Matihari

Matahari sedih engkau berubah jadi rumah
yang tak ada siapa-siapa lagi menghuninya.

Setiap kali melintas ia selalu saja menoleh
dan bercermin di sepasang kaca jendelamu
yang memantulkan semakin senja wajahnya.

Mau sekali ia melihat lagi wajahnya malu
memerah seperti mata dadu, seperti dulu
saat engkau tersenyum mengajak mampir
sekadar minum hangat teh madu secangkir.

Setiap hari ia masih melintas di hadapanmu
meski engkau tidak juga mau menyapanya.
Ia masih menoleh pada sepasang jendelamu,
matamu yang telah mati, di mana wajahnya
semakin lamur, lebur menjadi bayang-bayang.

Ia berjanji tidak putus melintas dan menoleh
juga menunggu engkau memanggil namanya.
Ia tidak pernah takut melewati jutaan malam
demi tiba sekali dan sekali lagi di hadapanmu.

Ia tak akan lelah melelehkan hangat cintanya
yang benar belajar pada secangkir teh madu
dan senyummu bahkan suatu waktu di jalan,
di hutan malam, ada yang tega membunuhnya

—dan akan datang kepadamu hanya kehilangan
juga yang orang-orang menamainya Matihari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s