Sungguh, Betapa

Betapa ingin aku menulis sebuah puisi, sebuah saja,
setelah kau pergi meninggalkan tubuhmu entah ke mana.
Mungkin membangun rumah baru di tubuh siapa di sana.

Di dalam tubuhmu aku terkunci tak bisa meloloskan diri.

Sungguh, betapa ingin aku menulis sebuah puisi
untuk aku baca sendiri sambil menunggu kau pulang.
Aku terus saja percaya jika kau pergi, sejauh apapun itu,
suatu saat pasti akan kembali menghuni tubuhmu lagi.

Tetapi tidak ada satu pun kata yang bisa aku gunakan.
Seluruh kata yang aku miliki telah basah oleh airmata.

Sungguh, betapa ingin aku menulis sebuah puisi. Betapa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s