#14 . 2008


Menulis Tangis

Kata orang, aku sangat gampang terharu. Ucapan-ucapanku dipenuhi
keharuan yang tidak dibutuhkan. Aku mewarisi dari siapa sifat itu, Ibu?

Tetapi, katamu dulu, anakku tidak boleh menjadi seorang penyair.
Makanya aku tidak pernah menulis puisi. Aku hanya memindahkan
kesedihan yang tidak bisa ditampung tubuhku ke dalam kata-kata
sederhana. Aku tidak pernah menulis puisi. Aku tak mau durhaka, Ibu.

Mungkin benar, tubuhku memiliki urat syaraf haru yang berlebihan.

Tanganku bisa menangis. Kakiku, lenganku, pundakku bisa menangis.
Di setiap akar bulu dan rambutku ada kelenjar air mata. Di perutku,
di dadaku, di pinggang dan punggungku juga ada kelenjar air mata.
Kepala dan otakku adalah pabrik-pabrik yang menghasilkan air mata.
Pipa-pipa pembuluh darahku adalah sungai yang selalu banjir air mata.
Di jantung dan hatiku ada bendungan air mata yang sangat mudah jebol.

Dan sepasang mataku, seperti yang selalu kau bilang, adalah sekolah
tempat langit belajar menciptakan musim hujan. Ibu, apakah itu salah?

Aku lahir dari rahimmu, Ibu, dan menangis saat pertama kau menyentuh
tubuhku. Saat itu, saat aku lahir, dunia memang sudah seperti sekarang,
tidak tahu membuat orang-orang tertawa. Apalagi aku yang lahir darimu,
seorang yang semakin hari semakin ceroboh menyimpan kesedihannya.
Aku lahir dari sebuah keluarga yang memilih belajar mencintai kesedihan
daripada menghentikannya. Semua kisah itu, kau ceritakan padaku, Ibu.

Tetapi mengapa orang-orang menganggapku lemah dan bermasalah, Ibu.
Mengapa mereka menertawai kata-kataku yang dipenuhi kesedihan itu.

Aku hanya ingin bersedih melihat semua peristiwa yang terjadi di sekitarku.
Orang-orang memamerkan deretan giginya bukan untuk tersenyum, Ibu,
tetapi sedang bersikeras menyembunyikan kesedihannya. Itu sungguh
menyedihkan bagiku. Foto-foto di iklan dan poster-poster kampanye juga
seolah-olah tersenyum, tetapi aku mampu melihat air mata di balik tebal
bedak mereka. Dan semua itu tidak bisa mencegah aku untuk tidak menangis.
Dan alangkah menyedihkan jika tidak ada yang mau menangisi suara tangis
yang memenuhi jalan-jalan, perkampungan, udara, radio dan televisi itu, Ibu!

Ibu, sekarang aku lebih banyak menulis. Aku bersahabat dengan kata-kata.
Semua kata-kata meminjam air mata dari tubuhku. Aku sudah bisa sedikit
demi sedikit tidak menangis di depan orang-orang. Tetapi saat malam tiba,
saat orang-orang tertidur aku bangun dan membangunkan kata-kata
dan mengajaknya menangis bersama. Tetapi aku tidak pernah menulis
puisi. Aku tak mau durhaka, Ibu. Aku dan kata-kata hanya menuliskan
tangisan-tangisan kami yang sederhana. Aku tak mau durhaka, Ibu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s