Tunggu di Tugu

Meskipun jalanan ke kampung sekarang
memiliki lekuk-kelok yang semakin tajam
juga jurang di sampingnya semakin curam
namun aku sering diserang rindu pulang.

(Aduhai, penyakit yang amat rentan kumat!)

Sebab setiap waktu aku ingin menemukannya
masih menjaga supaya tidak padam dan silam
kenangan seharum kuntum daun-daun salam
juga senyum wajah remajanya yang ranum.

*

Aku tunggu di simpang tiga, di samping tugu!

Semoga dia ingat seperti padaku masih hangat
sengat kalimat yang dia ucap-kecupkan sesaat
sebelum bus warna putih merpati itu berangkat.

*

“Terima kasih masih menunggu,” kataku menjabat
jemarinya yang dingin pucat menyerupai mayat.

“Maaf, sesungguhnya aku menunggu anak-anak
pulang dari sekolah,” katanya menyambut jabat
dengan sekulum senyum yang dibasahi air mata.

Sekarang dia sudah punya tiga anak rupanya.

Aku mendongak hendak menunda sedu dan melihat
kalimat di kepala tugu telah ditinggalkan biru cat.

Dulu kami selalu berencana memiliki sebuah keluarga
yang taat pada kalimat singkat itu: Dua Anak Cukup!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s