Di Kepulauan Aru

hujan memburu tubuhku jauh hingga di sini, di Kepulauan Aru,
hujan yang membawa serta dirimu yang aku tinggalkan di rumah
dan remah-remah kemarahan yang ingin aku singkirkan menjelma
menjadi lumpur yang mengotori sepatu dan ujung-ujung celanaku

aku pikir di jarak ribuan dari rumah akan aku temukan langit yang sehat,
langit yang tidak senang bersedih, langit yang kuat menahan air mata
tapi di manapun, tak terkecuali di Kepulauan Aru, langit mudah terharu

maka di kamar hotel aku mengurung diri, namun di terang-siang hari
jendela memperlihatkan pasukan awan kehausan meminum berlaut air
sampai perutnya kembung dan sakit—ia menangis sepanjang malam
persis caramu menangis membuat aku rindu dan ingin segera pulang

sebab semakin sendiri di tengah hujan semakin ramai kesedihan
sebab semakin samar suara tangismu semakin bergetar dadaku

Dobo, 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s