Di Pantai Natsepa

seperti pesanmu datanglah sebulan sebelum lebaran
aku kembali tiba di Ambon membawa rencana liburan

maka dari Pintu Kota kau ajak aku santai di Pantai Natsepa
sangat baik buat orang-orang dirundung murung, jelasmu

setelah peperangan yang membantai banyak keluarga,
teman dan tetanggamu itu melandai, pantai jadi ramai
ditandangi orang—sebab nestapa selalu butuh ombak
untuk menjauhkan lalu mengembalikannya ke benak

di sinilah, katamu, di Pantai Natsepa ini, kenangan itu
selalu memperbaharui dirinya, selalu menyadarkanmu
bahwa ramah dan marah bisa bertukar tempat seketika

kau mengingat senyum-tangis kekasihmu yang mati kau
tikam beberapa menit saja seusai kau mencium bibirnya
kenangan itu selalu kau ingat, kenangan itu selalu hangat

dan kau bertanya, apakah aku membawa nestapa dari kotaku
aku hanya terdiam sembari merasakan ombak menjilati jemari
dua kakiku kemudian pelan-pelan memanjat-membasahi dadaku

deburan ombak Pantai Natsepa, deburan sajak-nyanyi nestapa
liburan sejenak di Pantai Natsepa, liburan rusak dibantai nestapa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s