi tenang, begitu riuh tapi sepi, kadang seperti naik kendaraan yang ngebut tapi terasa pelan. tapi ini cuma menurut saya sebagai pembaca. tentu pembaca lainnya mempunyai kesan lain dari saya. [Syaiful Bahri]

SAJAK-SAJAK M Aan Mansyur seolah-olah meniupkan roh ke dalam segala macam benda yang sedang aku lihat. Lalu benda-benda itu menyajikan semacam drama yang aku juga menjadi pemerannya. Dan setelah selesai bermain, aku baru sadar bahwa sebenarnya aku bukan siapa-siapa di sana. [Dedy Tri Riyadi]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s