Kuku #2

2

SUNGGUH. Aku tak pernah melakukan hal ini sebelumnya, hal sangat konyol ini. Aku mengamati berlama-lama kuku ibu jari kiriku seolah ada sesuatu yang aneh akan terjadi di situ. Pada akhirnya aku memang tahu kuku yang satu itu tidak simetris. Kuku ibu jari kiriku berbeda dengan kuku yang tumbuh di jemariku yang lain. Pula akhirnya aku tahu kuku di jari-jari kiriku lebih kecil dibanding yang kanan. Dan juga aku tahu ada bekas luka, semacam coretan kecil, di bibir kuku ibu jari kiriku itu. Mungkin bekas irisan benda tajam. Tetapi tetap saja hal ini sebuah perbuatan konyol yang hanya layak ditertawai.

Living to Tell the Tale, buku autobiografi Gabriel Garcia Marquez, tergeletak di meja saja tak punya kuasa menggoda selera bacaku. Padahal sewaktu menemukan buku ini di rak temanku yang baru balik dari Amsterdam, aku sungguh bersemangat ingin membacanya. Tentu saja, bagiku, menemukan buku Marquez seperti menemukan perempuan paling cantik di dunia. Itu dulu, sebelum hari ini. Sebelum aku menjadi aneh karena kuku ibu jari kiriku. Selain karena kemampuan bahasa Inggris yang aku punya sangat papa, sekarang kuku tak simetris ini jauh lebih menarik dari apa pun.

Tenri, perempuan yang aku temui di pukul 5 sore berwarna jeruk hari Kamis seminggu lalu di Pantai Losari yang jadi penyebabnya. Sialan! Aku heran, kenapa dia ingin aku temani berbincang lebih jauh dari sekadar ‘wah, sore yang indah, bukan?’. Kenapa tidak usai saja di kalimat basa-basi itu? Kenapa dia menerima ajakanku mencari kafe dan minum Kopi Toraja dan larut hingga larut malam? Kenapa dia senang sekali tersenyum padaku? Kenapa dia memintaku membetulkan letak poninya dan menerima tanganku lebih lama di rambutnya? Kenapa dia hanya tersenyum ketika aku mengatakan suka padanya? Kenapa aku bisa jatuh cinta padanya? Sejatuh-jatuhnya? Kenapa dia harus meninggalkan kota ini selaju kereta listrik? Dan kenapa dia meminta aku memanjangkan kuku ibu jari kiriku? Kenapa?

Kuku. Ini bagian dari tubuhku yang paling sering aku anggap mengganggu dan menjijikkan. Meskipun aku bukanlah lelaki yang terlalu suka merawat diri, tidak pernah terlintas dalam kepalaku hendak memanjangkan kuku. Apalagi di kuku tangan kiriku, tangan yang setiap hari aku gunakan membersihkan sisa-sisa kotoran di pantatku. Tetapi Tenri menginginkan aku memanjangkan kuku ibu jari kiriku tanpa aku paham kenapa dia menginginkannya. Parahnya lagi, kenapa aku tak kuasa menolak permintaannya.

Sudah dua hari ini, aku betul-betul seperti orang paling bodoh di kota ini, atau bahkan di dunia ini. Di meja makan sebelum menyentuh sendok, piring, makanan dan apa pun, aku mengamati berlama-lama kukuku lebih dahulu. Kekonyolan ini memang belum disadari Ibu, juga Rani dan Rina yang cerewet. Aku bisa membayangkan selantang apa tawa kedua adik kembarku itu jika tahu aku suka memerhatikan kukuku begitu rupa. Pasti mereka akan menyebutku kena penyakit jiwa atau kerasukan hantu kuburan lagi.

Ini sebenarnya kalimat paling basi yang pernah aku dengar: jatuh cinta membuat kita rela melakukan hal paling konyol dalam hidup. Ingin rasanya aku tertawa sekeras-kerasnya memikirkan kalimat itu, apalagi saat melihat apa yang aku lakukan ini. Betul-betul konyol!

Eh, mungkinkah kalimat klise itu yang ingin disampaikan Tenri padaku? Ah, sialan!

[bersambung]

2 thoughts on “Kuku #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s