Patung Ronald McDonald

Di Makassar, seorang gadis menulis sebuah sajak
kepada kekasihnya yang sedang kuliah di Den Haag
karena mujur lulus beasiswa dari pemerintah Belanda.
Gadis itu sungguh ingin menyenangkan hati kekasihnya.
Ia tahu kekasihnya kuliah di sebuah universitas kiri-akut,
marxist, sangat benci pada kapitalis dan teman-temannya.

Maka ia mengirim sebuah sajak cinta tentang seorang lelaki
yang mati bunuh diri sambil menggenggam selembar gambar
—foto kekasihnya sedang duduk di depan warung cepat saji,
di pangkuan patung Ronald McDonald yang tersenyum ramah.

Sayang, alangkah menyedihkan nasib orang yang mencintai McDonald.
Begitu kalimat terakhir gadis itu di ujung sajak cintanya yang pendek.

***

Di Den Haag, seorang lelaki sungguh sedih membaca sebuah sajak
yang dikirim dari Makassar oleh kekasihnya yang ia rindu siang malam.

Ia berpikir jangan-jangan kekasihnya sudah tidak lagi mencintainya
padahal ia ingin menikahi gadis itu saat pulang ke Makassar nanti.
Maka cepat-cepat ia menulis sebuah surat elektronik singkat,
bukan sajak cinta, dan mengatakan kepada kekasihnya itu:

Sayang, percayalah, sungguh, aku sangat mencintaimu.
Aku selalu merindukanmu—dan jika tidak lagi mampu menahan rindu
aku pergi ke McDonald, berlama-lama memandangi patung Ronald
sambil menjilat es krim. Ketahuilah, patung Ronald McDonald saja
yang selalu mengingatkan dan mengikatkan aku pada Makassar,
dan tentu saja padamu. Sungguh, aku mencintaimu, Sayang!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s