Satu Sajak Dimuat Suara Merdeka, 09/08/2009

Tiga Catatan yang Aku Tulis di Kotamu
dan Satu di Pesawat Perihal Catatanmu

–Diah Mashitah

/1/

Tentang Ketakutan-Ketakutan

Engkau ingat aku sangat penakut, bukan?
Mungkin itu satu sebabnya engkau pergi
agar aku bisa belajar untuk tidak takut lagi.

Lihatlah, telah aku kalahkan beberapa bentuk
ketakutan (pada tinggi langit dan cuaca buruk)
dengan menumpang pesawat menemui engkau.

Namun engkau tidak pernah tahu
alangkah banyak ketakutan yang menjajah
hidupku setelah engkau pergi, bukan?

Maka sekarang di sinilah aku, di kotamu,
beberapa hari saja ingin memberitahu itu—
juga hendak meminta pelukan dan nafasmu

Aku sungguh-sungguh butuh banyak pelukan
untuk tubuh aku yang sering diserang ketakutan
menghadapi diri yang setiap saat hanya sendiri

Mohon peluklah tubuhku! Peluklah! Peluklah
dengan seluruh pelukan yang dimiliki lenganmu!

Tubuhku akan membawa pelukanmu pulang
sebagai buah tangan dan penangkal ketakutan
pada kesendirian yang semakin serupa setan

Sementara nafasmu, biarkan aku hirup!
Biarkan aku penuhi rongga-rongga hidup
aku dengan sebagian nafasmu!

Sebab juga aku takut pelukan-pelukanmu
kelak akan amat erat mencekik tubuhku,
mencekik tubuhku hingga menjadi mayat

Dengan nafasmu aku masih punya kesempatan
hidup demi mengalahkan ketakutan-ketakutan lain
yang mungkin akan tumbuh tambah banyak dan kuat

Pelukkan, lingkarkanlah sepasang lenganmu ke tubuhku!
Hembuskan, infuskanlah selang nafasmu ke pembuluhku!

Hei, mengapa engkau semata menangis?
Adakah juga yang engkau takutkan, Sayang?

/2/

Tentang Sejumlah Tempat

Dengan menyewa taksi yang telah dihitamkan
kaca-kaca jendelanya engkau mengenalkan aku
lekuk liku kotamu yang ternyata pula tak sungguh
engkau kenal sejak waktu memisahkan tubuh kita

“Apakah kota ini atau tubuh ini yang telah berubah?”
tanyaku sambil memeluk tubuhmu yang tak berubah

Engkau tersenyum (senyummu juga tak berubah)
dan mengatakan aku sesungguhnya sudah tahu
jawabannya bahkan sebelum kata-kataku
menyusun diri mereka menjadi pertanyaan

Taksi yang sudah berusia tua dengan sopir
berusia muda tapi sudah menikah dua kali
sabar mengantar kita ke sejumlah tempat

Ke studio tempat engkau dua kali seminggu berlatih
menari, kantor pemerintah tempat engkau bekerja,
warnet tempat engkau menjemput kiriman pesan
dan rinduku, semua sekolah yang menghabiskan
waktumu sebelum bertemu aku, ruko tempat ayahmu
membuka salon, pesantren tempat ibumu mengajar
mengaji, pantai yang ombaknya senang memainkan
kedua tungkai kakimu, dan lapangan di mana engkau
sering mengajak dua adikmu tertawa mengiburmu
hingga magrib menyala, membakar selembar hari lagi

“Di warung itu,” katamu sambil menunjuk dengan dagu
sebab tanganmu membelit tubuhku, “aku selalu duduk
menghitung tanggal-tanggal yang tanggal tanpa kau.”

Aku mengajak engkau istirahat dan makan siang di situ
tetapi engkau bilang pelayannya tak gesit dan makanan
selalu memerlukan waktu terlalu lama untuk tiba di meja.

“Kita pesan makanan di hotel dan makan di kamar saja.
Aku tak suka menunggu,” katamu dengan amat manja

“Kembali ke hotel, Pak!” mintaku kepada sopir taksi
yang senyumnya mungkin sudah dua hari tak gosok gigi.

/3/

Tentang Sepasang Malam

Di tempat tidur, di pelukan lembut selimut
putih berhias gambar buah-buah stroberi
besar, di kamar hotel yang tak terlalu jauh
dari rumahmu, kamar hotel paling tinggi
yang mampu dijangkau lengan dompetku,
engkau membisikkan kalimat ini kepadaku:

“Kita memerlukan tiga hari, Sayang,
untuk menciptakan malam sepasang.”

Namun menjadi juga sepasang malam kita itu,
sepasang malam yang lahir selamat tapi cacat
dan amat kurang ajar mengatakan kepada kita
sesuatu yang terdengar sungguh menyakitkan:

Supaya bisa penuh mencintai seseorang
kalian mesti memasukkan separuh diri
ke dalam kolam dalam ketidakpercayaan,
agar kalian bisa belajar menahan bencana
kesementaraan yang membawa dua akibat:
kalian sepasang yang menjadi semakin kuat
atau kalian sepasang yang tidak lagi terikat.

Maka di pintu bandara dengan sepasang matamu
yang sembab dan sepasang mataku yang lembap,
kita terpaksa melepas sepasang malam itu ke langit
April yang entah mengapa masih saja selalu basah

Sebelum aku menyerahkan diri ke perut pesawat
engkau memelukku dan membisikkan satu kalimat
yang oleh sepasang telingaku terbaca sebagai doa

“Semoga sepasang malam yang telah kita lepaskan
akan rindu dan mau kembali menemui aku dan kau.”

Dengan menyeret langkah-langkah yang tertunduk
dan suara yang sepenuhnya telah dicemari kesedihan
tanpa putus-putus aku melafalkan kata amin dan aman

juga namamu

/4/

Tentang Kalimat-Kalimat di Pesawat

Pesawat telah mengambang di antara kotamu dan kotaku,
di antara udara dan cuaca jahat yang menjatuhkan hujan
dan aku duga sebentar menjatuhkan juga tubuh pesawat
yang tak henti berguncang seperti melewati jalan berbatu,
yang menampung tubuh aku dan tubuh penumpang lain

Lampu-lampu dipadamkan kecuali lampu tanda perintah
memasang sabuk pengaman, para pramugari yang semula
tampak cantik kini tak menarik perhatian lelaki manapun.

Sejumlah anak kecil menangis, orang-orang tua panik
dan berpegangan pada doa, pada lengan-lengan Tuhan.

Aku ketakutan dan menghabiskan semua sisa airmata
sebab sungguh tidak tahu harus berpegangan di mana.

Di mana lenganmu? Ulurkan kedua lenganmu, Sayang!

Tetapi sekarang engkau berada jauh di bawah sana menjaga
keseimbangan tubuh yang juga mungkin tiba-tiba limbung
sedang mencari lenganku untuk berpegang agar tidak jatuh.

Maka aku menyembunyikan kedua tangan dan ketakutanku
ke dalam saku jaket yang dangkal entah mencari apa di situ.

Aku menemukan kertas kecil yang berisi catatan tanganmu:

“Tidak ada alasan untuk takut lagi, kau pasti akan tiba
dengan selamat, sebab utuh tubuhmu tertinggal di sini
di tubuhku yang tabah menunggu selapang bandara.”

Selepas membaca catatanmu tiba-tiba terdengar
satu kalimat pemberitahuan dari pengeras suara
beberapa saat lagi pesawat akan mendarat.

Kendari, 19-20 April 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s