Sajak Berjudul Panjang #9


sebab kita pernah bercita-cita membangun satu dusun kecil yang ditumbuhi pohon-pohon, rumah-rumah kayu, kali dan jembatan bukan beton, maka aku menyebut lagi percakapan kita waktu itu, sebelum kau membawa anak-anak yang belum lahir ke liang makam, karena aku tahu telingamu mendengar di telingaku

kau menghadap ke cermin lemari di mana ada aku di dalamnya sedang duduk di tepi tempat tidur yang sepreinya kita biarkan menyerupai ombak tiba-tiba tak bergerak. kau menyisir rambutmu yang setengah kering dan menyeruakkan aroma kebun: kemiri dan minyak kelapa.

“belum datang tanda-tanda datang bulan akan tidak datang bulan ini,” katamu. aku meminta kau mengulang kalimat yang mengandung ‘datang’ tiga kali dan ‘bulan’ dua kali itu. tetapi kau malah menjelaskan yang lain.

“mungkin karena kita belum sempat bicara perkara bagaimana kira-kira jika anak-anak kelak tertarik ikut acara idola-idolaan di televisi. bagaimana jika ada wartawan datang wawancara dan foto kita yang terpaksa tersenyum sambil memeluk anak juara itu ada di koran. sementara cita-cita kita membangun rumah di dusun kecil, bukan di koran atau di televisi, bukan?”

aku mendengar kau bicara sambil memperhatikan rambutmu yang menjalar ingin menggapai bokongmu yang mengingatkan aku bukit di mana kita akan membangun dusun kecil itu.

aku melihat senyummu di cermin ketika kau melihat aku mengangguk menjawab pertanyaanmu.

2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s