Apakah Puisi Ini Membenci (Puisi) Hujan?

Jika pernah kita menangis karena puisi hujan
yang ditulis para peratap-ditepikan-kesepian,
maka sudah saatnya kini kita menertawakan
kenangan itu, yang lucu dan menggemaskan.

Hujan itu daerah kekuasaan bocah dan remaja
yang sudah beranjak dewasa mestilah merela
masa kanak mereka beku di album atau pigura.
Ada dua kecuali: yang mati muda dan pedophilia.

Kita semua tahu, puisi-puisi hujan mereka takut
dan tak mampu menyelamatkan diri saat hanyut,
dihanyutkan ruah banjir air hujan atau air mata.
Tentu kita tidak ingin jadi lemah seperti mereka.

Biarkanlah hujan berjejatuhan itu mengendap
ke dalam puisi-museum para penyair-peratap.

Sebab bahkan sekiranya bertahun-tahun Tuhan
mengguyur tubuh kita ini dengan hujan hutan,
panasnya kata-kata di koran yang melukai kita
tidak akan mampu sembuh sebagaimana semula.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s