Catatan dari Pertemuan Penyair Lima Kota

Catatan dari Pertemuan Penyair Lima Kota di Payakumbuh berikut yang saya ambil dari http://mamaqsahang.wordpress.com/, membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Ah, rupanya mereka membincangkan namaku.

…..

Acara pertama dimulai pada Minggu (27/4) malam, peserta diajak mengunjungi kampung kelahiran Chairil Anwar, di Nagari Taeh, Kabupaten 50 Kota. Sementara pada hari kedua, setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan diskusi dengan menghadirkan pembicara Zen Hae, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta.

Dalam diskusi itu Zen Hae membedah kumpulan puisi seorang penyair muda asal Makasar, M. Aan Mansyur. Dalam pembedahan itu, Zen Hae lebih banyak memuji karya Aan Mansyur. Hampir tak ada celah bahwa puisi-puisi Aan tak berkualitas. Bagi Zen Hae, bentuk-bentuk puisi Aan adalah bentuk sajak bebas yang sesekali menampilkan permainan rima yang ternyata bukan bayangan pantun dan syair. Bagi Zen Hea, Aan adalah penyair yang begitu kuat bermain pada bait-bait yang membengkak. Aan juga kata Zen bisa berhemat dengan semacam epigram dan haiku untuk menyuling makna sambil sesekali menangkap kilatan citraan atau suasana. Bahkan bagi Zen Hae, bahasa Aan lebih jernih dibandingkan dengan Joko Pinurbo.

Namun pernyataan Zen Hae terhadap Aan bagi sebagian peserta diskusi terlalu berlebihan dan terkesan dibuat-buat. Kritik yang cukup pedas datang dari peserta Yogjakarta, yaitu Thendra Bima Putra. Bagi Thendra terlalu gampang memutuskan bahwa penyair muda yang saat ini baik kualitasnya karyanya adalah Aan Mansur. Thendra menduga apa yang dilakukan Zen Hea adalah sebuah proyek atau pesanan yang disengaja untuk menjual buku Aan.

Sementara bagi peserta lainnya, sangat disayangkan Zen Hae terlalu gamang membedah karya Aan, dan buku kumpulan puisi dari Aan belum pernah dibaca peserta. Mengapa tidak membedah kumpulan puisi Kampung Dalam Diri yang merupakan antologi bersama dari peserta dari Yogja dan Sumbar, yang diterbitkan untuk dalam rangka acara Temu Penyair Lima Kota tersebut?

Sementara jawaban Zen Hae terkait soal itu sederhana. “Saya tidak mendapatkan atau dikirimi buku tersebut dan saya pun tak diminta oleh panitia untuk membahas buku tersebut,” katanya.

Sedangkan menjawab pertanyaan lainnya dari peserta terkait bagaimana puisi yang baik, Zen Hae berpendapat puisi yang baik adalah puisi yang menyegarkan dan memberi alternatif baru dalam bahasanya sendiri, yang juga memiliki sintaksis yang kokoh. “Jika ada yang menyebut bahwa ketidakjelasan batasan antara puisi dan cerpen pada saat ini, harus diterima. Hal semacam itu menurut saya memperkaya khasanah perpuisian kita,” ujarnya.

Menurt Zen, dalam menulis puisi harus ada yang namanya disiplin. Mulai dari memilih kata dan frase, merancang larik dan bait, hingga komposisi sajak secara keseluruhan.

…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s