Tato di Lengan Seorang Lelaki dari Saumlaki

Aku bertemu seorang lelaki dari Saumlaki di atas perahu
yang menyeberangkan aku dari satu pulau ke lain pulau.
Ia mengenakan satu tato berwarna ungu di bahu kanannya
bertuliskan nama perempuan, mungkin nama kekasihnya.

Tak ada seorang pun dilahirkan untuk jadi penyair di sini.
setiap lelaki hanya boleh memilih jadi pelaut atau petani
dan perempuan hanya jadi istri dan mencintai lelaki
melebihi cinta yang bisa mereka beri bagi diri sendiri.

Maukah, harap lelaki itu, tatoku ini kau jadikan sebuah sajak?
seorang tertidur di bahuku dan aku menjaganya dengan tato.
Kau tahu, seseorang yang tertidur di bahumu adalah beban,
tuliskanlah ke dalam sajak, agar kita bisa berbagi beban.

Setiap hari, katanya, aku melepas ikan-ikan ke tidurnya.
Aku ingin ikan-ikan itu memainkan ombak rambutnya.
Tak aku biarkan angin timur merusak pantai matanya.
Dan di dalam sajak kelak kau saksikan pohon kelapa
tumbuh berjejer menyerupai bulu mata paling indah.

Sesampai di pantai, aku tak menemukan satu pun kalimat
Aku tak bisa jadi penyair di sini. Di kamar hotel aku ingat
nama di bahu lelaki itu. Tapi kertas di depanku cuma kertas
kosong seperti tidur tak dikunjungi mimpi, tidur yang tak berisi
ikan yang sedang bermain-main di ombak rambut perempuan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s