Sajak Berjudul Panjang #2


karena adegan di perpustakaan hampus siang itu saat aku tidak punya duit buat merayakan ulang tahunmu harus menjadi kenangan kita berdua saja, maka aku membangun perpustakaan yang berisik oleh musik, huruf-huruf yang lepas dan anak-anak kecil yang menggemaskan bersama orangtua mereka yang mencemaskan

(saat istirahat dua jam lagi. di ruang baca itu tinggal rak-rak mirip mulut dengan gigi-gigi yang terlalu banyak tanggal. kursi-kursi lapar seperti hendak melahap meja di hadapan mereka. sementara dua pustakawan tua tidur mendengkur.)

sebelum duduk, kau dan aku sibuk menumpuk lolita, anna karenina, romeo dan juliet, layla majnun, jane eyre, dan sejumlah nama-nama tebal dan berdebu di atas sebuah meja di sudut ruangan di dekat jendela yang rabun. kemudian sengaja aku mencium pucuk hidungmu agak lama. bukan matamu–agar kau bisa melihatnya. namun kau tetap saja terpejam. anehnya, aku ikut terpejam, mungkin lebih dalam, melihatmu terpejam.

saat bangun dari ciuman kau melirik rak berharap para penyair yang terkubur di dalam sajak-sajak mereka bangkit dan mengucapkan selamat ulang tahun padamu—sementara aku melirik rokmu berharap sesuatu yang lain.

(saat istirahat sudah dekat, kita melangkah keluar sambil geli membayangkan rak-rak tersenyum memperlihatkan gigi mereka yang ompong dan meja-meja serta kursi-kursi serempak berdiri lalu membungkuk malu-malu memberi hormat kepada kita. sebelum lolos dari pintu, kita memamerkan sejumlah kumpulan puisi yang karena kasihan kita ambil dari rak kepada dua pustawakan tua yang belum juga sadar dari tidur mereka)

2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s