Cinta yang Marah

Catatan Pembacaan Seorang Kawan:
Sebuah Kado Buat Indonesia Berisi Dua Puluh Satu Sajak Cinta yang Marah

Nurhady Sirimorok

1

M Aan Mansyur adalah sumur cinta, kepada hidup, buku-buku, kawan-kawan, dan tentu kekasih-kekasih yang bergantian meninggalkannya. Demikianlah saya mengenalnya sejak tahun pertama masa kuliahnya, 1998.

Di tahun itu limpahan bacaan mulai berdatangan ke Makassar. Karya-karya dalam maupun luar negeri dengan cepat tersedia di toko-toko buku dalam jumlah yang belum pernah dibayangkan beberapa tahun sebelumnya. Aan melahapnya. Dia terutama sangat menikmati sastra dan filsafat. Rambutnya pun dia biarkan memanjang melewati bahu.

Di awal dekade milenium ke tiga dia sering mengungkap kekaguman pada Mimpi-Mimpi Einstein, Sophie’s World, Titik Balik Peradaban, Celestine Prophecies, Sang Alkhemis dan buku-buku sejenis. Sebuah lanskap baru yang dihamparkan oleh New Science. Relatifitas budaya, kritik atas modernisme, pencarian solusi selain nalar rasional, sedang mengiringi tumbangnya rezim yang sangat birokratis. Informalitas sedang mendapatkan tempat. Bagi mahasiswa yang ‘membaca’, diskusi di bawah pohon menjadi lebih diminati ketimbang kelas-kelas formal. Aan pun menerima ajakan kawan-kawan dekatnya untuk membuat sebuah pondok tempat keluar dari dunia yang mengitari mereka. “Kau tak bisa melihat gunung bila kau duduk di atasnya.” Di sana mereka juga mengajak lebih banyak mahasiswa dari berbagai kampus di Makassar untuk mencintai bacaan. Pondok itu bernama Komunitas Ininnawa.

Setelah itu, dia terus berupaya mengajak dan menemani lebih banyak orang membaca. Di awal 2000, misalnya, Aan terlihat bergaul dengan sekelompok mahasiswa Fakultas Sastra yang gemar membaca dan berdiskusi. Di sana mereka membaca terutama sastra, filsafat, sejarah dan kajian kritis. Saat itu dia mulai berseliweran di kampus mengenakan jins belel, oblong, tas kain di pundak kanan dan sandal jepit. Aan juga aktif membantu komunitas serupa dalam berbagai forum diskusi yang saat itu memang menjamur di kampus-kampus di Makassar.

Tak pelak, dia tumbuh menjadi pembaca dan pengamat yang serius. Perkenalannya dengan kajian-kajian kritis, selain sastra dan filsafat, membuat dia mulai malas masuk kelas dan lebih memilih membaca dan diskusi. Kadang dia diusir dengan keras dari dalam kelas karena memprotes tindakan dosen, atau kadang dosennya menolak masuk bila dia ada di sana. Tapi itu tak menghentikannya. Dia melanjutkan kuliah. Hingga tuntas.

Aan, menulis skripsi yang saya kira cukup langka untuk mahasiswa kebanyakan. Sebagai mahasiswa Sastra Inggris Universitas Hasanuddin, dia mengulas proses dehumanisasi, penyeragaman manusia, yang berlangsung dalam novel Aldous Huxley, Brave New World. Foucault adalah pemikir yang dia pilih menuntunnya membedah novel itu. Untuk itu saya sering melihatnya membuka-buka Power/Knowledge, dan literatur berkaitan yang seluruhnya berbahasa Inggris.

Dari sana dia antara lain membaca bahwa keteraturan hanya mungkin terjadi bila ada kontrol yang kuat. Karena untuk itulah salah satu hal yang mutlak dilakukan: buku sejarah dan sastra harus diberangus. Karena itu, John Savage, salah seorang tokoh utama novel itu, adalah orang berbahaya, sebab dia pembaca sejarah dan sastra yang akut. Tak berbeda dengan yang dilakukan Aan.

Aan pernah bilang, “Dari novel Huxley ini saya belajar bahwa sejarah dan sastra adalah dua bacaan yang berbahaya bagi dunia yang menginginkan keteraturan dan keseragaman.” Dunia itu adalah modernitas yang diusung pedagang dan pemilik pabrik yang haus pembeli, pekerja dan bahan baku murah, yang meniupkan nafasnya ke sistem pemerintahan yang haus kuasa. Sebagaimana dijelaskan panjang lebar oleh Foucault dan diramal Weber dan Marx.

Tema ini belakangan banyak muncul dalam dua kumpulan sajaknya, termasuk kumpulan ini.

Semua kelompok itu belum cukup bagi Aan. Dia selalu menyimpan obsesi. Dia ingin punya ruang baca sendiri, untuk dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Dia tak puas dengan forum diskusi saja, atau perpustakaan saja. Dia ingin keduanya digabung bersama langkah kampanye baca yang tengah dia usung bersama sekelompok kawan. Maka, Mei 2004, bersama kekasih dan sejumlah kawan dekatnya, Aan meresmikan Biblioholic, yang menjadi kafe baca pertama di kota Makassar.

Belakangan dia banyak membantu komunitas-komunitas lain yang juga membuat tempat serupa—meski kemudian tak banyak yang bisa bertahan.

Koleksi Biblioholic terus membengkak oleh hadiah dan pembelian. Buku dari luar negeri pun terus berdatangan dari sumbangan kawan-kawannya dari berbagai negara. Bacaan yang luas itu memungkinkan dia merambah begitu jauh dunia sastra. Di samping novel, cerpen, esai, ilmiah popular yang dibacanya dengan rajin, Aan juga membaca Rimbaud, Rilke, Yeats, Carl Ginsburg, Keats, Robert Frost, Allen Ginsberg, Pablo Neruda, hamparan Haiku dan sejumlah nama lainnya. Tentu dia juga memamah karya-karya Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damon, Sutardji Calzum Bachri, WS Rendra, Afrizal Malna, Wiji Thukul, Aslan Abidin, hingga Hasan Asphani dan penyair-penyair lebih muda. Dia memamah juga transkripsi beragam elong [lirik-lagu] rakyat Bugis dan tentu saja La Galigo. Semua bahan ini memungkinkan dia membandingkan karya-karya dunia sajak dari keping-keping peradaban yang tumbuh dan mati di berbagai tempat.

Lebih luas lagi, Aan membandingkannya dengan bentuk ekspresi tulis lain, dan lebih luas lagi, dengan bentuk ekspresi non-tulis, yang membuat dia bergaul dengan pemusik, perupa, peneliti, tukang becak, penderita kusta, dan seterusnya.

“Saya tidak pernah mengerti kenapa penulis harus menganggap dirinya spesial.” Begitu saya sering dengar dari Aan.

Sejak mulai berkarya, dia menulis apa saja. Sajak, cerpen, novel, esei, semua dirambahnya. Lambat laun ia menjadi salah satu penulis yang dikenal di Makassar. Ini membuat dia bisa bertemu banyak anak-anak muda yang mengajaknya diskusi tentang dunia baca dan tulis, utamanya puisi.

Hingga saat itu dia banyak menulis sajak cinta, bergenre liris, mengikuti antara lain jejak Sapardi Djoko Damono yang disukainya. Kumpulan puisi pertamanya, Hujan Rintih-Rintih (2005) dan novel pertamanya, Perempuan, Rumah Kenangan (2007), sangat kental oleh warna ini.

Namun Aan juga tumbuh sebagai mahasiswa yang menonton amarah berarak di depannya. Sebagai mahasiswa baru, Aan menyaksikan gelombang reformasi mengalir dari Jakarta menuju kota-kota lain di Indonesia. Berbagai peristiwa kekerasan oleh negara, langsung atau tidak, sedang menjadi santapan harian. Orang-orang berdemonstrasi adalah pemandangan harian, secara aktual maupun virtual.

Tahun 1998, ketika Aan menginjakkan kaki di perguruan tinggi, adalah zaman bergerak. Selebaran-selebaran merebak, surat kabar dan majalah baru menjamur, mereka semua bicara garang dan lugas. Koran-koran kampus tentu tak ketinggalan. Televisi terus menayangkan perkembangan terbaru kondisi politik yang baru saja mengalami guncangan. Mereka sepertinya sedang bicara tentang sebuah era baru, yang mereka namai era reformasi.

Saat itu secara psikologis terbuka dunia baru. Kampus-kampus diisi semangat baru. Orang-orang yang sebelumnya tidak sadar sedang mengalami represi, jadi tahu ada Lucifer sedang menguasai batok kepala dan tindak-tanduk mereka. Mereka yang sadar akan penindasan itu jadi percaya perubahan itu mungkin terjadi. Benteng yang sebelumnya begitu kokoh seakan tidak akan pernah punah, sudah roboh. Di tempat umum manapun orang bisa menghujat mereka yang dulu sangat ditakuti. Bisa mengolok-olok institusi yang dulu begitu sakral, sembari mulai mencerap gagasan-gagasan baru yang dulu tak pernah bisa singgah di negeri ini.

Dari Makassar Aan juga menyaksikan satu per satu elemen yang tadinya dijanjikan reformasi berjatuhan satu per satu. Desentralisasi, pemilu bebas multipartai, kebebasan pers, gerakan masyarakat sipil, gagal memenuhi janji-janji yang didengungkannya. Semuanya menjelma proyek bantuan—seolah bukan utang—yang segera dicengkeram penguasa dan pengusaha lokal. Kota ini dimabuk ‘proyek’ yang dibawa macam-macam lembaga donor besar atau elit-elit politik ‘pusat’, yang tiba-tiba datang menyerbu segera setelah jatuhnya rezim Orde Baru. Orang-orang yang dikenal Aan banyak terlibat di dalamnya.

Aan juga melihat orang-orang diserang demam menjadi pedagang. Kota ini menjelma menjadi kota ruko (rumah toko). Jumlah mall menjadi berlebih sehingga beberapa di antaranya harus jatuh sekarat. Aan juga menyaksikan antrian panjang anak-anak muda mendaftar sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil dan kontes-kontes Idol besutan televisi. Ia melihat jalur hidup kawan-kawannya semakin menyempit oleh gaya berpikir seragam. Menjadi kelas menengah urban. Fenomena ini mengubah tema sajak-sajaknya. Dalam salah satu sajaknya dia berteriak:

Kota menikah dengan orang asing lalu lahir
anak-anak yang setengah mati pandir dan kikir.
Dia mendirikan banyak bangunan tanpa pikir,
mall, hotel, bioskop, restoran dan lahan parkir

Dia juga melihat amarah yang berasal dari sejarah panjang represi Orde Baru ditenteng ke mana-mana. Demonstrasi mahasiswa Makassar yang menggotong-gotong dendam kematian atau amarah palsu yang dikirim entah oleh elit siapa dari Jakarta, dan perkelahian mahasiswa Makassar yang alasan membesarnya tak pernah diungkap dengan jelas.

Di luar kampus, dengan sedikit sulutan saja, seorang pemuda yang lebih layak disebut ‘Orang Gila’ yang membunuh anak kecil, disulap menjadi ‘Orang Cina’ oleh media lokal, segera menyulut amarah yang membakar toko-toko. Tentu kita bisa membayangkan pedagang lain (yang merasa berhak menyandang gelar pribumi) bersorak karena lawan dagangnya lantak. Aan juga menyaksikan gereja-gereja yang sudah berdiri lama dibakar anak-anak muda, sesuatu yang tidak pernah dilakukan leluhur mereka. Menyaksikan kawan-kawan nasraninya ketakutan kena razia, sesuatu yang belum pernah terjadi di masa kakek dan ayah mereka.

Di sini ajaran sekolah Orde Baru menunjukkan hasilnya. Anak-anak muda itu telah diajari bahwa hanya ada satu jawaban benar untuk setiap soal, seperti terlihat dalam ujian pilihan ganda. Juga diajar bahwa jawaban ‘salah’ itu harus diberangus dengan kekuatan fisik, seperti yang dilakukan tentara di masa Orde Baru. Aan kelak menamai orang-orang semacam ini sebagai ‘Orang Berkepala Pendek yang Senang Besar Kepala.’

Dari Makassar Aan juga menyaksikan betapa seluruh gegap gempita ini semakin disempitkan oleh media. Anak-anak didik Orde Baru ini—yang banyak berkiblat ke pedagang dari negeri Paman Obama—telah menciptakan, “Televisi atau Koran” yang “punya kekuatan mencopot kepala dan dada pembaca dan penonton.” Terbentuklah monumen, ikon, pahlawan. Orang-orang yang dikuasai cara berpikir reduktif ini membutuhkan tokoh untuk dijadikan idol, media butuh perwakilan massa mahasiswa untuk diwawancarai, penulis buku butuh sosok untuk ‘diangkat’.

Aan gerah dengan kondisi ini sembari terus menulis. Sajak, cerpen, novel dan eseinya terus mengalir. Akhir-akhir ini dia juga membuat film dokumenter. Dia memang terlihat semakin subur berkarya dan senang karena Biblioholic semakin ramai dikunjungi orang. Tapi saya baru tahu dia menyimpan gelegak amarah dan cinta sekaligus untuk sesuatu yang jauh lebih serius ketika membaca serangkaian sajak ini.

2

Baru di sajak ke sembilanbelas saya betul-betul yakin Aan telah mengerjakan sebuah proyek yang sangat serius. Di samping judul sajaknya yang panjang-panjang, dia sedang menjalin narasi. Sajak-sajak dalam Cinta yang Marah ini adalah sebuah sekuel. Sebuah cerita bersambung yang disusun secara kronologis. Dimulai dengan Aku yang menuturkan kejadian di masa lalu pada masa lalu—kadang tentang harapan di masa depan. Kemudian melompat ke masa sekarang sembari menuturkan kenangan masa lalu bersama Kau, dan janji-janji masa depan bersamanya.

Lalu tentang apakah sekuel ini? Sebelum menjawab ini—menurut versi saya—perlu ditekankan bahwa, pertama, sebagai rangkaian sajak tentu ada banyak cara untuk mendekatinya. Dengan demikian, model pembacaan saya hanya salah satu dari sekian banyak kemungkinan. Dan dengan begitu, kedua, paparan ini hanya berupa ulasan sangat terbatas terhadap begitu banyak aspek dari sajak-sajak Aan. Mengerjakan biografi super-ringkas perkembangan intelektual Aan di atas, misalnya, secara sangat sadar saya mereduksi dan menyeleksi, sebelum menyusun kembali, kisah hidup orang yang saya kenal dekat satu dekade terakhir. Sebagian dituntun cara baca saya, juga oleh keterbatasan waktu, dan sebagian lagi oleh apa yang ia bangun: sebuah narasi.

Menurut saya, Aan telah membangun sebuah narasi versinya mengenai apa yang banyak dikenal orang Indonesia sebagai ‘kebangkitan nasional’ dan ‘reformasi’. Terutama tentang manusia-manusia apa yang berseliweran di dalam ruang dan waktu ketika negeri ini dibayangkan sedang atau telah mengalami reformasi.

Membaca kumpulan sajak ini sebagai dokumen politis narasinya melawan kerja media massa main stream—terutama yang berbasis Jakarta—yang cuma mengelus-elus tokoh-tokoh antagonis dan protagonis ‘reformasi’ di ‘pusat’. Aan tak tenggelam dalam debat apakah Soeharto harus dimaafkan atau tidak, apakah Rama Pratama atau Budiman Sujatmiko mesti dicap pahlawan atau pengkhianat, dan orang-orang hilang sudah mati atau belum. Berdiri di luar Jakarta dan media yang mengirim kabar dari sana, dia menerobos ke dalam sukma debat tersebut. Bahwa di masa reformasi atau transisi, di manapun, selalu menyembul harapan akan hidup yang lebih baik, surga yang menunggu dipersembahkan oleh para Ratu Adil. Sementara mereka yang masih ditindas oleh tiran yang berganti-ganti ujud, hanya menjadi batu-pasir-semen anonim yang menopang para pahlawan.

Bagai seorang penulis kronik dia membuat sekuel, yang mirip catatan harian, tentang apa yang dialami Aku sejak masa reformasi hingga sekarang.

Dalam kumpulan sajak ini sang Aku adalah orang-orang dari masa sekarang yang menghadapi hidup yang semakin memberat, mencemaskan dan memuakkan. Sembari mengenang kekasihnya, Kau—semangat dari masa lalu yang pernah menjanjikan hidup lebih baik, namun tak pernah terjadi sebab Kau telah meninggal. Dan itu berlangsung lama, hingga setelah “…Sebelas Tahun Kematian Kau.”

Sang Aku mesti menghadapi semua janji yang tak kesampaian itu seorang diri. Di banyak sajak Aku mencurahkan kekesalan, berkeluh kesah, kepada kekasihnya yang telah lama mati, sekaligus menggambarkan betapa besar cintanya kepada [janji] kekasih meski di tengah belitan kondisi yang semakin sulit.

ingin sekali aku membisikkan mimpi ke bibir kau, agar kau juga bisa mengeluh tentang mall yang semakin banyak dan harga-harga yang membengkak, tentang jalan-jalan yang dibangun untuk mesin cuma, tentang tayangan hiburan tivi yang menyengsarakan. agar kau tahu betapa susah terus bertahan mencintai seseorang di tengah semua itu.

Aku juga menjadikan Kau penyemangat agar sanggup menghadapi kerasnya masa sekarang yang secara fisik siap melenyapkan seluruh kenangan masa lalu mereka. Masa yang sungguh brutal antara lain dengan banjirnya:

aku tak peduli! aku ingin mengangankan kau bangun dari dalam tubuh aku menemani aku sarapan lalu menyemangati aku menggali selokan di halaman agar airmata tak menggenangi lantai rumah, agar kasur tidak berenang-renang, tempat aku mengenang seluruh malam dan peluk aku dan kau.

Masa sekarang selalu digambarkan oleh Aku sebagai masa yang berat. Masa kini bukan cuma masa ketika alam menjadi tak ramah, seperti banjir pada kutipan di atas, tetapi masa berat bagi mereka yang tak berduit (bukankah yang paling rentan kena banjir adalah mereka?). Masa yang dihuni banyak orang yang “Belum Makan Seharian seperti Buruh yang Dililit Kredit Sehingga Terlalu Lemah untuk Tumbuh Menjadi Puisi.” Masa yang setiap hari orang dijejali kabar buruk oleh media, “aku berbaring di atas halaman koran yang dipenuhi kabar kenaikan harga, perceraian dan perselingkuhan artis, pembunuhan dan korupsi.”

Masa yang saking kerasnya orang-orang menjadi pemuja mimpi, yang disokong teknologi yang membuat manusia jadi malas berpikir. Berjumpa kesulitan aktual maupun virtual dengan mudah orang mencari pelarian ke dunia hiburan, aktual namun lebih banyak virtual. Mereka setiap saat “…Memencet-Mencet Tombol Mimpi (Meminjam Istilah Kau untuk Remote Televisi) dan Memindahkan Ruang Tengah dari Satu Kota Marah ke Kota Lain yang Parah Mencari Kota Ramah yang Tersisa.” Dunia aktual orang kota pun semakin menyempit.

Seperti lampu sorot yang mengecilkan ruang yang diteranginya, lapangan gelap yang semakin meluas dianggap tak pantas untuk dilihat. Orang kota lalu menista yang tak mereka ketahui. Mereka misalnya lebih melecehkan kepercayaan warga—yang mujarab—menyembuhkan penyakit atau hidup tanpa ijazah. Sesuatu yang dilawan Aan sekaligus dalam satu sajak:

aku tak peduli! memang sepiring bubur otak menyerupai lembar-lembar diktat kuliah atau ijazah terendam banjir. telah siap dua cangkir batu celup: secangkir untuk aku, secangkir untuk kau, mari bersulang, sayang!

Masa ini juga mencipta gempita pemilu yang menerbitkan kekecewaan sekaligus komedi. Pemilu yang konon diimpikan banyak orang, malah dilaknat oleh orang banyak itu, seperti Aku yang tak sudi menodai cinta kekasihnya dengan menjadi kontestan pemilu—Aku percaya Kau tak suka bila Aku menjadi calon partai.

dan kau tak perlu khawatir, aku tak akan pernah berpikir membayar salah satu partai agar gambar wajah aku bisa dipasang di pinggir-pinggir jalan membuat sebagian orang tertawa dan sebagian lagi kecewa kemudian membuangnya ke kotak suara. sebab aku tak mau menyiksa tulang-tulang kau di dalam daging aku. sebab aku tak mau memuntahkan jantung kau yang tambah tumbuh dari tubuh aku

Masa kini pun dipenuhi amarah orang-orang yang seharusnya menjadi penjaga rasa damai, “pengkhutbah yang suka marah dan punya anak kembar bernama haram dan halal.” (Aan dengan cermat menempatkan kata ‘haram’ lebih dulu sebelum ‘halal’). Dalam satu sajak dia secara khusus menyorot formalisasi agama lewat fatwa-fatwa MUI, yang kini kerap menuai resistensi, sebagian dianggap karena terlalu banyak mencampuri urusan pribadi ummat.

menurutmu, apakah akan lahir sebuah fatwa haram mencitai seseorang jika aku dan kau dikuburkan saling berpelukan dalam sebuah kafan?

Lalu Aan dengan cerdik menunjukkan kegagalan formalisasi ini dengan menunjukkan kontras dari kondisi aktual di mana orang semakin tidak religius. “Gereja yang Berisi Kursi-Kursi Kosong dan Gaung Doa” Memang Aan hanya menggambarkan kondisi gereja, tapi itu bisa membawa kita merefleksikan keadaan rumah-rumah ibadah lain.

Bagi Aku, masa kini adalah kebalikan dari seluruh janji-janji Kau di masa lalu. Masa kini malah lebih buruk dari masa lalu. Namun janji-janji itu masih terus mendengung.

Aan berpanjang-panjang di nyaris separuh awal kumpulan sajak ini mengenang masa lalu. Masa lalu yang romantis, tatkala Aku dan Kau masih bersama. Mereka masih menikmati “ciuman yang aku dan kau curi di toilet mesjid, sebuah es krim yang aku dan kau jilat bergantian…” Dihiasi perayaan ulang tahun bersama, kunjungan-kunjungan ke perpustakaan, bincang-bincang akrab di balkon belakang, dan susunan rencana-rencana masa depan.

Pun, ada rencana perpisahan yang gagal oleh hujan, “membuat kau batal meninggalkan kamar, membuat kau gagal meninggalkan aku.” Dibumbui adegan wajah saling mendekat sembari pelan-pelan membuka kacamata, saling memasangkan sandal, hingga adegan percintaan di ruang tengah dengan Kau berbaring di atas tubuh telanjang Aku.

Namun masa lalu juga dihantui ketakutan akan perpisahan, yang bila itu terjadi Aku sejak awal telah menyusun rencana. “Sunguh-sunguh, seluruh sisa usia yang aku punya habis buat menyatakan mimpi masa kecil aku: pemain biola, perancang busana dan penulis obituari.” Seluruhnya untuk mengiringi kematian Kau. Di Sajak ke lima Aku bahkan bergumam, “Jika Betul Kau Mati Dua Bulan Lagi…” Sajak ke enam, “Beberapa Hari Sebelum Kau Pergi..”

Dengan dua sajak, tujuh dan delapan, yang berkisah tentang mereka yang nyaris berpisah, disusul adegan mesra saling mendekat dan menatap rapat, maka berakhirlah catatan real time dari masa lalu.

Sejak sajak ke sembilan sang penutur, Aku, berpindah ke masa kini, dan mulai merefleksikan kejadian yang sudah lewat. Ini menunjukkan bahwa perpisahan Aku dan Kau menandai berakhirnya sebuah masa bagi si Aku. Masa indah telah lewat. Dengan berpindahnya masa penuturan, masa-kini-yang-indah di masa lalu, telah berpindah ke masa-kini-yang-keras. Masa-kini-yang-indah (di masa lalu) sekarang cuma menjadi kenangan akan janji-janji. Masa kini, di mana Aku bertutur sejak sajak ke sembilan hingga sajak terakhir, penuh dengan berbagai soal, berbagai janji, berbagai rencana, berbagai cita-cita.

Di Sajak ke sembilan Aku mulai mengenang haru perpisahan di gereja.

kau memasang sandal kau di kaki aku dan memasang sepatu aku di kaki kau. dengan mengenakan sepasang sepatu yang longgar kau berbalik dan pergi tanpa ada kata-kata di bibir, juga di mata. hanya kuyup di baju kau yang di mata aku berubah warna dan doa-doa keluar dari gereja memenuhi telinga aku

(sementara sandal kau yang sempit di kaki aku, seperti genggaman yang tak hendak lepas)

Satu lagi yang mesti diperhatikan, masa lalu Aku tidak hanya diisi kisah cinta dan ketakutan akan kehilangan Kau. Dia juga berbaur soal-soal politik-ekonomi yang diungkap secara eksplisit, “Buruh Pulang Kerja Sambil Memanggul Lelah.” Bagi yang di desa, “Saat Petani di Kampung Sedang Menciptakan Musim Hujan, Bendungan dan Irigasi di Mata Mereka.” Lalu secara umum, di masa itu, “Angka Harapan Hidup yang Semakin Menurun.” Ini menyiratkan, sejak dulu persoalan selalu mengikuti Aku dan Kau, tetapi di masa sekarang Aku harus menghadapinya sendiri.

Namun Aku masih menyimpan harapan. Masa depan yang membuatnya bertahan itu, “Sebab Kita Pernah Bercita-Cita Membangun Satu Dusun Kecil yang Ditumbuhi Pohon-Pohon, Rumah-Rumah Kayu, Kali dan Jembatan Bukan Beton…” Mengapa Aku begitu kuat menyimpan harapan-harapan itu, dan sampai kapan? Untuk itu kita lihat dulu siapa Aku dan Kau.

Bukan karena menikah dengan orang lain akhirnya si Kau pergi dari Aku, tetapi oleh kematian. Aan memberi kita petunjuk waktu kapan peristiwa Kau mati. Saat itu, “Sehari Sebelum Kau Mati, Saat Ribuan Buruh Berjalan Tanpa Alas Kaki di Atas Matahari yang Meleleh di Jalan Raya Sambil Bertanya dengan Marah Perihal Lapar Mereka.” Lalu sajak ke sembilan belas menerangkan dengan lebih jernih kapan peristiwa ini terjadi. “Menjelang Sebelas Tahun Kematian Kau, Saat Usia Bangun Aku (atau Tidur Aku Tak Ada Bedanya) Sudah Seabad Lebih Setahun…”

Judul sajak ke sembilan belas menjelaskan siapa Aku dan Kau “Menjelang sebelas Tahun Kematian Kau, Saat Usia Bangun Aku (atau Tidur Aku Tak Ada Bedanya) Sudah Seabad Lebih Setahun.” Yang menyiratkan Kau berhubungan dengan Masa Reformasi 1998 dan Aku berhubungan dengan Kebangkitan Nasional, 1908. Tersirat juga bahwa Kau dan Aku adalah semangat. Semangat Kebangkitan dan semangat atau janji-janji Reformasi. Di sepanjang sekuel ini Aku digambarkan begitu kokoh, sementara Kau telah mati meninggalkan janji yang tak pernah dipenuhinya. Meski Aku masih begitu kuat menyimpan kenangan indah bersama Kau, namun Aku masih mengingat baik-baik wasiat Kau—yang di sajak ini menuturkan dirinya sebagai Aku:

semakin sering kau sebut semakin subur nama aku. semakin subur nama aku semakin kerdil nama kau. semakin kerdil nama mereka yang kecil. semakin kecil

Kau mewanti-wanti namanya jangan terlalu sering disebut-sebut, sebab akan mengubur nama-nama orang kecil, sekaligus menenggelamkan masa kini dan masa depan yang dijanjikan Kau. Di sajak ke duapuluh Aan menyiratkan bagaimana ini bisa terjadi. Media massa!

kadang-kadang aku dengar nama kau bergulir jadi munir. kadang-kadang aku dengar tumbuh jadi thukul. kadang-kadang terdiri dari sejumlah huruf aneh dan selalu salah disebutkan. kadang-kadang nama raja yang mati jatuh dari kursi. kadang-kadang keren seperti nama mahasiswa yang punya obsesi jadi model iklan atau bintang film. kadang-kadang pahlawan. kadang-kadang messiah. kadang-kadang hanya jargon

Sajak ke duapuluh berisi tentang kegusaran Aku akan makin riuhnya nama-nama Kau disebut-sebut di mana-mana. Juga tentang betapa nama Kau sudah beranak-pinak menjadi berbagai macam sosok yang sulit dikenali. Bila Aku adalah semangat kebangkitan nasion, yang dibawa oleh “aku yang tanpa nama …di antara jutaan aku lainnya yang juga tanpa nama”, maka semangat itu sekarang telah dirusak—mungkin oleh media—yang menyematkan semangat itu pada orang-orang tertentu. Semangat itu jadi melesak ke dalam nama-nama tokoh, para Ratu Adil. Sesuatu yang kemudian membuat si Aku bingung, “bagaimana caranya aku mencintai kau yang banyak?” Semangat kebangkitan yang diusung massa anonim akan sulit mencintai semangat reformasi yang tereduksi menjadi tokoh-tokoh dengan jargon-jargonnya yang semakin merupakan janji dan bukan kenyataan.

Nyaris di ujung sekuel ini Aku mengalami perubahan emosional. Dia mulai gusar terhadap nama-nama tokoh. Mengapa? Mungkin mengingat wanti-wanti Aku untuk melupanan namanya (sajak ke dua puluh). Bisa juga karena nama-nama orang mati itu mendengungkan jargon, janji, cita-cita, dalam jumlah dan ragam yang makin banyak, yang pertama-tama membuatnya bingung (sajak ke duapuluh), lalu sebal karena semuanya tak pernah jadi nyata (sajak duapuluh satu).

Sementara itu, massa anonim yang masih terus berjuang menghadapi kesulitan hidup semakin dijauhkan dari kenyataan yang dijanjikan. Mereka semakin tidak paham mengapa kini tokoh-tokoh dan jargon-jargonnya masih diusung sementara janji-janjinya tak pula menjadi nyata. Kepahlawanan para Ratu Adil yang segelintir itu terus berdengung dan menenggelamkan suara jutaan rakyat hidup yang masih tertindas. Dan media massa adalah dukun yang terus bekerja membangkitkan arwah-arwah itu berikut mantra-mantra dan dongeng-dongeng tentang mereka, sementara massa anonim seharusnya bisa tersihir. Menjadi pendengar dan penonton yang mengharap dalam bisu. Tetapi itu tidak selalu terjadi.

Untuk itulah Aan melakukan pukulan balik. Kerja ini nampak dari konsistensi penggunaan sudut pandang penutur, Aku. Di sajak-sajak di mana Kau bersuara sebagai orang pertama, itu selalu dibuka dengan Aku menceritakan apa yang dikatakan Kau kepada Aku. Sehingga seluruh akses ke tuturan sang Kau selalu berasal dari Aku. Aku baru membukanya ketika Aku menghendakinya. Dalam sekuel ini, Aku berkuasa atas suara Kau.

Upaya ini juga simultan dengan pemilihan penyebutan aktor. Kita lihat, di momen riuh seputar reformasi, yang muncul pada sajak ke sepuluh dan sembilanbelas, Aan dengan jeli hanya mengangkat tokoh-tokoh anonim: Aku adalah ‘Buruh’, ‘Petani’ dan ‘Angka Harapan Hidup’, dan tidak menyebutkan demonstrasi mahasiswa yang paling sering dipuja sebagai aktor utama reformasi.

Dengan begitu, bila Aku adalah semangat kebangkitan seluruh rakyat, yang dalam sekuel ini tak pernah mati, dan Kau adalah janji-janji reformasi yang sering disematkan kepada orang-orang tertentu, yang biasanya orang mati. Maka Aan menginginkan sekarang semangat kebangkitan seluruh rakyat anonim itulah yang harus mendapat saluran bersuara. Dia dengan sengaja menyeleksi apa yang boleh dan tidak boleh diungkap oleh orang-orang yang disebut sebagai pahlawan reformasi—yang dalam versi Aan orang-orang mati. Dia melakukan pembalikan. Sebab meski media-media yang terus menggemakan janji reformasi yang terjadi malah sebaliknya. Suara para martir selalu mendapat saluran, dan tokoh anomim (rakyat) tak pernah mendapat tempat bila tak diinginkan oleh elit-elit yang menguasai media, para pencipta ‘pahlawan reformasi’. Berpuluh juta rakyat miskin yang masih hidup mesti dibungkam agar segelintir martir bisa terus bersuara.

Kini, lewat Aan, berjuta-juta suara anomim itu harus didengarkan. Dan “Jika Mungkin…”

sambil memikirkan semua rencana yang pernah kau katakan, semua janji yang pernah kau sumpahkan, semua cita-cita yang pernah kau ucapkan. semuanya. yang masih rencana, yang masih janji, yang masih cita-cita

sambil mengenang perpisahan aku dan kau, saat nafas lepas dari tubuh kau dan masuk memenuhi tubuh aku

sambil mencari jam yang tepat untuk merasakan bagaimana pisau melepas nafas kau dari tubuh aku

Usai menerima kiriman peti mati putranya yang gugur di Perang Dunia, Mr. Ghetto bekerja siang malam menyelesaikan jam dinding yang akan dipajang di stasiun terbesar di kotanya. Theodore Roosevelt hadir dalam peresmian beroperasinya jam dinding itu. Saat kain yang menutupi jam disingkap, tuas diputar, jarum jam dinding pun mulai bergerak. Seseorang segera berteriak kepada Mr. Ghetto yang tunanetra, “Jam itu berputar terbalik.” Dia menyambut dengan membuka pidato singkatnya.

“Saya menginginkannya begitu. Agar anak-anak kita tidak perlu berangkat perang, tumbuh sebagai pria-pria yang bekerja keras bertani, berkeluarga, dan membesarkan anak-anak mereka.” Orang-orang yang hadir membuka topi tanda hormat dan haru. Lalu dia menutup pidatonya dengan, “Maaf bila ada yang tersinggung.”

Itulah salah satu adegan menggetarkan dari film “The Curious Case of Benjamin Button” yang diadaptasi dari cerpen F. Scott Fitzgerald dengan judul yang sama. Film itu sedang diputar di banyak bioskop dan dibicarakan di Indonesia saat catatan ini dituliskan.

Membaca sekuel sajak Aan ini saya seperti menonton adegan di atas. Dia ingin memutar waktu, ingin Kau tak pernah mati, agar Aku dan Kau bisa membesarkan anak di “Dusun kecil yang ditumbuhi pohon-pohon, rumah-rumah kayu, kali dan jembatan bukan beton…” Ingin menua bersama. Sehingga tak perlu melewati masa sekarang dan menelusuri lorong waktu yang lain. Masa kini yang lain.

Aan bekerja siang malam membuat karya yang menarik perhatian orang dengan judul panjang, untuk mengajak sebanyak mungkin pembaca singgah sejenak berpikir, mungkin membuka topi mengheningkan cipta atau sekadar merenung. Sebelum masing-masing mesti melanjutkan kerja.

3

Aan membangun sajak sekuelnya dengan sangat serius. Sebagai arsitek dia dengan tekun menata gagasannya menjadi sesuatu yang utuh nan rapih, namun bangunannya tetap terbentuk sebagai sajak yang indah.

Di sajak ke delapanbelas rancang bangun ini terlihat sangat kentara. Dia seperti mendirikan sebuah konstruksi dengan tubuh bangunan yang tembus pandang. Di mana kita tidak hanya bisa melihat tonggak-tonggak dan dinding gedung, tetapi juga dapat melihat orang-orang lalu-lalang di dalamnya. Saya yang berdiri di luar bisa mereka-reka—tentu tidak harus akurat namun sungguh ini sebuah keasyikan—apa yang terjadi di dalam gedung itu, dan dengan demikian bisa menimbang-nimbang, untuk apa bangunan itu dibuat.

Setidaknya saya melihat tiga tiang utama bangunan sajak ini, dalam bentuk tiga pertanyaan (yang dia buat setelah menjelaskan kepada saya, dan mungkin Anda juga, di mana bangunan ini, dalam ruang dan waktu imajiner, didirikan). Ketiga pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban. Dia bukan mencari keping informasi yang hilang. Pertanyaan ini bergerak lebih ke dalam, menyentil cara berpikir. Hendak menelusuri ulang sejarah watak berpikir: mengapa kita bisa berpikir sebagaimana kita berpikir sekarang?

Untuk tiba pada kesimpulan sementara itu, saya harus membacanya secara terpisah, ketiga pertanyaan itu, berdasarkan jawaban masing-masing pertanyaan. Ini juga sesuatu yang diinginkan Aan dalam sekuel sajak ini—pembaca harus membacanya bolak-balik untuk mengelupas satu-per-satu lapis makna yang dia cari.

Pertanyaan pertama, tikus lebih suka yang mana? Pertanyaan ini bisa menjadi pembuka teka-teki dengan jawaban dalam jumlah tak terhingga. Namun Aan segera memberi batasan, mungkin untuk memudahkan pembaca seperti saya, yang lebih mencari makna ketimbang keindahan—meski saya juga penikmat keindahan (yang punya makna lain dari sekadar indah). Sebagai seorang pesolek ujaran yang ciamik, Aan tidak menjawab secara langsung pertanyaannya itu, dia memakai semacam soliloqui spontan, dari loncatan ingatan yang tiba-tiba tertarik ke luar oleh rangsangan pertanyaan tersebut, sang tikus lebih suka yang mana? Sehingga pada titik itu, yang penting adalah respon (jawaban) dari ingatan si Aku:

aku tiba-tiba membayangkan tayangan kuliner tentang sate tikus, tom sedang mencium jerry di ruang sidang, dan percobaan di ruang laboratorium dengan membelah perut tikus juga, tentu saja, schrödinger’s cat

Dengan sedikit mengubah sudut pandang, monolog Aku di atas bisa dibaca seperti ini: tikus menjadi sate tikus dalam tayangan kuliner, tikus berpelukan dengan kucing di ruang sidang, tikus dibelah untuk percobaan, dan tikus [kucing dalam percobaan schrödinger] bisa menjadi mati atau hidup bergantung pada amatan manusia.

Selanjutnya, bila kita mengikuti logika memperlawankan tikus-manusia—tentu bukan satu-satunya cara, maka yang lalu lalang dalam pikiran si Aku adalah, tentu saja, lagi-lagi paradoks: tikus sungguh tak berdaya, tetapi manusia juga tak bisa apa-apa tanpanya. Selain bahwa tikus bisa disantap sebagai sate, dijadikan tontonan menggelikan, alat percobaan dan benda amatan; sebaliknya, tikus juga sanggup menentukan hidup beberapa manusia—para hakim—di ruang sidang sehingga mengampuninya (tikus di sini adalah personifikasi namun tetap tunduk pada kuasa manusia sehingga kita bisa mengatakan bahwa sebagian manusia bisa menjadi tikus).

Memang, sate tikus berarti manusia bisa memangsa tikus, manusia punya kuasa mutlak, tetapi peradilan tikus-kucing bisa berarti manusia butuh tikus. Lalu, tikus yang dibedah bisa berarti manusia tak bisa bikin obat kalau tak ada tikus, dan gagasan tentang tikus bisa hidup-dan-mati-dalam-waktu-bersamaan dapat menunjukkan adanya keterbatasan pada nalar manusia.

Singkatnya, Aan mengajak kita berpikir lebih jauh, tentang relasi kekuasaan, dan bukan sekedar mencari informasi untuk menjawab pertanyaan:

apakah tikus (kecil atau besar sama saja) lebih suka laci meja di hari minggu yang lemas atau hari senin yang malas?

Selain itu, Aan juga mengajak kita memeriksa ulang cara berpikir kita tentang beberapa hal. Tentang pertanyaan yang tidak selalu memancing munculnya jawaban langsung. Tentang keliaran dan jamaknya imajinasi manusia ketika berhadapan satu persoalan. Tentang betapa seringnya kita merasa punya kekuasaan absolut tetapi ternyata tidak demikian (kuasa tidak selalu bersifat satu arah). Dan seterusnya.

Baiklah, kita kembali ke keseluruhan tubuh sajak di atas. Ingatan si Aku, pada bait-bait genap sejak bait ke dua, bukanlah jawaban, sebab pertanyaan-pertanyaan yang muncul sebelumnya juga bukan pertanyaan yang butuh jawaban. Dia ternyata membutuhkan cetusan permenungan, seperti yang menjadi respon si Aku setelahnya.

Selanjutnya, jawaban dari pertanyaan: tikus lebih suka mana, laci di hari Minggu atau Senin, bukanlah salah satu di antara ke dua hari itu. Pertanyaan itu justru ingin merusak logika berpikir dari pertanyaan itu sendiri. Lewat jawaban di bawah pertanyaan itu, sajak tersebut malah ingin mengembangbiakkan pertanyaan. Ambil contoh, dengan mengenang Schrödinger’s cat, sajak ini ingin mempertanyakan pertanyaan itu. Apakah memang orang harus memilih salah satu di antaranya bila kita tak ‘melihatnya’?

Lalu dengan mengingat tikus percobaan dan kartun Tom dan Jerry, sajak ini ingin bertanya: apakah memang ada bedanya Minggu dan Senin bila penggalan minggu itu hanya buatan manusia? Bukankah manusia moderenlah—yang menjadikan tikus sebagai korban percobaan dan menonton kartun—yang memilah mana hari libur dan mana hari kerja? Meski mereka tahu tidak bisa mengubah kenyataan bahwa manusia bisa lemas dan malas di hari mana pun. Sehingga, mungkin salah satu yang ingin dia katakan bahwa manusia moderen kerap lupa bahwa aturan yang dibuatnya selalu punya kelemahan. Waktu punya watak relatif.

Jadi pertanyaan “tikus lebih suka mana?” Telah dijawab si Aku dengan mempertanyakan ulang logika pertanyaan itu sendiri. Efek ini diciptakan Aan, dengan cara berbeda, di tiga pertanyaan dalam sajak ini.

Bicara tentang kelas sosial Aan punya cara sendiri. Di sajak ke lima misalnya, dia menunjukkan bagaimana sebuah kisah tentang perbedaan kelas bisa dibuat sedemikian rupa sehingga kelihatan lebih rumit, sendu sekaligus ironis. Caranya, sajak ini bekerja seperti kaca cekung, darinya kita melihat jagad sosial menjadi terbalik dan gepeng-terdistorsi

Di sajak ini, Aan dengan jeli mempertontonkan pertukaran tempat yang menimbulkan efek ganda: membarukan yang usang sekaligus mengusangkan yang baru. Yang klise (subyek tukang becak dan sepasang kekasih tua) dipertukarkan sehingga membuka kemungkinan pemaknaan baru; dan yang baru (pertukaran posisi tukang becak dan pasangan kekasih itu) membawa kita kepada keusangan nasib manusia dari kelas yang berbeda. Sebab pertukaran itu, yang tadinya saya harap hanya akan mengantar saya pada pemaknaan baru, ternyata (kejutannya terjadi di sini) ketika tiba di ujung kisah dalam sajak ini, kita tiba pada cerita usang tentang nasib manusia dari kelas yang berlainan. Si pasangan Aku dan Kau merasakan kerja tukang becak hanya secara fisik dan cuma untuk sementara, hatinya tetap berleha ditemani isteri-anak-cucu dan nyanyian. Sementara sang tukang becak hanya tidur pulas sejenak setelah makan besar, sesuatu yang bisa dia dapatkan di bawah pohon asam di tepi jalan suatu siang di hari lebaran haji.

Namun sajak ini lebih dari sekadar bicara kelas. Di dalamnya ada tubuh berkeringat yang menandakan bukan kelelahan dan kesedihan, tetapi membuka jalan untuk menggambarkan cinta dan kebahagiaan tetapi juga sekaligus salah sangka. “di pendakian kau akan turun berjalan di samping aku dan mengelap peluh di wajah aku yang kau sangka berhulu di mata aku.” Ada tukang becak tertidur di sofa ruang tengah, yang bukan menunjukkan leha-leha berkepanjangan, tetapi—oleh efek narasi yang dibawa keseluruhan tubuh puisi ini—menimbulkan kecemasan di pihak pembaca, bahwa leha-leha segera akan berakhir, bahkan (mungkin) sebelum sang fakir usai menikmatinya.

Seperti membuat tubuh dari tanah liat, Aan membuatnya gepeng dan terbalik. Membalik aktifitas klise tukang becak dan pasangan tua di perayaan ulang tahun membuka kemungkinan Aan berkisah tentang hal-hal baru. Namun di balik itu, bak seorang pelontar boomerang yang ahli, dia membuat kemungkinan-kemungkinan baru tidak terlontar terlalu jauh menembus negeri antah berantah, tetapi berputar kembali ke bumi. Dan sebelum bilah bengkok itu menyentuh tanah, Aan menangkapnya dengan tenang, seperti telah melakukannya ribuan kali. Setelah mempertontonkan lengkungan kehidupan berupa paradoks, ambiguitas, ironi, semuanya kemudian menyatu ketika saya tiba di salah satu ujung pemaknaan: menjadi nasib, nasib dua kelas manusia yang tak berubah, nasib dalam bangunan ekonomi-politik. Lalu di ujung lain, dengan melihat judul sajak ini, kita tiba pada kenyataan bahwa segala pengalaman itu belum pernah terjadi, belum menjadi nasib.

Bukan tanpa sengaja Aan membuat pengantar, dan bukan sekadar penanda, yang jamak dikenal dengan nama ‘judul’, untuk membuka diskusi tentang perasaan seorang yang dirundung rindu berkepanjangan: karena mesti sendiri menghadapi cengkeraman kehidupan nyata yang semakin menyerupai mimpi buruk. Dari penghamparan latar di awal puisi, Aan mengharapkan pembaca mulai berpikir, secara jauh lebih renik dan bagi saya menjadi lebih jernih.

Dan kejernihan itu bukan menjadi semacam tembok yang tinggi, penghalang imajinasi, tetapi justru membuka kemungkinan-kemungkinan baru untuk pembacaan jamak—yang juga lebih renik dan jernih. Menjadi semacam pembuka yang membuat pembaca disodori banyak lorong. Mengajak pembaca mereka-reka lorong mana yang akan disusuri sajak ini.

Sebetulnya Ini Hanya Semacam Rangkuman Atas Sejumlah Pertanyaan dan Penyataan yang Kau Katakan Suatu Malam di Balkon Belakang Sebulan Sebelum Kau Mati yang, Aduh, Sungguh Malu Aku Menyebutnya Puisi, sebab Kata-Kata Aku Belum Makan Seharian seperti Buruh yang Dililit Hutan Kredit Sehingga Terlalu Lemah untuk Tumbuh Menjadi Puisi

Melihat judul semacam ini saya sempat bertanya-tanya, apakah Aan akan bicara tentang nasib Aku-yang-hidup dan Kau-yang-mati, atau atau sejumlah-pertanyaan-dan-pernyataan, atau puisi-yang-terlalu-lemah, atau nasib-buruh-yang-belum-makan, atau tentang-lilitan-hutan-kredit, atau suasana baklon-belakang, atau gabungan antara dua tiga empat dari mereka? Sungguh akan tercipta bentuk relasi, dan dengan demikian, tema, yang tak terhingga jumlahnya. Yang kesemuanya mengundang rasa ingin tahu.

Saya membayangkan, dengan membuat judulnya demikian panjang, Aan ingin mengajak pembaca menelusuri salah satu di antara lorong itu setelah berlama-lama menekuri sang judul.

Meski kita mesti suntuk menekuri judul-judul panjangnya, Aan tidak ingin pembacanya terjebak dalam teka-teki yang terlalu umum, terlalu permukaan, atau yang terlampau sumir. Dia hendak membawa pembaca ke dasar yang jernih, di mana bergeletakan banyak hal yang mungkin mesti dilihat banyak orang namun tak terjadi dengan berbagai alasan. Dia ingin kita terlebih dahulu meraba-raba dunia baru yang diciptakannya sebelum mencoba mencari berbagai bentuk relasi yang unik antara judul dan isi.

Mungkin dia ingin kita membayangkan balkon belakang punya suasana tertentu, sebelum menghubungkannya dengan adegan ketika Aku mengajukan pertanyaan intim tentang bagian tubuh mana yang belum tercium, yang tentu membutuhkan suasana privasi. Atau balkon belakang itu bisa juga menjadi latar terciptanya keheningan luar biasa yang bisa menghadirkan suara denyut di ujung jempol—tempat terjauh dari pusat denyut tubuh manusia: jantung. Juga ketenangan tingkat tingi yang mutlak ada jika seseorang ingin menyusun rencana dahsyat seperti mengubur harapan calon suami lain yang menghendaki si Kau.

Mal-nutrisi kata-kata, “Kata-Kata Aku Belum Makan Seharian seperti Buruh yang Dililit Hutan Kredit Sehingga Terlalu Lemah untuk Tumbuh Jadi Puisi.” membuat kita bisa membayangkan betapa banyak yang belum terkatakan, sehingga secara terpaksa—keterpaksaan yang disengaja—Kau mesti menggunakan fatwa haram sebagai ganti untuk menjelaskan besarnya cinta. (Frasa klise itu harus ada di bait itu dalam keadaan yang sungguh unik, karena terpaksa, sehingga saya tak keberatan dia menghiasai bait terakhir sebuah sajak cinta).

Itulah perihal judul-judul Aan yang banyak dikomentari sebagai sesuatu yang tidak baru (mana ada sih yang baru di bawah kolong langit ini?), atau cuma bermain-main bentuk tanpa membawa gagasan tertentu yang mengharuskannya menjelaskan panjang lebar perihal ini. Judul-judul Aan, meski dengan beberapa risiko, menjalankan tugasnya dengan baik untuk mengajak pembaca berlama-lama menekuninya. Judulnya bisa berupa bentangan lanskap, ruangan berpintu banyak, atau latar peristiwa. Bukan sekadar abstraksi, nama atau tema.

Sajak ke tujuh belas bisa menjadi salah satu contoh terbaik bahwa Aan benar-benar sudah pindah rumah. Lebih tepatnya berpindah-pindah dari rumah lama ke rumah baru yang dibangunnya sendiri. Dia telah membangun rumah yang semakin rapih sekaligus indah. Dia mampu begitu perkasa menekuk imaji lewat kesuntukan mencari—sehingga menemukan sungguh banyak—cara pengungkapan, yang memudahkan Aan untuk menata gagasan-gagasannya. Seumpama pembuat kamus gaek yang bekerja siang malam, Aan terus mencari dan mempelajari kata demi kata, mengumpulkan jamak makna mereka, menatanya ketika menggabungkan mereka ke dalam satu sajian yang nikmat sekaligus berisi. Tentu untuk itu dia senantiasa memikirkan selera penikmatnya ketika bekerja.

Sementara itu, sajak ke lima bisa menjadi perwakilan bagaimana Aan memperlihatkan bahwa dia nyaris tak lagi punya masalah dalam menyeleksi subyek-subyek renik yang tepat untuk mewakili banyak hal besar nan rumit yang berseliweran di lingkungan sosial kita. Aan mampu menjadikannya sangat akrab dan segar, tak melulu soal ‘sosial’—yang ternyata adalah bentukan kontur ekonomi politik—yang lebih sering menjelma plang kampanye yang kurus makna. Meski juga tak lepas darinya terlalu jauh hingga siapa pun yang membacanya bisa paham, tentu berdasarkan pengalaman membaca masing-masing.

Dengan demikian dia bisa membuat catatan sejarah sekaligus menampilkan amarahnya terhadap soal-soal sekeliling kita secara lebih anggun. Fatwa haram di sajak ke lima, misalnya, memang harus ada untuk mengguratakan jejak zaman di mana kita berada, namun muncul secara lebih elegan. Terlalu sering kita melihat jargon itu muncul dalam balutan opini dari kepulan orang sehingga kita tak lagi tahu siapa bilang apa tentang jargon itu: yang ada cuma kumpulan orang marah, karena tak setuju atau karena tidak disetujui.

Di sini saya teringat bincang-bincang dengan Aan beberapa malam sebelum saya menuliskan catatan ini. Dia berkisah bahwa dia ingin mempersembahkan kado buat Indonesia. Untuk mengerjakan itu, dia berpikir keras bagaimana menyampaikan gagasan-gagasannya. Sebagai pembuat kado dia berusaha membungkus kadonya dengan indah. Namun dia khawatir, ironi itu terjadi lagi. Orang hanya akan menyimpan bungkus kado itu. Padahal bungkus itu hanya sekadar pemanis agar orang sudi menerima isi kadonya. Para pembuat kado, menurutnya, harus menghadapi kenyataan bahwa yang pertama kali diperhatikan orang adalah bungkusnya, padahal itu adalah bagian yang dibuat paling akhir, dan bukan bagian paling penting.

Mendengar itu saya jadi bertanya-tanya, jangan-jangan di negeri ini banyak orang yang hanya pengumpul bungkus kado untuk dipajang. Atau banyak orang membuat kado yang tak berisi. “Kita tak tahu sampai kita bisa melihatnya,” begitu kira-kira kata Erwin Schrödinger di tahun 1935.

Makassar, 15 Maret 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s