Dari Januari ke Januari

Januari

Kita pilih tinggal di sini sebab udara dan langit
sungguh bersih. Rumput-rumput menjemput
setiap pejalan kaki yang hendak masuk
ke halaman dan rumah dengan ramah.

Di jalan-jalan yang menjauh dari pagar
tak ada seorang berjalan atau tersasar.

Di daerah ini, tak ada orang mati atau terjaga
tengah malam dan membuat para tetangga
harus merasa bersalah atau malah terganggu.

Mobil-mobil hanya duduk membuka mata
mengamati jalan mati telanjang di depannya.
Lelampu bangun sepanjang malam dan siang
persis pegawai yang senang membangkang.

Februari

Seorang gadis tetangga sedang berjuang
menyingkirkan nama aslinya yang panjang
dan ganjil seperti anak-anak rambutnya
yang berjejatuhan mengganggu alisnya.

Dia tersenyum padaku, dan kau pikir
air mata akan ngalir di sudut bibirmu.

Terus begitulah nampaknya selalu,
kelembutan ibu kandung bebadai topan.
Perlahan kau lihat datang dari kejauhan.
Kau pikir bisa menghindar, namun tiba-tiba saja
menyerang dari dalam dadamu sendiri.

Gadis itu mirip saudara perempuanmu yang menghilang.
Tatapannya tenang saat mengataiku onggokan kotoran.
Tetapi kau selalu yakin bisa mencuciku hingga bersih.

Maret

Selusin kartu kredit sama saja, katamu.
Semuanya beraroma sabun yang aneh.
Memenuhi kamar, tubuhmu dan hidungku
sehabis mandi di sebuah subuh berlama-lama.

Kau campakkan semuanya ke atas meja kayu,
seolah sama sekali tidak peduli pada peluhku.

Anak-anak mendengar, dan kita tidak boleh
menyesal karena mereka lahir punya telinga.
Mereka masuk dari halaman seperti lelehan
madu. Mereka tersenyum. Namun mata-mata
mereka mengabarkan kelaparan para pengungsi.

Kita berhenti sejenak sambil sama-sama
melirik jendela kaca yang di dalamnya
ada pohon-pohon sedang berbunga.
Merayakan musim semi, musim semai.

April

Dengan seluruh yang kita punya
ada semacam bakat untuk tertawa.
Tertawa kepada apapun, apa saja.
Kepada peristiwa yang telah lewat
atau kesedihan yang sangat gawat.

Kita tak pernah melupakan siapapun.
Kau dengar air mata ibumu di telepon.
Dia sedang mengenang satu pepatah
tentang kepolosan seorang anak kecil.

Aku baca laki-laki lain di surat ayahku.
Dia mengulang-ngulang petuah usang
tentang kehidupan dan juga kematian
yang kadang-kadang datang bersamaan.

Mei

Setiap hari Minggu kita selalu punya pesta.
Anak-anak mengungsi ke dada pengasuh.
Wajah mereka terhapus seharian penuh.

Di luar rumah, langit mencipratkan hujan
dan menciptakan kolam di cekungan sore.
yang sering jadi tinggi lalu meluap ke tangga
atau ke sepasang matamu yang kelelahan.

Seorang tetangga mengisi lemari pendingin
dengan daun-daun kurang vitamin dan zat besi.
Seorang mengelap kaca dan mewangikan seprei.
Seorang bercanda dengan burung peliharaan.

Sementara kau sedang siap-siap ke pesta
mengajak aku kembali ke masa remaja.

Juni

Untuk bercanda kita bicara saja tentang kau.
Apapun, melulu lebih bagus bicara tentang kau.
Begitulah kesepakatannya, begitulah aturannya.
Agar anak-anak tak terlalu sering menguping
sambil mengigit bibir dan tangan di balik pintu.

Ini akan jadi malam yang panjang, katamu.
Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin?
Anak-anak sudah tidur dan bermain-main
dengan mimpi yang selalu susah kita pahami.

Malam akan memanjang melampaui siang.
Tak akan ada pagi selama dua atau tiga hari.
Dan tawa kita tidak akan berhenti berderai.
Bahkan pepohonan di halaman menjulurkan
dedaunnya lewat lelubang atap, mengintip
kita yang sedang menyembunyikan ratap.

Juli

Mengapa kau menerima lamaranku? Karena,
karena kau paling baik bagiku, katamu gagap.
Namun kau bilang kau sedang gugup.
(Mungkin kau tak sanggup)

Di dapur, di atas kloset, di kamar
di balik pintu, di toilet, lembar-lembar
kalender sedang melahap usia kita.

Mengapa kalian ikut mendengar?
Begitu caramu bertanya pada kalender.
Bahkan aku susah menemukan kata-kata
hanya beberapa elusan di ubun-ubunmu,
kelak di mana bertumbuhan uban-ubanmu.

Agustus

Tombak siapa bersandar di kamar tidur?

Apa gerangan yang dibisikkan gerendel
kepada lubang pintu yang tak punya kunci?

Dan tas-tas, pintu-pintu, mulut-mulut.
Semuanya kelaparan meminta disuap.

Ketika kau sembunyi di dalam selimut,
senjata di balik bantal geli dan tersenyum
memperlihatkan gigi-giginya yang tajam.

September

Malam ini tiba-tiba saja anak-anak
terjaga dari mimpi mereka yang seragam.

Tentang daun-daun yang terbakar.
Tentang sepasang gadis dalam gelap
yang mengetahui tidak ada musang
atau lelaki jahat di dalam rumah kita.

Hanya alat-alat elektronika yang sakit,
matanya samar dan suaranya kasar.
Televisi bicara kepada dirinya sendiri,
dan pepiring kotor menangis minta dibilas.

Kau dan aku hanya patung yang saling menangisi,
saling mengisi masing-masing tubuh dengan kesedihan.

Oktober

Kau akan pergi jauh. Rumah sudah terlalu hangat
buat tubuhmu yang selalu ingin disepuh angin.

Kau putuskan semua kabel sambungan telepon.

Tulang-tulang, kaleng-kaleng, sepatu kulit,
dan bedak berdebu di lantai. Kau bakar tissu
toilet yang masih bergulung-gulung di gudang.

Kau masukkan kembali botol-botol
ke dalam kulkas yang berkarat pintunya.

November

Kau boleh pergi sekarang, kata lemari
yang menyimpan baju dan kenanganmu.

Aku tak ingin bicara, kata jam dinding
yang menyimpan waktu dan harapanmu.

Tasmu hitam dan menunggu di atas kursi.
Bagaimana mungkin kau tinggalkan rumah?
Meja dapur hanya menatap langit,
tak mampu mengucap kata secakap.

Kau tetap melewati ruang tamu,
berjalan, ke luar dan berdiri di depan pintu.

Jalan-jalan, tak ada seorang pun di atasnya.
Bahkan anjing yang dilepaskan rantainya.
Mobil masih terbuka dan kosong matanya.

Tapi rumput-rumput mulai menangis.

Kau berlari menubruk tubuhku kemudian
memukul, bertanya, menangis sambil memeluk
bahuku yang sebagian besar telah ditelan kalender.

Desember

Kita akan tetap tinggal di sini, katamu
lalu terdiam dan menatap foto di dinding
yang rindu ada tungku pemanas di bawahnya.

Mari ke kamar tidur, kita harus belajar
memahami mimpi anak-anak yang rumit
dan mulai menyingkirkan masa remaja
ke gudang, ke tempat gulungan-gulungan tissu

Di luar jendela, udara dan langit sangat bersih.
Kini kita tak lagi punya alasan untuk bersedih.

Januari

Kalender terus berganti dari Januari ke Januari
lalu kembali lagi ke Januari yang baru, yang sama.

Rumah kita ini, tempat aku-kau-anak-anak tinggal
dan kelak menjadi renta, adalah sebatang pohon
yang berkali-kali tumbang lalu berkali-kali kembang.

Sementara semua kata-kata kita akan jadi tembang.

Makassar, 2008

One thought on “Dari Januari ke Januari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s