[ulasan] aku hendak pindah rumah #9

‘Aku Hendak Pindah Rumah’ – Sebuah Catatan Pembacaan Sajak-sajak Aan

oleh Epri Tsaqib


SEBUAH POHON

KECUP yang kau tanam di keningku
kini telah tumbuh jadi pohon lebat

Akar, batang dan cabang-cabangnya kuat
tempat anak-anak senang memanjat

Sesekali
tidakkah kau ingin datang
mengecap kecut buahnya?

[M. Aan Mansyur ; Aku Hendak Pindah Rumah, halaman 99]

Metafora ’sebuah pohon lebat’ yang tumbuh dari sebuah kecupan pada bait pertama dalam puisi Aan ini adalah sebuah pembukaan yang menurut saya sangat berhasil menggiring kita [atau saya setidaknya] untuk menelusur lebih jauh dan bahkan menuntaskan bacaan saya atas puisi ini.

Sebagai pembaca puisi, saya [mungkin juga anda] memerlukan bait-bait pertama seperti yang Aan buat dalam puisi ini. Ada kejutan yang memaksa saya untuk meneruskan bacaan karena ada semacam dorongan untuk mengetahui lebih jauh apa yang hendak dikatakan penyair melalui puisinya.

Pada bait kedua Aan juga saya kira masih kuat membawa imajinasi kita tentang pencitraan pohon di bait pertama dengan mengatakan bahwa hasil kecupan tadi telah menjelma menjadi akar yang kuat demikian pula batang dan cabang-cabangnya, yang dengan kekuatannya itulah bahkan anak-anak pun suka sekali bermain di antara batang-batangnya.

Bukan main hebatnya hasil sebuah kecupan tadi kepada aku liris dalam puisi ini bukan? Anda tentu saja boleh dan bahkan sama sekali tidak dilarang untuk melarikan imajinasi anda kepada apa saja tentang tawaran Aan pada kata KECUP dalam puisinya, seperti sebuah cinta yang agung, sesuatu peninggalan warisan yang sangat berharga, kecup sebagaimana kecupan pertama sang kekasih, atau bahkan kecupan perpisahan atas sebuah ikatan sakral yang disepakati dua insan, yang tentu saja berasal dari seseorang yang begitu dicintai oleh setidaknya aku liris pada puisi Aan ini. Dan anda sekali lagi tidak dilarang untuk mempresepsikan apapun dari kata kecup di bait pertama tadi.

Begitulah puisi Aan ini saya rasakan masih mampu ’membetot’ pikiran dan bacaan saya, hingga kemudian saya menemukan bait terakhir dalam puisi ini. Pada bait ini, terutama pada kata ’kecut’ di baris terakhir puisinya, Aan kelihatannya ingin membuat semacam ironi pada puisinya. Kata kecut dalam baris itu memang menjadi penanda penting dari jenis puisi bertema ironi yang saya kira sedang dibangun oleh Aan.

Pada sebagian penyair, membuat puisi dengan tema ironi boleh jadi dirasakan menjadi sulit dilakukan. Karena ironi dalam sebuah puisi bila tidak hati-hati memilih puncak pembalik keadaan dari penceritaan yang sebelumya dianggap dan difahami sesuatu yang manis, baik, agung atau adiluhung, untuk kemudian dijungkirbalikkan menjadi yang sebaliknya seperti pahit, pedih, kotor, palsu, rendah atau nista sekalipun, tentu tidaklah mudah.

Kita [atau sekali lagi setidaknya saya] mungkin akan segera teringat pada puisi-puisi ironi yang sering ditawarkan oleh para penyair seperti Joko Pinurbo dan Afrizal Malna yang sering bukan saja menawarkan puisi ironi semacam yang ditawarkan Aan pada puisinya kali ini. Joko Pinurbo misalnya, sering kali meramu jenis-jenis puisi ini dengan semacam parodi yang tentu saja bukan saja menghentak, namun akan memberi efek yang akan membekas lebih lama dalam fikiran pembaca. Salah satu cara ucap yang kemudian menjadi ciri khas yang menjadi miliknya dalam membawakan menyajikan puisi.

Paradoks kecut dari sebuah KECUP dalam puisi Aan ini saya kira termasuk puisi-puisi yang berhasil dibangun oleh Aan dalam buku kumpulan puisi ’Aku Hendak Pindah Rumah’ yang beberapa waktu lalu di launching di TIM Jakarta bersama kumpulan cerpen Yulianti Farid yang juga sama-sama berasal dari Makassar Sulawesi Selatan. Selain itu ada juga beberapa yang saya anggap juga berhasil namun bukan sebagai paradoks seperti sajak ’Mata Ibu’, ’Walau Waktu telah Jauh, Juga Kau’, ’Riwayat Dinding dan Dingin’ dan tentu saja ’Dunia yang Lengang’ yang masih berkutat soal cinta sebagai tema sentral yang kental dengan kecerdikan Aan membungkusnya bersama citraan suasana penghematan kata dalam sebuah situasi yang menarik. Berikut ini selengkapnya :

DUNIA YANG LENGANG

SEBUAH usaha, agar orang-orang
Lebih banyak bicara dengan mata,
Pemerintah membuat aturan ketat:
Setiap orang hanya berhak memakai
seratus tiga puluh kata per hari, pas

Jika telepon berdering, aku meletakkan
Gagangnya di telingaku tanpa menyebut Halo.
Di restoran aku menggunakan jari telunjuk
Memesan mi atau Coto Makassar. Aku secermat
Mungkin melatih diri patuh aturan dan berhemat.

Tengah malam, aku telpon kekasihku
Di Jakarta, dengan bangga aku bilang padanya:
Aku menggunakan delapan puluh sembilan
Kata hari ini. Sisanya kusimpan untukmu.

Jika ia tak menjawab, aku tahu, pasti
Ia telah menghabiskan semua jatahnya
Maka aku pelan-pelan berbisik: Aku
Mencintaimu, sebanyak lima belas kali.


Setelah itu, kami hanya duduk membiarkan
Gagang telepondi telinga kami dan saling
Mendengar dengus nafas masing-masing.

[Halaman 23 dari kumpulan sajak ’Aku Hendak Pindah Rumah’]

Kecerdikan sekali lagi, adalah juga kelebihan yang memang semestinya dimiliki penyair jika menggunakan tema-tema sajak terang seperti sajak Aan di atas tadi. Tema cinta yang begitu sering kita dengar bisa tetap menarik bila disajikan dengan cara penceritaan yang kreatif.

Tema sentral yang banyak dipilih Aan pada kumpulan sajak ini, sayangnya juga sering menggelincirkan Aan pada ungkapan-ungkapan yang terlampau terang seperti pada prosa sehingga kesan standar bahkan klise untuk ditampilkan pada sebuah sajak seperti pada sajak di ’Hadapan Mata Jendela’ berikut ini : Nanti sebatang rokok akan membunuhku/ sebatang saja, bukan berbungkus-bungkus/ sebab matiku setengahnya karena engkau/ aku memikirkan keselamatan dan kebahagiaanmu/ meskipun engkau tak mau lagi peduli dengan itu.

Membuat sajak panjang, seringkali memang seperti memasang jebakan pada jalan yang sedang kita lalui. Bila tidak hati-hati, penyair akan tersangkut dan akhirnya akan mengganggu perjalanan pembacaan kita pada sebuah sajak. Ini persis seperti rambu yang saya yakin disepakati Aan yang disampaikannya pada sajaknya sendiri, yang kemudian dijadikan judul pada kumpulan sajak keduanya ini yakni Aku Hendak Pindah Rumah, begini bunyinya :

Kalimat yang suka berdandan, tidak pernah cantik, bukan?

Akhirnya saya ingin mengatakan bahwa bagaimanapun Aan adalah salah seorang penyair yang menurut saya rajin melakukan percobaan pada kumpulan sajaknya kali ini. Potensi Aan dan karya-karya berikutnya dengan melihat buku keduanya ini saya kira cukup menjanjikan. Aan saya kira juga harus berani melepaskan ikatan bayang-bayang penyair pendahulunya yang saya rasakan sangat terasa sekali pada tampilan karya-karyanya kali ini. Bayang-bayang pendahulu bagaaimanapun tentu tidak haram untuk dimunculkan pada sajak-sajak seseorang, karena kita hidup dalam lintasan sejarah dan interaksi yang ketat, akan tetapi bila hal itu dipakai terlalu banyak bukan tidak mungkin kita terjebak ke dalam sarang bersangkar emas milik orang lain yang kita pakai untuk memenjara diri kita sendiri bukan?

Selamat buat Aan sekali lagi, meskipun banyak sekali pertanyaan-pertanyaan Zen Hai [pembahas buku Aan saat launching di Jakarta] dan saya sendiri yang belum sempat terbahas dalam launching buku ini saat di TIM tempo hari, saya ingin katakan bahwa saya masih bisa merasakan kenikmatan pembacaaan pada sebagian sajak-sajakmu dalam kumpulan ini, semoga sukses untuk karya-karya berikutnya.

Sebagai penutup, saya kutipkan salah satu bait-bait sajak yang saya suka dari kumpulan sajak ini berjudul ’Mata Ibu’ :

Sejak dulu kala
matamu hulu kali

Airnya lelehan cermin
menggenangi pipi, telaga tempat ikan-ikan
berenang: anak-anak yang engkau lahirkan
dan tumbuh dewasa lalu melepaskan
siripnya di antara batu-batu

Air itu jualah menguap ke langit
sebab tak ada mulut laut
mau jadi muara

…….

[MATA IBU, halaman 59 dari kumpulan sajak Aku Hendak Pindah Rumah]

Aan, saya sudah penuhi permintaanmu sesaat sebelum berpisah di TIM tempo hari ya. Dan bagi anda para pembaca resensi ini, saya ucapkan, selamat meneruskan pembacaan anda terhadap buku ini! Anda boleh tidak setuju dengan saya, boleh ikut mengkritik atau berdiskusi soal ini demi pembelajaran kita semua dan wabilkhusus bagi saya sendiri yang penuh kekurangan ini.

Salam.

Epri Tsaqib
Penyair, Pedagang Kaki Lima Dunia Maya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s