Sajakku di Kompas, 30/08/09

Sajak-Sajak yang Lahir dari Foto Jamie Baldridge

1

—Call to Journey

Sepasang belalai memanjang dari telingaku
selalu ingin mengecup semua yang kau ucap

agar kecupan melumpuhkan liar kata-katamu,
menjadikan mereka bangkai, lalu memasung
atau memasangnya di aneka ukuran bingkai.

Mengapa melulu kapal-kapal yang berlepasan
dari bibirmu yang tak menyerupai dermaga itu?

Tidak! Layar-layar tak akan membawa kata-katamu
ke pulau manapun selain ke sepasang mata tuaku
yang rabun (yang akan bertahan hingga habis tahun)

Mataku adalah laut yang akan menenggelamkan
tubuhmu dan bangkai kata-kata kelak mengganti
bunga-bunga yang ditaburkan siapapun yang masih
sudi tangannya dinodai warna coklatsepi kesedihan

2

—Dainty Phyletic

Gulung awan tak jauh di atas gelung rambutmu bak kelopak
bunga yang entah mengapa berwarna tanah dan menangis

dan menciptakan ombak dengan lidah terus berbiak banyak
juga mencipratkan putih buih yang nampak tak pernah habis

Itukah yang membuat sepasang rapuh tangkai tungkai tidak
mampu mempertahankan tabahmu yang semakin menipis?

Maka kaki-kaki lengkung payung yang tidak memiliki telapak
memilih hendak mempertuhankan tubuhmu, aduhai, Gadis!

Sementara aku dingin dinding kolam yang tak bisa bergerak
meski akan melihatmu perlahan ditelan air nyaris demi nyaris

3

—Martyrdom St Tilden

Langit-langit mulutku dan lidahmu yang merah
tidak akan berpisah jika lollipop sebesar planet

Sementara mengenang lagi lollipop dan lidahmu
sama saja berbungkuk melapangkan punggung
dan Waktu menancapkan anak-anak panahnya.

Sudahlah. Aku tahu rasa sakit itu lembar-lembar
alat bayar agar aku bisa melumat lidah kenangan.

Jika aku menyebut kalimat, “Tolong kau cabut!”
kepalaku akan disambut satu topi pertanda tolol—
runcing namun hanya mampu menusuk angin.

Sebab kau di planet mana gerangan sekarang?

Tapi aku memang tolol meski tak pernah meminta
tolong lagi padamu. Sebab tak akan aku bendung
ingatan tentang lollipop dan lidahmu yang manis
yang di punggungku kini berubah jadi rasa sakit.

Sayang dinding terkelupas mengatakan kepadaku
Waktu ternyata punya usia, ternyata memiliki mati.

Kenangan betapa panjang sementara masa depan
sungguh-sungguh hanya seukuran juluran lidahmu.

Biar, biarlah lollipop sebesar planet itu terus menjilat
merah ingatan dan punggungku dipenuhi anak panah
hingga mayat Waktu dikubur dan aku tak mengingat

apa-apa lagi kecuali rasa sakit yang susah dicabut

4

—Chaos Counter

Kau hanya tertarik kepada bayangan yang dilekuk
lantai dan dinding, bayangan yang mau menjangkau
sepasang pigura berisi tubuh yang dilepaskan baju

Sebab kau selalu berpikir begitulah masa silam, tajam
serupa capit seekor kepiting raksasa yang bisa datang
darimana dan kapan saja; siang hari atau malam haru

Sementara gambar-gambar lainnya sekadar hambar
masa sekarang; setumpuk telur yang tak berisi apa,
lelaki yang terlalu rapi untuk sebuah ruang lengang,
atau meja yang telah berubah menjadi irigasi aneh
mengalirkan telur-telur kosong dan tak akan pecah

Kau hanya terpantik nyala bayangan yang ditekuk,
tak bisa menjangkau sepasang aku yang telanjang
yang pucat mayat membuat pigura serupa kubur
kaca, tembus pandang seperti akuarium yang tipis

di situ aku, masa lalu, jadi hantu—kau tak bisa kabur!

5

—Vox Dei, Third Movement

Rambutmu yang harum mengenakan bando biru-haru
dan tubuhmu lebih putih dari gaun yang membalutnya

Di hadapan alat pemutar musik tarianmu habis gerak
dan burung-burung beterbangan dari lagu yang murung

Semata lantai bermotif lapangan catur yang paham
mengapa kesunyian tiba-tiba lahir dari keriuhan itu

Adakah telah berdatangan masa lampau di pagi hari
yang berwarna matahari senja atau lampu yang rabun?

Musik tak hendak berhenti bahkan saat engkau bergerak
hendak menangkap sunyi yang mengendap keluar jendela.

Aku tak sedang berada di situ saat itu, hanya masa lampau.

6

—On Reading Ovid

Tubuhmu telanjang tetapi berada di luar peti mati
yang mengangkut pikiran-pikiranmu yang mayat

(Akan ada banyak mitos yang turut dimakamkan)

Dari langit-langit ruangan neon jatuh dan menimpa
kepalamu namun sungguh tak ada cahaya yang pecah

Seperti dua payudaramu yang mencintai anak-anak
yang entah di mana bisa kau temukan bibir tangisnya

Tubuhmu telanjang tetapi berada di luar peti mati
yang mengangkut pulakah kenangan tentang aku?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s