Surat Singkat buat Istriku yang Belum Terkirim


Maaf, Sayang, aku tak sempat pamit sebelum berangkat. Aku tahu kau selalu mengkhawatirkan aku. Aku baik-baik saja. Di amplop surat aku terakan alamat. Kirimlah rindumu ke sana. Aku lupa lagi membawa telepon. Kau tahu aku lelaki ceroboh dan pelupa.

Aku melampirkan surat wasiat. Kenapa aku tak pernah ingat untuk menyiapkan hal sepenting itu? Aku memang ceroboh dan pelupa. Kau tak perlu bersedih dan khawatir. Aku tak akan jatuh cinta dan menikah lagi di sini. Aku pasti setia menunggu kau. Beberapa hari sebelum datang, tolong, kau kirim kabar. Aku mau membuat penyambutan sederhana untukmu.

Begitulah surat dengan tulisan tangan paling indah itu. Amplopnya mengenakan warna kesukaan istriku–seperti warna dinding kamar tidur kami.

Namun ketika aku bertanya di mana alamat kantor pos, Malaikat Penjaga Kubur berkata, “Berkirim surat adalah sebuah pelanggaran berat!”

Aku masih menyimpan surat itu. Suatu saat jika ada seseorang yang pulang, dipulangkan, aku akan diam-diam menitipkannya.

Sungguh mati, aku sangat merindukan istriku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s