Kepada Seorang Kekasih yang Mati Muda

:mengingat chairil dan gie

Sehari sebelumnya, tiba-tiba kau berubah alangkah bijak,
segala sesuatu mampu kau gubah menjadi bait-bait sajak.
Kartu, kostum bola, topeng, anggur, semua bisa kau ajak
dan mereka terbujuk, tidak ada satu pun yang menolak.

Malam hari, sebelum beranjak menanjak ke tebing-tebing
mimpi yang terakhir, kau mengatakan satu perihal penting.

Sebentar saat aku tidur Kemarin dan Besok akan bermesraan
seperti pemburu dan dayang kesepian di tengah-tengah hutan.
Jika aku tidak beruntung sampai di pangkal bangun, aku minta
kau panggil anak mereka dengan Hari Ini, anggap dia anak kita.

Oleh pemburu yang jatuh cinta kepada dayang itulah kau tertembak.
Dia mengambil nyawamu, memasukkannya ke dalam diri seorang anak.
Malam itu, saat kau berkelahi dengan pemburu, jiwaku ikut tertembak.
Kau tahu, tubuhmu peti paling indah bagi jiwaku yang sejak awal retak.

Tubuhmu yang membawa jiwaku aku kuburkan di ujung kampung kita.
Sebentar lagi di atasnya akan tumbuh sebuah pasar lalu menjelma kota.
Bersikeras tubuhku membesarkan Hari Ini, anak kita itu, sepenuh cinta.
Tetap saja dia berkembang jadi anak yang hanya mengenal duka cita.

Tahun-tahun yang singkat membuat hidup dan matimu sangat memikat.
Tapi anak kita selalu arahnya tersesat, tak tahu ke mana akan berangkat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s