Pinta di Pintu Pantai

sejak kanak wanita buta itu
tahu rumahnya adalah panti
asuhan beberapa orang tua
yang bukan orangtuanya

bertahun-tahun dia bertahan
di sana—sangat mencintai pintu
di mana dia selalu panjatkan pinta

o, pintu, mohon kau tepati satu-satunya
yang selalu aku pinta: perlihatkan pada aku
sepasang yang bisa aku panggil papa-mama!

bertahun-tahun dia bertahan
di sana—hingga waktu memasukkannya ke pintu

sebuah lain panti
pijat tubuh mereka hingga lemas,
kata tuan pemilik panti,
jangan lupa sesekali elus
agar mereka puas lekas!

bertahun-tahun dia bertahan
di sana—terus mencintai pintu
di mana dia selalu panjatkan pinta

o, pintu, yang dulu tak mampu kau tepati
biar aku ganti pinta: perlihatkan pada aku
seorang yang bisa aku panggil kekasih hati!

bertahun-tahun dia bertahan
di sana—hingga waktu memasukkannya ke pintu

baru, sebuah pintu panti
jompo semua orang di situ
kecuali seorang wanita penjaga
yang dulu juga tinggal di panti
asuhan tuan pemilik panti

pijat kakiku, nak!
bolehkah kau aku panggil buah hati?

bertahun-tahun dia bertahan
di sana—masih mencintai pintu
di mana dia selalu panjatkan pinta

o, pintu, sudah dua yang tak mampu kau tepati
lagi kini aku ganti pinta: segera perlihatkan pada aku
pintu lain di mana aku bisa memanggil namaku sendiri!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s