Enam Alasan Mengapa Aku…

Enam Alasan Mengapa Aku Tidak Mau
Meninggalkan Kamar di Hari Cerah Ini


Sebab kau dulu mengajari aku memikirkan
beberapa alasan untuk setiap hal yang akan
aku lakukan.

1.

Dengan menelusuri halaman novel grafis,
aku mampu menjangkau cita-citaku:
menjadi seorang bandit berkulit gelap
dengan rambut kacau, membawa senjata
ke mana-mana dan menembaki setiap orang
yang aku curigai ingin mencelakai hidupmu,

hidup di mana menumpang juga hidupku
dan harusnya menampung hidup sejumlah
anak kita.

2.

Naik turun tangga selalu membuat aku
merasa sebagai orang paling plin-plan
yang pernah hadir. Dan aku tak bisa menghindar
dari mengira bilah-bilah pagar besi sebagai baling-balingku
yang berhenti berputar, sudah pensiun dan tak mampu
lagi membawa mimpi-mimpiku terbang ke mana-mana

—ke tempat pelarian menyembunyikanmu, misalnya.

3.

Berada di dalam kamar dengan jendela
dan pintu tertutup penuh adalah menjadi rahasia
bagi orang lain. Ayo tebak, pakai baju apa aku hari ini!
Baju merah atau hijau? Baju ungu atau biru?
Sudah lama aku tak hidup dengan rahasia.
Di luar rumah, semua orang terlalu pintar
untuk sekadar menebak keinginan orang lain.

Mulai hari ini aku mau belajar hidup
dengan memelihara satu atau dua rahasia.

4.

Aku tak perlu terusik oleh air mata dan tahi mata
yang mengaburkan pandanganku pada sesuatu.
Tak ada seorang pun yang akan mengizinkan aku
menikmati kegilaan-kegilaan masa kanakku.
Aku tak dibolehkan mengumpulkan air mata
dan tahi mata lalu membentuknya jadi bola seukuran telur,
sebagai perumpamaan gumpalan waktu yang pernah kumiliki
dan memajangnya di lemari. Tak ada orang yang membiarkan
aku jadi lelucon seperti tren busana yang tercetak dan terjebak
di majalah dan koran tua. Sementara sesekali aku sangat rindu

mencampur kesedihanku dengan sedikit saja tawar tawa.

5.

Rumah tangga dalam kardus berisi tiga ekor kucing
di bawah kolong tempat tidurku adalah rumah tangga
paling bahagia yang dimiliki kota ini. Sebuah keluarga
yang pernah tercatat dalam mimpi kita, lalu pelan-pelan
harus aku hapus. Sepasang suami istri dan satu anaknya
—tak penting laki atau perempuan sebab tuhan sepatutnya
dilibatkan juga dalam persoalan-persoalan semacam itu.

6.

Aku ingin bermain-main dengan seekor capung
yang terjebak di jendela, capung kuning kenangan
yang aku lihat saat bangun pagi tadi. Aku ingin mengajarnya
bicara lalu mengajaknya berbincang rupa-rupa perihal.
Aku ingin merawatnya, mencintainya dan memanggilnya

dengan namamu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s