Ibu dan Sajak-Sajakku

Saya jarang sekali bertemu ibuku. Sejak tahun 1991 kami selalu tinggal di kota berbeda. Tetapi kami saling sangat mencintai.

Setelah saya, pembaca pertama sajak-sajak saya adalah ibuku. Nyaris setiap malam saya mengirim bait-bait sajak melalui fasilitas pesan di ponsel. Tak jarang dia menelpon khusus, sebelum tidur, dan meminta dibacakan sajak-sajak terbaru saya.

Ibuku menikah dengan ayahku (yang menghilang sejak 1987) setahun setelah dia menyelesaikan sekolahnya di sebuah Sekolah Menegah Ekonomi Pertama. Usianya masih sangat belia kala itu, 17 tahun. Pernikahan itulah yang membuatnya tak melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi.

Ibuku berulang tahun di bulan Desember namun dia tidak tahu tanggal berapa tepatnya. Saya selalu membayangkan dia berulang tahun tanggal 22 Desember—dan karena itu orang-orang menyebutnya sebagai hari ibu.

Ibuku kini sangat menikmati hari-harinya sebagai seorang penjahit dan guru mengaji di tengah-tengah kesibukannya mengurusi cucu-cucunya. Dia kini tinggal di Balikpapan.

Tak tahu sudah berapa jumlah sajak yang saya tulis khusus untuk ibuku–tetapi saya tak pernah merasa mampu menulis satu sajakpun yang layak.

Berikut beberapa sajak yang pernah saya tulis untuk ibuku. Selamat membaca!

EMPAT KEMUNGKINAN TEMPAT SUAMI IBUKU BERADA

1.

dia memang pergi ke negeri tetangga
dan mungkin masih berada di sana
ingin menghabiskan seluruh jatah:
usia dan ingatan tentang rumah

atau dia menunggu seseorang atau surat
datang mengajak pulang—apakah dia
lupa surat benci yang tak punya alamat?

sekarang rambut ibu yang memanjang
demi dibelai angin dan angan dibelai
mulai putih dan patah sehelai demi sehelai

tapi mengapa suaminya betah di pelarian?

2.

ibu percaya seseorang bisa tersesat,
singgah atau sengaja sembunyi
di kartu keluarga orang lain

dia tua sekarang. jalan pulang
mungkin telah terlalu panjang
bagi kaki dan keinginannya
yang semakin pendek

dan rindu, meski tak mampu dikalahkan,
bisa dialihkan ke tempat pulang berbeda

3.

apakah semua rumah sakit
bersedia menampung penderitaan?

jika dia menderita, oleh usia tua
atau rindu, mungkinkah dia
tak melupakan letak rumah sakit
seperti yang dilakukan ingatannya
kepada rumah yang sakit dia tinggalkan?

dia mungkin menumpang di situ
—sementara

atau menggelimpang di satu penjuru
penjara?

4.

padahal ibu meminta dia membawa rumah kami
di tubuhnya—dan tak seorangpun perlu menanti

sebab bahkan petualang membawa kampungnya
ke mana-mana, agar pergi dan kembali
tak perlu diterjemahkan berbeda

mungkin ia telah melihat rumah
semakin menjauh dari dirinya

dan berpikir pulang ke kampung
yang lebih dekat dari tubuhnya:
tanah

—dan ibu hanya akan berziarah
ke dalam puisi anaknya

2009

SAHABAT-SAHABAT IBU

SEJAK kaki ayah tak lagi mengenal bilah-bilah
lantai rumah kayu yang pernah dibangunnya.
Dan aku serta dua adikku memiliki pikiran
masing-masing yang berbeda satu sama lain.
Ibu bersahabat dengan benda-benda tajam

1.

–jarum

UNTUK menjahit, katanya.
Sebab waktu senantiasa selimut compang.
Sementara tulang-tulangnya jadi sarang
penyakit aneh yang tak bisa ia sebutkan namanya
seperti menyebut nama-nama orang yang dicintainya.

2.

–pisau

KADANG-KADANG ia benci ranum buah-buahan:
apel dan tomat yang merah,
semangka dan mangga berkulit kencang,
atau mentimun yang segar dan putih.

Masa-masa remajanya tak bisa kembali
seperti juga alamat ayah yang sia-sia dicari.

3.

–gunting

BUNGA-BUNGA dan rumput di halaman
suka berubah jadi uban di kepalanya.
Ia tak ingin ada hutan menyeramkan
tumbuh di sana. Sebab bagaimanapun
ia tak pernah lelah menunggu anaknya
datang mencium keningnya atau
mungkin ayah dengan oleh-oleh
sebuah cerita tentang petualangan.

4.

–cermin

BUKAN dada dan pipinya yang suka ia ajak bicara.
Tetapi ia senang menantang sepasang matanya
agar terus bertahan dan tidak segera menyerah
kepada musim hujan dan mimpi-mimpi buruk
yang selalu bersiap melompat masuk ke sana.

2007

SAFINAH

1.

ENGKAU memasang langkah di kakiku.
Engkau memasang ayun di tanganku.
agar aku menjauh dan merindukanmu.

Dan engkau juga menyimpan sesuatu
di dalam waktu, aku tak tahu apa itu.
Karenanya aku terus tumbuh menuju
semakin dekat ke masa kecilku,
semakin kembali ke bukit-dadamu,
semakin kembali ke lembah-rahimmu.

2.

Dari berangkat langit mengikutiku
penuh lubang seperti jaring nelayan
selalu luput menangkap seekor ikan.

Begitulah yang aku pikirkan di sini,
di kejauhan yang hiruk oleh sepi ini.

Dan di dalam mataku yang terluka
selalu aku saksikan matamu terbuka
menampung seluruh langit yang nila
langit yang jauh dari musim hujan
langit yang meminta kita tiduran
di padang rumput sambil bercerita

tentang rupa-rupa nama burung
dan matahari sore yang murung.

3.

Dulu aku mencuri sehelai fotomu dari album
dan aku sembunyikan di dompet kurusku
lalu berangkat tanpa tahu ke mana mengarah.

Di sini, di tempat yang sungguh jauh dari rumah
jauh dari album yang pernah menyimpan foto itu,
waktu melulu dipenuhi sapa sepi dan bunyi sunyi.

Tapi dari dompetku selalu aku dengar kau bernyanyi
mengulang-ulang kata pulang dan rembang petang
supaya kedua kakiku semakin kuat buat bertualang

4.

Di antara awan-awan yang melayang
alangkah biru angkasa itu

di antara jalan-jalan yang membentang
alangkah rindu anakmu, ibu

2007

MATA IBU

SEJAK dulu kala
matamu hulu kali.

Airnya lelehan cermin.
Menggenangi pipi, telaga tempat ikan-ikan
berenang: anak-anak yang engkau lahirkan
dan tumbuh dewasa lalu melepaskan
siripnya di antara batu-batu.

Air itu jualah menguap ke langit
sebab tak ada mulut laut
mau jadi muara.

Di ceruk pipimu, para pemancing datang
bagai gelombang pengungsi dari pulau-pulau jauh.

Tetapi engkau sungguh tak tahu mengeluh.
Sebab air kali itu membuat langit
selalu biru,
selalu baru.
Dan lelaki bangun mendapati
setiap hari sebagai hari baik buat memancing.

Tetapi engkau sungguh tak tahu mengeluh.
Mulutmu corong seluruh doa paling minta.
Agar tuhan tak mengeringkan kali
sebelum ternak dan anak-anak
menemukan hujan.

2006

TENTANG SENYUMAN IBU

USIAKU baru tiba di angka empat
saat sebuah bus berhenti di depan rumah
lalu pergi membawa lambaian ayah.

Ketika itu ibu mengenakan senyuman.
Pikirku, pasti ia sedang bahagia.
Jadi aku kenakan juga senyuman
sebab aku pun ingin bahagia.

Kini aku sudah jauh meninggalkan usia empat.
Tetapi bus yang dulu itu tidak pernah kembali
juga ayah beserta oleh-oleh yang dia janjikan

Telah lama aku menanggalkan senyuman.
Namun ibu masih mengenakan senyuman yang sama
karena itu selalu aku bertanya: apakah ibu masih bahagia?

Sambil tersenyum, ibu akan menjawab:
Aku selalu rindu dan menunggu ayahmu pulang.
Itulah yang membuat aku tetap tersenyum.
Itulah yang membuat aku tak henti bahagia.

2007

GAMBAR MIRIP IBU

AKU baru saja pindah kerja dan menempati ruangan baru.
Barangkali bekas pemilik ruangan ini sengaja memasang
di dinding dekat meja kerjaku, bingkai berisi gambar repro
seorang perempuan yang pernah berperan di sebuah film lama.
Dia telentang telanjang di hamparan rumput warna hijau-coklat.
Kesepian sekali dia bagiku. Payudaranya aku lihat bagai bukit
yang tak ditumbuhi pohon apa pun. Putingnya lebih menyerupai
batu nisan. Tubuh siapakah gerangan yang terkubur di sana?

Semakin aku memandang gambar itu semakin aku merindukan ibuku.
Dulu aku membayangkan tubuhku terkubur di antara dua payudaranya
selama-lamanya sebagai seorang bayi yang tidak mengenal kata-kata
kecuali suara-suara ayah yang selalu menghendaki aku tumbuh dewasa.

*

AKU baru saja pindah kerja dan mendapati pimpinan baru.
Di hari pertama wajahnya tak menyerupai wajah siapa pun
yang aku kenal. Namun di hari kedua dan selanjutnya dia
berubah jadi ayahku: suka marah-marah dan menganggap aku
selalu sebagai seorang anak kecil yang tak memahami apa-apa.
Setiap hari dia menanam keperihan-keperihan baru di dadaku.

Barangkali karena itulah bekas pemilik ruangan ini memasang
gambar perempuan telanjang yang mirip ibu, ibuku atau mungkin
juga ibunya, di dekat meja kerja di ruangan baru ini. Agar tak terlupa
bahwa ibu satu-satunya peri yang bisa menghibur segala rupa perih.

2007

ADA EMPAT SMS IBU HARI INI

1.

Kugunduli kepalamu sebelum pergi
rambutmu panjanglah saat kembali

SEBELUM berangkat saat mengikat tali sepatu
di kaki tangga kayu kau mengatakan pesan itu.

Setelah masuk semua pintu salon di kota ini
berdoa kepada vitamin dan pencuci rambut
kepalaku tetaplah bukit gersang seperti dulu.

Ibu, aku selalu percaya kau akan sabar
menunggu hingga rambutku tumbuh subur.

2.

Apakah lidahmu penuh jejak kaki?

MULUTKU ini gua, di pintunya ada sarang laba-laba
tetapi tak ada seekor burung mau bertelur di sana,
ada ular, menunggu mangsanya, melingkar-lingkar
liurnya racun paling bisa dan tak memiliki penawar.

Ibu, kecuali jejak tapakku sendiri,
tak selangkah kaki pun melewati
itukah yang kau kehendaki?

3.

Ada sebatang pohon aku tanam di dadamu,
apakah bayangannya meneduhi kepalamu?

AKU tak pernah berhenti jadi anak-anak
senang telanjang berlari di bawah hujan
di tubuhku selalu ada yang minta disiram.

Tetapi matahari di musim kemarau,
hanya menghormati bayanganmu.

4.

Jika kau sudah mampu mengelilingi dapurnya tujuh kali,
aku bisa menyanyi ninabobo buat cucuku tak lama lagi.

KOTA telah menyiapkan aneka restoran lengkap dengan pelayan
mereka perempuan yang senang berjanji jadi kekasih atau istri

Apakah anak selalu harus mengalah atau bisa membantah
pada beberapa kutipan dari lembaran kitab-kitab lama itu, Ibu?

2006

KEPADA IBUNYA, BATU MENGIRIM ASAP

1.

SETELAH bara api bebatang kretekku
menghabiskan cengkeh dan tembakau,
akan kubakar pula rak dan buku-buku,
seprei dan tempat tidur, juga rumahku
bahkan kota dan hutan-hutan hijau.

Aku hilang jejak dan alamatmu sejak dulu.
Maka asap-asap akan mengabari dari jauh
seluruh risau juga rindu padamu.

Ibu, doa siapa meneluhku jadi batu?

2.

RUPANYA, ada airmata di dada batu
yang jatuh setiap kali terdengar lagu.
Tentang rerumput dan kerbau-kerbau.
Tentang daun-daun kehilangan hijau.
Juga tentang kampung yang jadi baru.

Ada yang tak henti menangis, ibu!
Langit, hulu sungai, laut dan mataku.

Mungkin seorang berkata padamu
semua itu tak akan pernah mampu
mengembalikan batu jadi anakmu
maka kubakar saja seluruh milikku.

Dan asapnya mungkinkah tiba di situ?

3.

BAIKLAH. Baiklah biar kubakar jua diriku.
Seperti membakar dupa-dupa atau kayu.
Dan berharap asapku membawa bau-bau:
peluh, darah, nanah dan tanah, airmata, airsusu
yang adonannya dulu engkau buat menjadi aku.

Namun, Ibu, mohon setelah semua itu
jangan pernah engkau duduk lesu
menangisi anakmu menjelma abu
atau debu.

2005

SESAAT SETELAH KAPAL BERSANDAR

TAK ada yang lebih letih dari kapal yang bersandar
setelah menempuh perjalanan dari bandar ke bandar
kecuali tubuhku yang mungkin telah berubah lain
di bening kelereng matamu.

Sepasang tanganmukah dermaga itu?

Menjulur ingin merengkuh
membawaku ke dalam dadamu
yang bergetar seperti geladak
di rambut panjang laut berombak.

Kuku-kukunya baru saja kau potong
agar tak melukai punggungku gosong .

Namun urat-uratnya tak mampu kau sembunyikan
seperti tangis yang kau kulum dengan senyum
atau sesekali gigitan di bibir bawah.

Ia menjalar sebagai akar-akar pohonan tua
sisa hidupnya hanya kepedihan.

Inilah petualangan terakhirku, Ibu,
setelah semua dermaga yang pernah menerimaku
tidak lebih lidah perempuan-perempuan nakal.
Menjilat lalu muntah sambil mengumpat-umpat.
Tak tahan pada kerat-kerat
dagingku dan keringat pekat
yang kusuling dari mata air susumu

2005

MEMANG PANJANG PULANG DIBENTANG

rindu barangkali memang air mata
sedalam-dalam dipendam

di langit semalam ada wajahmu
pada bulan jadi sabit tipis
dan aku ternyata bisa menangis

ibu, aku tahu
memang panjang pulang dibentang

2003

MALIN KUNDANG

sungai ini berhulu di matamu
airnya bening memanggilku
menjelma ikan

tapi aku batu, ibu!

2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s