Bulldozer

/1/

kelas enam
pertama kali berkelahi
teman sebangku
mempermalukan
ia kuak rahasia saya:
takut bulldozer

keluar! pindah!
kepala sekolah
(yang tak pernah ramah)
marah-marah

di rumah
saya bertanya
kenapa saya takut bulldozer?

waktu saya belum cukup setahun
sawah keluarga diratakan bulldozer
(bulldozer warna kuning, kata ayah)
ada orang-orang kaya dari jakarta
suka sekali beli tanah murah
buat membuat rumah,
rumah-rumah mewah

bulldozer mau melindas ayah
yang tak mau dibayar murah
tapi akhirnya dia kalah
lalu mengalah
pasrah
terpaksa


/2/

di sekolah menengah
saya diminta ayah
masuk jurusan ilmu alam
biar bisa kuliah di fakultas teknik

biar bisa membuat bulldozer
yang lebih perkasa
yang lebih raksasa

ujian masuk universitas
saya gagal jadi mahasiswa teknik
dan terdampar di sastra indonesia

saya pernah bilang pada ayah
kata-kata lebih kuat dari bulldozer
(mengutip kalimat dosen puisi saya)
dia tertawa keras-keras
(dulu parang saya tak bisa apa-apa, katanya,
bagaimana kau bisa pakai kata-kata buat berperang?)
kemudian dia menangis
sambil mengelus-elus kepala saya


/3/

tahunan kuliah
saya pikir bisa bikin berani
menantang bulldozer
tapi di televisi saya lihat
banyak bulldozer:
besar dan sangat kasar

malah saya tambah gentar

saya tak masuk kuliah seminggu
waktu ada bulldozer menggali
selokan di depan kampus

saya putuskan seorang gadis manis
yang nyaris sebulan membuat saya jadi pengemis
setelah tahu ayahnya kepala bagian di trakindo

saya pura-pura pergi mendaki gunung
(membawa semua puisi-puisi saya)
saat pemukiman di dekat asrama digulung

/4/

setelah sarjana
(sarjana sastra indonesia
nilai rata-rata hasil main mata)
dan dikenal sebagai penyair
saya tetap takut bulldozer

di dalam puisi-puisi
saya takut menulis bulldozer
saya lebih nyaman menulis
pohon-pohon, senja dan gerimis

tapi tadi sesaat sebelum tiba jingga senja
(saat jendela diterpa gerimis)
di televisi, di gambar-gambar berita,
tanpa sengaja saya lihat tentara-tentara bersenjata
dengan bulldozer mencabut pohon-pohon zaitun
dan ibu-ibu yang merantai leher mereka di pohon-pohon itu

saya menangis,
menangis dengan jari-jari gemetar
(saya melawan rasa takut)
ingin sekali bisa menulis,
menulis puisi bulldozer

Makassar, 2009

One thought on “Bulldozer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s