Puisi di Bulan Puasa

/1/

Di bulan puasa
harga-harga kata naik.

Aku tak mampu beli banyak
kata untuk istri dan anak-anak.

Kita akan makan apa
besok dan besoknya lagi?
Istriku bertanya.

Kita puasa!

Kami, keluarga puisi,
terpaksa harus belajar
menahan haus dan lapar.

Tetapi, kata istriku, puisi
saat puasa tetap butuh kata
buat sahur dan buka puasa.

Kata anak pertamaku:
Ayah, tetangga-tetangga kita
punya banyak sekali kata.

Anak keduaku menambahkan:
Iya, aku selalu melihat banyak kata
dibuang ke tempah sampah mereka.

Mereka keluarga kaya
kita keluarga papa.
Berdoa lalu tidurlah!
Semoga Tuhan mengetuk hati tetangga
dan mereka akan memberi kita
banyak sedekah kata.
Begitu aku menghibur mereka.

Setelah mereka semua tidur
aku meninggalkan kamar,
mengendap-endap ke luar
menuju tempat sampah tetangga
mengumpulkan sampah kata-kata.

Pikirku, ini bisa diolah jadi kata-kata baru.
Lumayan buat sahur dan buka puasa.

Di meja makan, aku melihat anak-anak
menikmati sampah kata yang sudah diolah.
Aku menangis-bahagia.

/2/

Anak-anak puisi
tidak hanya butuh makan
buat sahur dan buka puasa
mereka juga butuh baju lebaran.

Aku tak mau melihat anak-anakku
bersedih-hati di hari lebaran
seperti di hari-hari lainnya.

Setiap malam aku membaca kitab-suci
dan tentu saja tidak lalai sembahyang.
Semoga tahun ini laelatul qadr datang
membawa berkah kepada keluarga kami
agar aku dianugerahi kekuatan bekerja
dan mendapatkan lebih banyak rezeki.

Supaya aku mampu membeli selembar kain
dan menjahitnya jadi pakaian buat anak-anak.
Aku malu jika terus-menerus hanya bergantung
pada pembagian zakat dan sedekah orang lain.

Lebaran kali ini, kami para puisi,
harus bisa tampil lebih bersih
melebihi tahun sebelumnya.
Hati, badan dan baju kami
semuanya harus bersih.

Tak lupa saban usai sembahyang
selalu aku panjatkan doa panjang
agar anak-anak bisa menerima
takdir mereka sebagai puisi.
Hanya dengan begitu orang lain
bisa menerima kami sebagai puisi.

/3/

Semoga bulan puasa ini
memberi kami, para puisi,
banyak pelajaran.

Semoga bulan puasa ini
menyucikan kami, para puisi,
dari kesalahan.

Semoga bulan puasa ini
bukan bulan puasa terakhir
bagi kami, para puisi.

Makassar, 2008

2 thoughts on “Puisi di Bulan Puasa

  1. halo blogger angingmamiri….!Aku dengan tulus meminta kamu untuk mendukung blog aku di ajang anging mamiri awardcaranya gampang banget :klik < HREF="http://www.angingmammiri.org/portal/content/view/419/1/" REL="nofollow">vote Faiz<>jangan lupa yah teman…..blog is for my life“085255238825”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s