#17 . 2008

Tiga Cara Menulis Sajak tentang Kau
Saat Berada di Sebuah Pulau yang Jauh

Di sini, di pulau yang jauh ini, aku sadari dua hal:
Aku pergi dari rumah hanya membawa sedikit bekal kata
dan kau telah menyimpan rindu di tiap ujung perjalananku.

Di kamar hotel, aku selalu mencari-cari cara menulis
sajak agar kelak aku bisa membawa pulang oleh-oleh:
beberapa sajak untukmu.

1.

Pintu dan seluruh jendela kamar hotel sengaja
aku biarkan terbuka sepanjang siang, Sayang.
Di atas sebuah meja kecil di dekat ranjang
aku siapkan pulpen dan sebuah buku catatan.
Agar langit yang bening, angin yang sejuk,
pantai berpasir seputih wajahmu, debur halus
ombak, juga jejeran pohon kelapa dan perahu
nelayan bisa masuk menulis diri mereka
di atas kertas-kertas lapang buku itu.

Sebelum tidur aku hanya perlu menuliskan
namamu di antara mereka. Ya, begitu saja.
Hanya sebuah sajak yang sungguh sederhana.

2.

Aku membayangkan diriku sebagai suami,
seorang nelayan tua dengan anak sekian.
Saban hari berjuang menerjang gelombang
dan membawa sekeranjang ikan saat pulang.

Di tubir pantai, kau aku bayangkan sebagai istri
dengan senyum paling hangat menyambutku tiba.
Kau bilang telah siap segelas kopi di rumah
dan anak-anak sedang main-main di halaman.

Aku tuliskan saja semua itu, sebab sungguh,
seperti selalu kau bilang, sesederhana itulah
cita-cita yang selalu kau rindukan. Seperti sebuah
sajak yang tidak dipenuhi kata-kata yang susah.

3.

Sebelum langit sore jadi merah sekali,
Anak-anak riang bermain di pantai.
Saling berkejaran dan lepas tertawa.

Aku dan kau, dua di antara mereka.
Aku lelaki kecil yang sungguh peragu,
kau gadis mungil yang sungguh pemalu.

Ketika tiba giliranku mengejar, aku sengaja
mengejarmu dan berusaha tak menangkapmu.
Aku biarkan kau menjauh dari anak-anak lain.

Di sebuah tempat, saat kau jatuh di ujung ombak
aku menangkapmu. Aku menatap dua matamu,
kau menunduk menatap pantulan wajahku di air.
Anak-anak lain menertawakan kita. Wajah kita
jadi merah seperti senja yang sebentar lagi tiba.

Bukankah peristiwa itu sudah jadi sajak
bahkan sebelum kata-kata menyentuhnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s