[ulasan] aku hendak pindah rumah #11

OEDIPUSCOMPLEX DAN KENANGAN-PENGGANTI

oleh Aslan Abidin

Usiaku baru tiba di angka empat
ketika sebuah bus berhenti di depan rumah
lalu pergi membawa lambaian ayah.

Ketika itu ibu mengenakan senyuman.
Pikirku, pasti ia sedang bahagia.
Jadi aku kenakan juga senyuman
sebab aku pun ingin bahagia.

Kini aku sudah jauh meninggalkan usia empat.
tetapi bus yang dulu itu tidak pernah kembali
juga ayah beserta oleh-oleh yang dia janjikan
.

Karya sastra selalu memberi “data mental” kepada pembaca untuk mengenali konstruksi sosial-budaya masyarakatnya. Gambaran masyarakat berkecenderungan patriarki misalnya, dapat dilihat dari penggalan sajak Aan Mansyur berjudul Tentang Senyuman Ibu di atas.

Sajak ini memperlihatkan bahwa ayah adalah makhluk luar rumah dan ibu makhluk dalam rumah. Ayah melambai meninggalkan rumah dan ibu tersenyum menunggu ayah di rumah.

Masalah lalu muncul setelah waktu yang panjang berlalu dan ayah tidak pernah kembali. Sementara si anak, yang menjadi saksi dan bagian dari peristiwa perginya ayah dan tersenyumnya ibu, masih terus menyaksikan menunggunya ibu. Sampai akhirnya, si anak sadar bahwa ibunya dan juga dirinya, secara perlahan telah berubah menjadi korban.

Oedipus-Complex

Selanjutnya, untuk membicarakan sajak-sajak M Aan Mansyur dalam bukunya Aku Ingin Pindah Rumah (2008), marilah mencoba melihatnya dari perspektif Oedipus Complex-nya Sigmund Freud. Pandangan ini, tentu saja merupakan “teks” yang pangkal-ujungnya terbuka lebar bagi saling-silang pendapat.

Konon istilah Oedipus Complex diilhami nama tokoh Oedipus dari drama tragedi karya Sophocles, khususnya Oedipus Rex. Oedipus disebutkan membunuh ayahnya, Laius, lalu mengawini ibunya, Jocasta. Freud menyebut gejala Oedipus Complex mulai muncul dalam diri seorang anak di usia sekitar tiga sampai enam tahun.

Ketika itu, si anak mulai mencintai secara mendalam seorang dari kedua orangtuanya dan membenci seorang lainnya. Anak lelaki akan mencintai ibunya dan membenci ayahnya sebagai saingannya atau anak perempuan akan mencintai ayahnya dan membenci ibunya. Menurut Robert M Young (2001), Freud meyakini bahwa gejala klinis tersebut bersifat universal.

Ada lebih dari satu judul sajak Aan Mansyur dalam buku Aku Hendak Pindah Rumah yang berkisah tentang aku-lirik yang kasih dan simpati kepada ibu. Sebaliknya, ada sajak-sajak yang menempatkan aku-lirik terkesan anti-kasih dan tak-simpati kepada ayah. Si aku-lirik cinta ibunya dan benci ayahnya.

Dalam sajak Gambar Mirip Ibu, Aan menulis: …hari kedua dia berubah jadi ayahku: suka marah-marah dan mengangap aku/ selalu sebagai seorang anak kecil yang tak memahami apa-apa./ Setiap hari dia menanam keperihan-keperihan baru di dadaku.

Ada beberapa sajak lain, seperti Puisi Tentang Doa Yang Terbata-bata, Mencari Tubuh Ayah, maupun Interogasi, yang seperti memberi isyarat bahwa bahwa ayah berada di sisi yang tidak menyenangkan aku-lirik.

Kenangan-Pengganti

Sajak-sajak itu, terutama Tentang Senyuman Ibu, dapat dipahami sebagai kenangan si aku-lirik terhadap sebuah kejadian di masa kecilnya. Kenangan itu juga bukanlah kesan (menyenangkan) dari masa kecil si aku-lirik. Sehingga dapat diajukan pertanyaan berhubungan dengan pilihan pengarang tersebut: mengapa justru pengalaman tidak berkesan menyenangkan yang muncul untuk diolah secara estetik menjadi sajak?

Jawabannya dapat dikemukakan dengan kembali mengutip pendapat Freud. Menurutnya, kenangan masa kecil yang berkesan sering tergeser atau tertutupi oleh kenangan lain yang lalu menjadi kenangan pengganti. Freud menyebutkan bahwa kenang-kenangan masa kecil itu bukanlah jejak-jejak ingatan dalam artian sesungguhnya, tetapi telah mengalami subtitutive formation atau pergeseran maupun pengolahan yang dipengaruhi gejolak psikis ketika orang itu tumbuh dewasa.

Selain mengalami pergeseran, pengalaman itu juga telah diseleksi untuk diolah secara estetik oleh pengarang untuk menjadi sebuah karya sastra. Pergeseran-pergeseran kenangan itu, tentunya juga melibatkan pengalaman sosial dan pandangan intelektual-ideologis pengarangnya.

Sehingga, sajak-sajak tentang pengalaman masa kecil, kemungkinan muncul dari proses tumpang-tindih kenangan dengan hubungan-hubungan luar. Melalui proses tersebut –sampai menjadi sebuah karya sastra— pengarang melakukan penilaian bahkan penghakiman atas apa yang telah dialaminya. Pengarang dalam karyanya, dapat menunjukkan kecintaaan ke seseorang dan kebencian ke seorang lainnya yang berasal dari masa lalunya.

Sampai ke soal ini, bolehlah dikatakan bahwa anak memang merupakan hakim yang paling berhak memvonis, apakah ibu-bapaknya orangtua yang baik atau buruk. Aku-lirik sendiri menggunakan hak penghakimannya itu sampai ke tingkat transenden di akhirat. Ia memprotes cara Tuhan menghisab-menginterogasi manusia.

Pertanyaan siapa Tuhanmu dan siapa nabimu dalam sajak Interogasi, disanggahnya sebagai: mengapa tak ditanya siapa nama ibu dan ayah yang menelantarkanmu di jalan raya. Padahal kau lebih merindukan keduanya melebihi apapun melebihi siapapun.

Kepergian ayah dari rumah memang membuat masalah yang sangat serius bagi aku-lirik, dua orang adiknya, dan ibunya. Pengarang pada sajak Sahabat-sahabat Ibu, dalam mengungkapkan persoalan tersebut, sampai harus menggunakan idiom-idiom berasosiasi tajam seperti pisau, gunting, jarum, dan cermin. Benda-benda itu, selain fungsi denotatifnya, juga dapat digunakan untuk melukai, sehingga memberi efek kecemasan.

Sejak kaki ayah tak lagi mengenal bilah-bilah/ lantai rumah kayu yang pernah dibangunnya./ Dan aku serta dua adikku memiliki pikiran/ masing-masing yang berbeda satu sama lain./ Ibu bersahabat dengan benda-benda tajam.

Tak heran bila aku-lirik kemudian bersimpati dan jatuh cinta kepada ibunya. Lantas, apakah itu salah? Tentang pertanyaan tentang Oedipus yang bahkan mengawini ibunya, Jocasta sendiri menjawab:

“Lebih baik hidup sebaik mungkin dari hari ke hari. Anak yang mengawini ibunya tidak perlu membuatmu takut. Banyak pria yang mengimpikannya demikian.”

Aslan Abidin, seorang penyair dan mahasiswa Sastra Pascasarjana UGM Yogyakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s