Kuku #1

–sebuah novel

1

TENRI mengenakan senyuman saat ditelan pintu bandara. Mataku berusaha mengekalkan tubuhnya. Tubuhnya harum. Wajahnya haru. Bajunya biru. Mungkin masih baru.

Lantai ubin putih, kotor, menanam pasak-paku di dua kakiku. Aku dibuat tegun sesuatu yang tak kuasa aku pahami. Sesuatu itu berat. Sesuatu yang membuat tubuhku tiba-tiba batu di antara orang-orang gegas berlalu, orang-orang yang ringan melangkahkan kaki-kaki mereka.

Aku menutup telinga kiriku dengan tangan kiri dan telinga kananku dengan tangan kanan. Sebuah ucapan terperangkap memantul-mantul di sepasang liang itu: waktu itu baik hati, yang berpisah pasti akan dipertemukan kembali. Itu ucapan siapa aku tak tahu. Kemungkinan besar ucapanku sendiri. Aku tiba-tiba lupa pada semua kata yang pernah mengendarai lidahku.

Tubuh Tenri betul-betul telah disembunyikan dinding-dinding bandara yang penuh tempelan iklan dan kalimat larangan. Beberapa detik seusai aku menemukan kepercayaan diri kembali bahwa aku bisa menyeret kaki kembali ke rumah, dia tiba-tiba ada berdiri di depanku. Dia dimuntahkan kembali pintu bandara. Aku seolah berada di depan pintu lemari es yang terbuka dan dia apel segar yang berembun. Dia masih mengenakan senyuman yang sama.

“Jangan lupa panjangkan kuku ibu jari tangan kirimu!”

Hanya kalimat itu yang Tenri serahkan padaku lalu berbalik menyerahkan diri pada pintu bandara sekali lagi. Mataku kembali berusaha mengekalkan tubuhnya—sambil meraba-raba dalam kegelapan kalimat terakhirnya. Dari mana dia tiba-tiba menemukan selera humor yang amat aneh itu?

Aku masih berdiri di tempat yang sama ketika pesawat yang membawa tubuh Tenri menjauh dari tubuhku melintas di udara, di atas atap ruang tunggu bandara. Aku ditegunkan kembali, sekali lagi, oleh sesuatu yang tak bisa aku pahami. Di sela-selanya aku berdoa semoga pesawatnya tak berkeping-keping di udara—sebab ia ingin kembali dan aku ingin melamarnya. Akhir-akhir ini aku selalu curiga pada semua maskapai penerbangan di negeri ini. Aku selalu berpikir mereka ingin pelan-pelan membunuh banyak orang dengan cara sadis dan aneh. Jatuh dan meledak.

[bersambung]

One thought on “Kuku #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s