Sajak Sahaya Sengaja Bersahaja (2)

Koran Tempo, Minggu, 20 Juli 2008

Zen Hae

DENGAN bahasa yang hendak tetap bersahaja, M. Aan Mansyur juga suka pada permainan berbagai bentuk citraan, termasuk yang mengejutkan, ajaib tapi tidak ganjil. Sebagaimana tergambarkan oleh sajak “Telur Dadar”. Ini sajak tentang situasi yang gila-gilaan dalam pandangan orang yang kelaparan. Sajak ini segera mengingatkan kita pada sajak “Pesta Lapar” karya Arthur Rimbaud. Di situ ia mengibaratkan laparnya sebagai “sosok yang berlari di atas keledai” dan ia (terpaksa) makan apa saja, dari udara hingga batu, dari batu bara sampai besi. Atau novel Lapar karya Knut Hamsun yang memaksa si tokoh utama memakan kayu.

Pada mulanya “aku lirik” sajak ini melihat matahari sore seperti telur dadar raksasa. Lantas lanskap kota masuk lewat antena TV, kabel telepon dan listrik yang membagi-bagi telur dadar itu hingga tak tersisa untuknya. Semua ini mengingatkan ia pada ibunya yang dulu selalu membagi satu telur dadar utuh. Hingga matahari-telur-dadar itu lenyap dan si aku tambah kelaparan. Langit yang kosong kemudian menjelma “piring kotor belum dicuci.” Di bait terakhir si aku masuk ke dalam suasana yang, lagi-lagi, mengharukan:

Sebentar jika gelap melingkup alam,
lampu malam satu per satu padam;
aku merangkak ke luar kamar.
Diam-diam menjilat piring langit
sebelum dibersihkan hujan atau embun
sekadar menghibur perut lapar
lalu tidur memimpikan telur dadar.

Dengan “menjilat piring langit” sebenarnya Aan berpeluang menciptakan citraan surealistis yang lebih wajar lagi. Atau ironi yang lebih mengharukan dari “dengus napas di gagang telepon,” sebagaimana “langit yang memaafkan semua kesedihan yang engkau ciptakan dari kematianku”–tanpa kehilangan komitmennya pada kebersahajaan. Tetapi tidak. Seakan bosan dengan berbagai siasat, ia kemudian menyerah. Tepatnya, ia berkompromi, tidak ambil pusing dengan predikat kepenyairan. Sesekali perlu juga “aku-penyair” menjadi “aku-bukan-penyair”. Sebab hanya penyair yang berkutat dengan berbagai percobaan: bahasa yang indah, metafora yang personal sekaligus segar, melawan klise. Ya, aku kini bukan penyair, maka aku menenggak klise, “bahasa umum yang basi” (sajak “Di Hadapan Mata Jendela”).

Jika “aku-bukan-penyair” boleh menenggak klise, maka penyair yang kehabisan siasat hanya mampu menulis “sajak yang tak indah”. Inilah sajak yang lahir ketika penyair tidak bisa lagi menemukan kata yang indah, ketika bahasa kehilangan kekuasaannya untuk mencipta (tiruan) dunia, saat di depannya hanyalah kemiskinan dan bencana. Subagio Sastrowardoyo tidak bisa menulis puisi lagi karena segala keindahan musnah dari bumi, sementara Aan masih bisa menuliskannya:

BEGINILAH akhirnya yang mampu aku tuliskan;
sebuah sajak yang tak indah

Sebab semua kata yang dulu indah di mata-telinga
telah menyembunyikan dirinya entah di mana
Sementara waktu telah pula mempercepat langkah
seperti diburu bermacam-macam masalah.

Maka lihatlah betapa miskinnya sajak ini!
Seperti seorang janda yang memaksa anaknya
melupakan sepatu dan tas berisi buku dan pensil
agar mau merelakan diri jadi kadal di jalan raya.
Seperti juga tetangganya yang memenggal kepala
anak-anaknya yang menangis meminta makan.

Maka lihatlah betapa koyak sajak ini!
Persis seperti pakaian para pengemis
yang selalu membuat gadis-gadis
jijik dan tak bisa makan berhari-hari.
Persis sebuah kampung yang berkali-kali
dilindas kaki-kaki bencana.

Beginilah akhirnya yang mampu kutuliskan:
sebuah sajak yang tak indah.

Sebab kalimat sudah tak punya tangan
sejak dilukai oleh poster-poster kampanye
calon presiden dan gubernur.
Sementara airmata tak lagi manjur
menyembuhkan rasa sakit atau luka.

Andai saja sajak ini sedikit lebih indah
akan aku sampirkan pada surat cintaku padamu
–cinta yang padanya seluruh rambut,
gigi dan usiaku rela berguguran.

Dengan sedikit permakluman, sajak ini bisa dilihat sebagai sajak cinta yang berhasil menyaru sebagai sajak protes. Ketidakindahan kenyataan di dalamnya bukanlah anasir yang diharapkan memancing simpati pembaca (dan selanjutnya pembaca diharapkan berdiri di barisan penyair) sebagaimana dalam sajak protes, tetapi justru sesuatu yang sebenarnya ingin ditolak penyair. Sebab penderitaan, kemiskinan, dan bencana tidak layak untuk menjadi sampiran dalam surat cinta. Sebab pernyataan cinta menuntut seperangkat keindahan, meski pada saat yang sama keindahan lain sirna: gundul, ompong, renta.

Sajak ini juga membuktikan langkah ekstrem Aan dalam menjalankan siasat “bahasa yang bersahaja”. Kebersahajaan yang hingga batas tertentu masih menyuarakan kejujuran, tetapi lebih mencerminkan kemiskinan ketimbang kekayaan jurus dan bentuk penyairnya.
Apa daya, situasi ini kemudian dipernyata oleh sejumlah kecerobohan Aan membangun sajak-sajaknya. Mulai dari motif yang lenyap tanpa jejak di bait pertama (sajak “Dunia yang Lengang”) hingga larik yang merongrong komposisi (sajak “Telur Dadar”), dari frase yang kedodoran (sajak “Sajak buat Istri yang Buta dari Suaminya yang Tuli”) sampai larik yang mubazir (sajak “Seusai Membaca Neruda, Tiga Melankolia), dari tanda baca yang tidak fungsional hingga permainan bunyi akhir yang sampai pada taraf menjengkelkan.

Mungkin, kita bisa menghibur diri dengan sajak-sajak Aan yang mengambil bentuk epigram dan haiku. Dalam sajak-sajak singkat seperti ini (tentu saja salah satu sebabnya karena larik dan baitnya lebih mudah ditangani) ia masih tampil dalam bahasa yang jernih, meski kemudian kita dihadapkan dengan sejumlah teka-teki (semacam makna yang disembunyikan), di samping kilatan citraan atau lukisan suasana. Letupan singkat yang menimbulkan gema cukup panjang. Sebutlah sepasang sajak “Minggu Terakhir September 2006” dan “Minggu Pertama Oktober 2006.” Dengan begini Aan telah memberikan jawaban yang justru jauh lebih rileks, wajar, dan (tentu saja) bertenaga.

Kembangan Selatan, 5 Mei 2008

Zen Hae telah menerbitkan Rumah Kawin (kumpulan cerita, 2004) dan Paus Merah Jambu (kumpulan puisi, 2007). Tulisan di atas adalah bagian terakhir dari dua tulisan. Bagian pertama termuat di lembar ini minggu lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s