Masalah Masa Lalu:Catatan dari Masa Depan Ayahku

:kepada Safinah, ibuku

1

sepasang belalai memanjang dari telingaku
selalu ingin mengecup semua yang kau ucap

agar kecupan melumpuhkan liar kata-katamu,
menjadikan mereka bangkai, lalu memasung
atau memasangnya di aneka ukuran bingkai.

mengapa melulu kapal-kapal yang berlepasan
dari bibirmu yang tak menyerupai dermaga itu?

tidak! layar-layar tak akan membawa kata-katamu
ke pulau manapun selain ke sepasang mata tuaku
yang rabun (yang akan bertahan hingga habis tahun)

mataku adalah laut yang akan menenggelamkan
tubuhmu dan bangkai kata-kata kelak mengganti
bunga-bunga yang ditaburkan siapapun yang masih
bersedia tangannya dinodai warna coklat sepi sedih

2

gulung awan tak jauh di atas gelung rambutmu bak kelopak
bunga yang entah mengapa berwarna tanah dan menangis

dan menciptakan ombak dengan lidah terus berbiak banyak
juga mencipratkan putih buih yang nampak tak pernah habis

itukah yang membuat sepasang rapuh tangkai tungkai tidak
mampu mempertahankan tabahmu yang semakin menipis?

maka kaki-kaki lengkung payung yang tidak memiliki telapak
memilih hendak mempertuhankan tubuhmu, aduhai, Gadis!

sementara aku dingin dinding kolam yang tak bisa bergerak
meski akan melihatmu perlahan ditelan air nyaris demi nyaris

3

langit-langit mulutku dan lidahmu yang merah
tidak akan berpisah jika lollipop sebesar planet

sementara mengenang lagi lollipop dan lidahmu
sama saja berbungkuk melapangkan punggung
dan waktu menancapkan anak-anak panahnya.

sudahlah. aku tahu rasa sakit itu lembar-lembar
alat bayar agar aku bisa melumat lidah kenangan.

jika aku menyebut kalimat, “tolong kau cabut!”
kepalaku akan disambut satu topi pertanda tolol—
runcing namun hanya mampu menusuk angin.

sebab kau di planet mana gerangan sekarang?

tapi aku memang tolol meski tak pernah meminta
tolong lagi padamu. sebab tak akan aku bendung
ingatan tentang lollipop dan lidahmu yang manis
yang di punggungku kini berubah jadi rasa sakit.

sayang dinding terkelupas mengatakan kepadaku
waktu ternyata punya usia, ternyata memiliki mati.

kenangan betapa panjang sementara masa depan
sungguh-sungguh hanya seukuran juluran lidahmu.

biar, biarlah lollipop sebesar planet itu terus menjilat
merah ingatan dan punggungku dipenuhi anak panah
hingga mayat waktu dikubur dan aku tak mengingat

apa-apa lagi kecuali rasa sakit yang susah dicabut

4

kau hanya tertarik kepada bayangan yang dilekuk
lantai dan dinding, bayangan yang mau menjangkau
sepasang pigura berisi tubuh yang dilepaskan baju

sebab kau selalu berpikir begitulah masa silam, tajam
serupa capit seekor kepiting raksasa yang bisa datang
darimana dan kapan saja; siang hari atau malam haru

sementara gambar-gambar lainnya sekadar hambar
masa sekarang; setumpuk telur yang tak berisi apa,
lelaki yang terlalu rapi untuk sebuah ruang lengang,
atau meja yang telah berubah menjadi irigasi aneh
mengalirkan telur-telur kosong dan tak akan pecah

kau hanya terpantik nyala bayangan yang ditekuk,
tak bisa menjangkau sepasang aku yang telanjang
yang pucat mayat membuat pigura serupa kubur
kaca, tembus pandang seperti akuarium yang tipis

di situ aku dan masa lalu jadi hantu—kau tak bisa kabur!

5

rambutmu yang harum mengenakan bando biru-haru
dan tubuhmu lebih putih dari gaun yang membalutnya

di hadapan alat pemutar musik tarianmu habis gerak
dan burung-burung beterbangan dari lagu yang murung

semata lantai bermotif lapangan catur yang paham
mengapa kesunyian tiba-tiba lahir dari keriuhan itu

adakah telah berdatangan masa lampau di pagi hari
yang berwarna matahari senja atau lampu yang rabun?

musik tak hendak berhenti bahkan saat kau bergerak
hendak menangkap sunyi yang mengendap keluar jendela.

aku tak sedang berada di situ saat itu, hanya masa lampau.

6

tubuhmu telanjang tetapi berada di luar peti mati
yang mengangkut pikiran-pikiranmu yang mayat

(akan ada banyak mitos yang turut dimakamkan)

dari langit-langit ruangan neon jatuh dan menimpa
kepalamu namun sungguh tak ada cahaya yang pecah

seperti dua payudaramu yang mencintai anak-anak
yang entah di mana bisa kau temukan bibir tangisnya

tubuhmu telanjang tetapi berada di luar peti mati
yang mengangkut pulakah kenangan tentang aku?

7

lantai tidur kedinginan. kau lihat itu dari mata
seekor burung yang termenung di ranting
yang tangannya memegang terali jendela

maka kau hamparkan selimutmu ke tubuh
lantai. kau tidak ingin burung itu murung
dan mati. kau merindukan sayapnya
masih mengepak-ngepak besok pagi

sementara tubuhmu yang telanjang
telentang di ranjang yang menyudut
di kamar sangat berwarna abu-abu itu

kau percaya dari dalam mimpi akan ada
tangan menjulurkan doa sehangat pelukan

tanganku?

8

bagian lain dari tubuhmu hanya menumpang
di senyummu. senyum itulah yang menampung
hidup. seluruh angin yang melintas menghirup
nyawa mereka dari situ. begitu pula setiap harap
yang nyaris putus milik pejalan kaki yang melihat
kau duduk menghadap jendela

lihatlah, anak panahku yang menancap di dadamu
kecewa. ia cuma mengotori dirinya dengan darah,
padahal ia menghendaki kejernihan airmata.

dan tangga-tangga yang mendaki tubuhmu
telah menjatuhkan setiap kaki yang membawa
pemburu. siapa sesungguhnya yang kau tunggu?

aku sudah mati berkali-kali namun senyummu
selalu bisa membongkar petiku—meskipun
aku telah menguncinya dari dalam

9

di samping jendela kau duduk membiarkan
kepalamu mengepul-ngepulkan asap dari dapur
di dadamu yang selalu sibuk memasak rahasia

sore itu langit baik-baik saja.
ada banyak layang-layang yang sedang
bermain di udara. satu layang-layang
menjulurkan ekornya meminta gunting

kau malu-malu dan malah mengelus-elusnya
seolah itu rambut dan kau jatuh cinta
kepada pemiliknya

sejumlah batu di atas meja, teman-temanmu,
yang kau ajak bercakap sejak pagi terharu

tapi mereka merasa bersalah tak tahu menangis
apakah kau tak pernah mengajari mereka?

10

kamar tidur yang hanya menyisakan masa
lalu sudah kau ubah menjadi ruangan kelas
taman kanak-kanak.

papan tulis dan huruf dari kapur warna-warni.
jendela yang dipenuhi pohon-pohon kertas
dan perahu mainan rusak tak bisa berlayar
di lantai juga kursi kayu yang tungkainya satu
telah patah dan selalu menganggap dirinya meja
di dalam sebuah dongeng yang berakhir bahagia

sampai kini kau masih saja percaya
masa kecil sama dengan masa depan

tapi bingkai besar di dinding telah dewasa,
telah merelakan masa kecilnya menghilang.

(foto pengantin aku dan kau sudah mati bukan?)

sekarang bingkai itu kosong seperti pintu
yang senantiasa terbuka—tetapi tidak ada
yang akan pulang atau datang selain hayalan.

11

kau selalu terbuka seperti stasiun.
di tubuhmu tumbuh semua jenis pelukan:
selamat jalan atau selamat datang

sebab aku meninggalkan diriku
sebanyak aku mengunjunginya

kau selalu robek seperti sehelai karcis
demi mengantar aku pergi ke manapun
kemudian kembali sekali lagi

dan kemudian tidak lagi

12

angin yang datang dari jauh itu membawa sehelai
saputangan lusuh: helai angan yang pernah kau lepaskan
mencari masa lalu yang dulu mencuri hidupmu

saputangan itu dipenuhi kupu-kupu dan ajal
mengerubungi sayap-sayap mereka yang rapuh

kupu-kupu itu menjatuhkan telur-telur bening
ke perawan payudaramu, sepasang bukit
mata air sungai susu surga

ini terakhir kali, katamu, kau tabahkan tubuhmu
menjadi kepompong. setelahnya kau ingin mati

kupu-kupu baru akan kau biarkan terbang
sejauh-jauhnya dan angin tak akan mampu
menemui dan mengembalikan mereka lagi
ke bunga-bunga yang tumbuh di makammu

13

semua perahu yang akan menyampaikan
angan-anganmu terlalu kecil dan rapuh.
laut semakin luas semenjak aku di pulau lain,
pulau yang disembunyikan di peta para pelaut

juga kain layar sudah masa lalu, hanya mainan
masa kecil angin yang kini mengampiri ajalnya

rindu, mimpi dan doa telah gagal mempertemukan
aku dan kau lagi. selain peti mati masih adakah
kendaraan lain yang kau tunggu?

14

apa yang paling menyentuh
yang mampu dimimpikan kepalamu?

“kepalaku memiliki ribuan mata lampu
jalan yang sudah berkali-kali mati tapi
tak seorangpun tega mengubur mereka.”

aku tahu. cahaya yang aku lihat bangun
saban petang itu adalah hantu-hantu,
memata-matai tungkai tiap pejalan
yang melintasi sepi mereka sendiri.

hantu-hantu itu kau kendalikan
untuk menyeret jalanku kembali
ke sisa usiamu yang menunggu

15

mata pisau atau tali mencintai lehermu. semua
yang mampu melukai jatuh cinta pada lehermu.
aku juga. tapi putih lehermu tak pernah pucat.
cinta tidak akan bisa membuatnya patah

kau percaya: cinta adalah mata air air mata.

tapi aku tak pernah melihat ada yang jatuh
dari matamu kecuali cahaya. sementara
di sini alangkah sakit aku menyakitimu

16

kau mengembalikan selimutmu menjadi bulu-bulu
di sayap angsa. lalu kau biarkan mereka berenang
di atas telaga yang telah kau siapkan di atas meja.

kau mengembalikan kertas ke dahan-dahan pohon.
lalu kau biarkan daun-daun bergembira bermain
dengan udara di luar jendela.

kau mengembalikan kepalamu ke dalam sangkar
kau redam seluruh pikiran-pikiran liar
yang bisa membuatmu menangis.

kau penyair yang mahir mengembalikan
puisi ke benda-benda. sementara kata-kata
kau lepaskan berkeliaran ke masa depan
mencari aku

17

di dalam mimpi segelap apapun di sana
selalu ada sebatang pulpen yang mampu
mencatat setiap nama atau kehidupan
bahkan kehidupan yang sudah mati

tetapi di dalam mimpimu tinta pulpen itu
hanya jatuh cinta kepada satu nama,
nama yang melukaimu: aku

akan kau apakan catatan-catatan
dengan huruf selalu dalam urutan
yang sama? bagiku itu hanya bebiji obat
yang tak akan habis dan rutin harus ditelan

sementara aku tak akan sembuh, aku sudah
terkubur di masa depan dengan rasa sakit
menahun setelah menyakitimu berkali-kali

18

bertahan sendiri bertahun-tahun di masa lalu
telah mengubahmu menjadi seorang peramal

“pada akhirnya burung-burung akan memilih
disangkarkan daripada dilepaskan ke udara.
dari beranda, di kepala atau di manapun kau
gantungkan, kicaunya akan memintal benang
yang bening untuk menambal luka di dada.”

“pada akhirnya setelah hamil berbulan-bulan
telur hanya akan melahirkan mesin-mesin
berkarat yang akan tumbuh jadi anak-anak
yang tak tahu apa-apa kecuali menyakiti.”

tetapi jari-jarimu hanya mampu menjangkau
jarak yang tak seberapa—tidak akan sampai
ke masa depan yang menyimpan aku

19

ada tiga sangkar yang selama ini kau rawat
seperti anak-anak yang menamaimu ibu

satu sangkar berisi sebatang pohon mandul
(padahal kau merindukan buah yang mampu
mengembalikanmu ke surga) dan burung-burung
yang sering menatapmu di rantingnya sekarang
senang hidup di dalam bingkai kaca di dinding

sangkar kedua berisi segumpal awan yang tidak
pernah menangis, yang melarikan diri dari langit.
dia tidak suka berada di ketinggian sejak kau
selalu menunggu ada sesuatu yang jatuh

sementara sangkar lainnya, tubuhmu,
berisi aku dan perihal lain yang tak bertemu
secelah jendela untuk kembali ke masa lalu

20

mereka tumbuh di atas kepalamu umpama buah-buah
hitam atau bola-bola plastik yang tak berisi apa-apa
selain sepi angin yang hidup di penjara, bersalah
dan dihukum tidak boleh menghirup kebebasan

kau tak bisa menceritakan rindumu dengan doa-doa.
maka kau ajak aku ke masa lalu. duduk di depanmu
sepanjang malam memetik bulatan-bulatan itu
dan mengisinya dengan kata-kata

tetapi sungguh kau cukup dengan masa lalu—
pulangku akan membuat kau pura-pura hidup

masa depan hanya kenangan. kau tahu, bukan?
tidak ada apa-apa di sana kecuali kematian
dan aku yang bukan siapa-siapa

sudahlah. seduhlah secangkir kopi agar malam
menjadi lebih panjang buat menunggu aku
yang tak tahu jalan kembali ke masa lalu

menunggu akan memanjangkan usiamu

21

kau semakin tua, kau semakin tua
namun masa lalu di kepalamu semakin muda
umpama remaja baru terluka oleh cinta pertama

masa lalu tidak membutuhkan vitamin
untuk sehat dan kosmetik untuk cantik

aku tahu untuk itulah kau membangun kincir
di kepalamu untuk menghalau masa depan
yang akan datang menghancurkannya

antara masa lalu yang kau pelihara
dan masa depan yang menyesatkan aku
ada seutas tali yang tak bisa dilalui apapun

setiap kabar atau rindu yang meniti di situ
akan jatuh dan tak sampai—tetapi mengapa
kau tak juga mengguntingnya?

22

kau sedang berulang tahun. cuma jendela
di dada dan kepalamu bersedia bersedih.
waktu dan hal-hal lain yang dipeluknya
sedang memikirkan hidup mereka sendiri

seseorang mengirim sepotong tart
untuk kau pandangi sepanjang hari
sampai basi. tetapi matamu tungku

setiap yang disentuhnya akan hidup
dan memperbaharui diri terus-menerus

dan tidak ada cahaya yang mampu
mengubah kau menjadi bayang-bayang
di dinding atau di pikiran miring siapapun

kau sedang berulang tahun. aku angka
yang hanya mampu menghitung usiamu
dari kejauhan, dari masa depan yang hanya
kenangan

23

kau sudah meluruhkan seluruh pakaian
berwarna putih pengantin yang kau kenakan
di masa lalu. sepasang bibirmu hari ini hitam
sewarna kain yang menutup mata dan tubuhmu

kau ragu menopang dadamu yang berat
seolah ada benda-benda yang akan jatuh
dari situ tetapi kau ingin menyentuhnya
sekali lagi sebelum pecah membentur lantai

tak ada, tak ada yang bergetar sama sekali.
bayanganmu melekat di dinding seperti lukisan.
angin telah berada di luar jendela sejak pagi.
tempat tidur, meja dan kursi, sangkar-sangkar
dan mahkotamu yang membentuk rupa-rupa
mimpi sudah rela menjadi penghuni museum.

tapi kau hendak ke mana dengan mata
tertutup sesungguhnya?

Makassar, 2009 -2010

CATATAN:
Rangkaian sajak ini berhutang kepada foto-foto karya Jamie Baldridge, seorang fotografer, dosen dan penulis kelahiran Amerika 1975. Sajak-sajak tersebut secara berurutan meminjam foto Jamie Baldridge berikut sebagai titik berangkat: Call to Journey, Dainty Phyletic, Martyrdom St Tilden, Chaos Counter, Chaos Counter, On Reading Ovid, Annunciation, Babylon, The Annals of Steam, Balancing Gibraltar, The Visitation, A High Wind from Damascus, Pax Vobiscum, The Romantic, Archimides Screw, A Ten Penny Prophet, Chronicler #63, Ova Sacro Emblemata, A Confluence of Arbitrary Ideas, The 55th Parallel, Reciprocity, A Difference Engine Contemplates an Ontological Certainty, Io. Sebagian dari sajak-sajak itu pernah dimuat Kompas (30 Agustus 2009) di bawah judul Sajak-Sajak yang Lahir dari Foto Jamie Baldridge. Karya-karya Jamie Baldridge bisa dilihat di http://www.jamiebaldridge.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s