3 Sajakku di Koran Tempo, 27 September 2009

Sajak-Sajak M Aan Mansyur

Menghadapi Meja Makan Malam

bukankah lucu sekali
mengapa baru malam ini
aku dan kau menyadari

telah bertahun-tahun meja makan
alangkah lapang memisahkan

dan semua yang menghampar
di atasnya tak menyingkat jarak
atau sekat antara aku dan kau

maka tangkup para mangkuk
hanya berisi daun-daun layu
warnanya semata hijau mati
tak punya cahaya seperti mata
sepasang milik kau yang dulu itu

para piring pura-pura merah
oleh bawang, wortel, tomat, cabai
atau cinta yang sesekali memantul
dari percakapan antara aku dan kau
tentang diri orang-orang lain

nasi sudah pula lupa warna putih
yang harusnya membuat lapar patah
atau jatuh ke dalam entah

air di dalam gelas yang tinggi
seperti sumur selalu menunggu
tenggorokan aku dan kau jadi sungai,
tangga yang akan mengembalikannya
ke langit ke tubuh awan yang gemuk

buah-buahan ingin segera membusuk
berulat dan kembali ke ranting-ranting
atau merindukan pisau pembawa tusuk
agar tak tersiksa berlama-lama terasing
di tengah-tengah basi bisu aku dan kau

batang-batang lilin sudah menghendaki
pensiun dan dimasukkan saja ke laci
atau berharap di dalam rumah ini
tak pernah ada sebatang korek api

warna apa lagi yang belum mencoba
diri jadi kain taplak agar sempit tampak
ini meja makan, agar tak mampu ditampik
percakapan yang malah bertumpuk-tumpuk
seperti lemak di tubuh aku dan kau

bukankah sedih sekali
mengapa baru malam ini
aku dan kau menyadari

suap tangan aku tak mampu
menjangkau siap mulut kau

atau sebaliknya

Soneta tentang Kau yang Cabai Merah

jika bisa biji-biji saja aku di dalam tubuh kau yang cabai
cabai merah lebih api yang darah aku tak mampu capai
lebih merah yang merah lidah aku tidak sanggup gapai
lebih merah dari hati aku yang kepada kau tak sampai

atau merah-nyalakanlah hidup aku yang selalu redup
atau merah-semukanlah malu aku yang tak mau cukup
tancapkan lancip ujung kau agar dada aku bisa kuncup
dan luka-luka aku cuma kepada bibir kau akan mengecup

dan kecup juga bibir aku yang tak seberapa tahu mengecap
agar sedikit merah dan kepada nama kau aku fasih mengucap

cuma kau cabai merah, o, cabai yang teramat rindu aku lumat
maka merah-pedaskan nasi aku yang hanya punya buah tomat
atau merah-sambalkan nasib celaka aku yang tidak mau tamat
agar utuhlah kisah aku mengalur di kalimat kau hingga kiamat

Soneta yang Tidak Mampu Kelar

sebab kesenyapan besar bunyi yang cuma desir
lewat bisikan orang dari jauh lagu itu aku dengar

syair lagu itu memang amat mencintai banyak bibir
sehingga tak ada yang tahu dari bibir siapa ia lahir
namun aku tak mungkin salah: bibir kau paling mahir
menyanyikannya sebagai mantra-mantra penyihir

petikan gitar yang mengiringinya cacat bergetar
namun justru itu membuat aku semakin berdebar
menerima semua kenangan yang semula samar-samar
yang bertambah hingar saat lagu itu habis terdengar

kau tiba-tiba mekar menjadi belukar tidak berpinggir
di tengah-tengahnya aku kesasar tak tahu jalan keluar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s