Jantung Angin

Bibir-bibir pasi puisi ini cuma mampu
mengecup jantung angin, atau mimpi.
Angin yang menggantung di sana-sini itu
tak berisi sesiapa lagi, bersih seperti sepi.

Dari dalam kerongkongan puisiku ini
yang bisa menyapa hanya kenangan
dan angan-angan—telah luruh seluruh
kata yang bisa membuat angin berkesiuh.

O, jantung angin, jantung angin yang hampa
detakkanlah hampir matiku seperti dulu saat
engkau masih mahir mengubah daun-daun tua
menjadi hutan-hutan hijau yang berbuah lebat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s