#13 . 2008

Benda-benda di Kamar yang Meminta Aku Jadi Penyair Malam Ini

Pigura. Duduk di atas meja, di dekat buku-buku tak terbaca, berisi kekosongan. Aku memanggil semua wajah yang aku kenal lalu memilah-memilih yang cocok aku penjarakan lagi di dalam pigura itu. Ibu atau kau. Ibu atau kau. Tetapi kalian lebih baik dimasukkan ke dalam puisi.

Poster. Sejak orang-orang mati itu hidup lagi di sini, di kamar ini. Aku selalu membayangkan ada sebuah diskusi atau kami bergiliran membaca puisi hingga pagi. Atau sekadar berbagi kesedihan agar tak perlu ada seorang di antara kami yang membawa kesedihan ke dalam makam.

Lemari. Pakaian yang menyimpan masa remaja. Barang-barang kecil di dalam laci. Atau parfum yang aromanya sering membuat kenangan jadi rumah sakit jiwa untuk ingatanku tentangmu. Aku bongkar. Lalu aku susun dan rapikan lagi. Lalu aku bongkar lagi. Lalu aku susun dan rapikan lagi. Aku seperti penyair yang setengah mati mencari kata-kata untuk menamai sesuatu yang susah dijelaskan.

Sisir. Rambut rontok, cermin dan usia yang tak mau istirahat sedang membenci sisir. Tak ada kata-kata yang mereka ucapkan. Dan memasrahkan diri kepada puisi yang akan menentukan nasib mereka—sambil berdoa semoga tak ada yang lebih istimewa di mata penyair. Sesungguhnya, kata sisir dalam hati, kita adalah saudara, dan pada akhirnya saudara akan menyakiti saudaranya yang lain. Kau pernah mengatakan hal yang mirip dengan itu: semakin dekat semakin sakit. Karena itukah kau pergi?

Jaket. Pernah membungkus tubuhmu beberapa kali dan tubuhku berkali-kali. Semua benda harus pensiun. Maka aku harus pensiun, kata jaket itu. Tetapi perasaan tak punya masa kerja. Ia akan bekerja hingga batas waktu yang tak bisa kita tebak. Seperti juga kehangatan milik jaket itu. Kau sangkal dengan dalih apa pun, ia tetap bekerja di tubuhmu dengan cara-cara yang unik sebagaimana sebuah puisi bekerja pada setiap pembacanya.

Asbak. Aku tak hendak jadi Chairil. Tetapi puntung-puntung rokok dan bekas sulutan di asbak adalah kata-kata yang, aduhai, siapa rela membuatnya sia-sia. Memperhatikan asbak dan abu di dalamnya adalah membaca catatan harian. Dan biar jadi lebih indah, aku ingin memindahkan semuanya ke dalam puisi. Biar kau bisa membacanya dari sebuah koran di sebuah pagi saat kau ingin sekali kembali ke masa lalu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s