Di Pulau Marlasi

matahari membakar perjalananku menuju Pulau Marlasi
aku merah-bara di atas sampan yang dibasahi ombak kacau
dan sesampai di bibir pantai aku hitam-arang kayu bakau

Pulau Marlasi terlalu kucil di tengah kepungan laut,
terlalu kecil di tengah hamparan ladang air tak berpinggir
hingga rasanya aku terapung-apung diombang gelombang

namun rerumah berdinding-pelepah-beratap-daun rumbia
tak punya wadah berisi air dan tetamu harus sudi minum
ludah sendiri sambil menunggu tuan rumah yang berjalan
tiga hingga empat kilometer di atas cadas batu mencari
akar-akar pepohonan yang ingin berbagi sedikit darah

langit yang panen setiap hari dari ladang air di pekarangannya
tak mau membagi manis-tawar bebuahan kepada Pulau Marlasi

namun di dada mereka yang tipis para lelaki menggali perigi, juga
di rahim mereka yang kempis para perempuan mengandung telaga

di Pulau Marlasi yang kering di tengah subur ladang air
sungguh, aku ingin belajar menahankan segala dahaga

Marlasi, 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s