Gunjingan Hasan Aspahani

Dengan Ini Menyatakan bahwa “Cinta yang Marah” Karya M Aan Manyur adalah Buku Puisi Terbaik Indonesia 2009 Versi Saya Sendiri

Oleh Hasan Aspahani*

KEPEDIHAN itu disampaikan lewat kisah Si Aku dengan cara yang cerdas: menyatakan mimpi-mimpi. Si Aku punya tiga mimpi, yaitu menjadi pemain biola, perancang busana, dan penulis obituari. Dua cita-cita pertama adalah mimpi yang lazim. Tapi, penulis obituari? Ini sungguh tidak wajar. Dan inilah kehebatan penyair kita ini. Ia jeli. Ia seolah tanpa beban mencomot imaji-imaji dari sana-sini. Ia memerlukan ketiga cita-cita itu sebagai strategi puitik menyairnya: menggarap tema puisinya.

Lantas sajak itu mengalir lekas tapi sungguh tidak cair, lancar tapi sungguh jalannya tidak sederhana, penuh kelok, tanjakan, simpang, dan ibarat kendaraan kita sebagai pembaca akan berpapasan dengan banyak hal di sepanjang jalan puisi enam bait (atau paragraf) itu.

Tiga cita-cita tadi berkembang atau dikembangkan untuk memaparkan kepedihan dengan cara yang wajar. Kita percaya bahwa Si Aku kita ini amat mahir bersedih, amat lihai berduka. Tapi, dia sedang tidak dikasihani. Dia juga tidak sedang mengasihani diri sendiri.

suara biola yang mengantar mayat kau ke pemakaman: tangis aku//juga tentu saja aku menuliskan obituari singkat untuk kau yang dimuat di koran persis di samping obituari aku sendiri.

Dua bait terakhir yang menutup sajak pertama di buku “Cinta yang Marah” itu sudah cukup menunjukkan kematangan penyair kita M Aan Mansyur. Ia dengan baik menghamparkan sebuah bentang imaji sajak yang kompleks, dan sementara itu menjaga keutuhan komponen-komponen pembangunnya. Di hadapan sajak Aan, kita tidak merasa terlempar ke tengah laut di tengah malam: gelap sehingga tak tampak apa-apa, dan dalam sehingga sekuat apapun kita menyelam tak akan menemukan apa-apa, dan karena itu kita ketakutan, lemas, tak bisa berenang ke mana-mana.

Rangkaian sajak-sajak Aan di buku ini adalah sebuah sungai meander. Penuh kelok tajam dan dalam. Di satu bagian kita menemukan ketenangan arus, terlindung – tapi tak terpisah – dari arus deras itu; di bagian lain kita terseret aliran kencang; di bagian lain kita terpaksa menyelam sejenak untuk kemudian muncul lagi di bagian lain dan merasakan sensasi luar biasa. Megap-megap kita dibuatnya, tapi kita puas karena tahu sedalam apa sungai sajak itu adanya.

***

Di buku ini, Aan melakuan apa saja yang bisa diperankan oleh sebuah teks dengan puisi-puisinya. Ia bercerita: misalnya tentang sepasang kekasih yang merayakan ulang tahun di perpustakaan, dengan serangkaian adegan-adegan indah (seperti mencium pucuk hidung, dengan mata yang memejam) yang saya kira di tangan seorang sutradara handal dan pelakon dengan akting hebat akan menjadi adegan cinta yang membuat dada penonton sesak.

Di buku ini, Aan dengan jenial menyampaikan pendapatnya tentang banyak hal (sambil dengan halus melancarkan gugatan). Tentang panti jompo, misalnya, dia berpendapat bahwa itu adalah tempat orang-orang yang punya anak terlalu sibuk, merasa dekat dengan makam, dan susah mengingat cara tersenyum. Tetapi, ia tidak pernah lupa bahwa ia menulis sajak. Pendapatnya itu selalu saja hanya menjadi cantolan, atau kaitan, atau dasar berpijak untuk melompatkan imaji puisinya pada ketinggian rasa yang hendak dicapainya dalam sajaknya.

Di buku ini, Aan juga melucu. Huh, kenapa sih tak banyak penyair Indonesia melakukan hal ini. Kenapa sih banyak penyair Indonesia saat-saat ini terlalu serius dengan puisi mereka, tetapi hasilnya adalah sajak-sajak yang sungguh terlihat sangat lucu karena keseriusannya itu. Kelucuan sajak Aan tidak sekadar plesetan. Kelucuannya terbangun utuh untuk bersama sajaknya. Di sebuah sajak misalnya, dia merenungkan arti kesetiaan, kebahagiaan lewat adegan sepasang kakek dan nenek yang mengamati uban, dan gigi, serta menjawab pertanyaan cucu. Amat jenaka.

Di buku ini, Aan melancarkan kritik sosial. Yang disorotnya bukanlah hal-hal yang baru: ia misalnya menyiratkan bagaimana tidak adilnya pembangunan, yang atas nama modernisasi maka habislah tersingkir becak oleh mobil mewah. Ia menyindir korupsi, ia menyadarkan betapa lahan bermain semakin menyempit dikuasai oleh gedung-gedung milik orang kaya, ia dengan ringan menyebut dan menyabet soal kenaikan harga, perceraian dan perselingkuhan artis, dan kekakuan lembaga-lembaga agama.

Tapi yang paling penting adalah di buku ini Aan dengan mahir menyairkan soal cinta, kasih, kehidupan, kematian dengan butir-butir permenungan yang bernas, orisinal dan dengan cara yang sejauh ini hanya dia yang bisa menggarap semenarik itu hasilnya.

***

Buku ini adalah buku puisi ketiga Aan, setelah “Hujan Rintih-Rintih” (Ininnawa, 2005) dan “Aku Ingin Pindah Rumah” (Nala Cipta Litera, 2008). Mengikuti kepenyairan dan perkembangan sajak-sajaknya dari buku pertama itu, saya harus menyebut bahwa di buku ketiganya ini Aan tidak lagi hendak meraba-raba hendak kemana membawa sajak-sajaknya, pun tidak lagi dia sedang mengepas-ngepaskan posisi kepenyairannya. Dia telah dapat tempat, tetapi sekaligus nyaman saja kemudian dia seakan-akan mengubah-ubah posisinya di situ. Baginya, yang penting adalah tempat yang khas dan tak akan pernah tergantikan, bukan sekadar posisi.

Buku ini adalah sebuah kerja menyair yang hanya bisa dilakukan oleh penyair yang punya sikap seperti saya sebutkan di atas dan sadar pula bahwa ia telah amat menguasai teknik-teknik menyair. Diksi Aan luar biasa kaya dan lincahlah dia memadu-padankan kata. Ironi-ironi dibangun dan ditabrakkan di sana-sini menghasilkan kejutan-kejutan, dan karena itu tidak membosankan.

Dan buku ini, dengan 21 sajak, ditulis dengan kesadaran sejak awal akan terangkai dengan satu tema, satu benang merah yang terbentang jelas yang kemudian dengan tepat ditandai sesuai judulnya: Cinta yang Marah. Ini juga sebuah tema yang unik, yang memungkinkan sajak-sajak ini diberi tafsir yang kaya.

Seakan hendak melengkapi kebaruan sajak-sajaknya, Aan dengan sadar memberi judul sajak-sajaknya dengan judul yang khas: panjang sekali, seakan-akan itu adalah sebuah bait sajak sendiri. Pasti ada penyair lain yang melakukan hal yang sama sebelumnya, tapi kelak, ketika saya menemukan sajak dengan judul berupa kalimat panjang, maka saya serta merta hanya akan teringat pada M Aan Mansyur dengan sajak-sajaknya di buku ini.

***

Saya ingin membuat kesimpulan terakhir. Buku ini istimewa karena ia lahir dari kerja menyair yang sungguh-sungguh. Si Penyair kita ini seperti menggarap sebuah proyek besar dan dengan sadar dan sungguh-sungguh menggarap dengan penuh tanggung-jawab. Ia tidak sekadar mengumpulkan ceceran-ceceran sajak yang ditulis bak kerja iseng bertahun-tahun dengan produktivitas amat rendah. Aan mula-mula menetapkan sebuah tujuan, lalu dengan pengalaman dan penguasaannya atas jurus-jurus puisi dia menuntaskan pekerjaannya itu. Hasilnya? Sebuah karya penting dan besar, tidak hanya untuk Aan, tapi untuk Sastra Indonesia!

* Hasan Aspahani adalah pegunjing puisi yang bertanggung jawab penuh atas pergunjingannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s