[ulasan] aku hendak pindah rumah #8

Pilihan ke Luar atau (Tetap) di Dalam

Muhammad Ridha


Saya adalah orang yang termasuk sering datang menemui saudara M. Aan Mansyur (MAM) untuk berkonsultasi sekaligus ‘sekolah menulis’, khususnya menulis sajak. Kurang lebih sekitar setahun saya berkenalan dengannya. Dan sejak pertemuan pertama saya sering menemui kekagetan-kekagetan, karena apa? Pertama, dalam perjumpaan setahun ini saya mendapatkan sajaknya tiga kali terbit di Kompas, media nasional yang dianggap paling merepresentasi kekuatan sebuah karya (walaupun ini bukan standar kebaikan sebuah karya). MAM berhasil menembus supremasi sastra nasional yang paling disegani oleh penyair-penyair di pelosok negeri ini. Ini ditambah lagi dengan penerbitan tulisannya di Panyingkul.com dan beberapa esainya di beberapa buku antologi.

Kedua, sosoknya yang kurus, wajahnya yang tirus hampir merepresentasi perawakan seorang sastrawan yang hebat menurut ukuran ‘kepala’ saya. Saya tidak tahu siapa yang menanam standar kehebatan penyair dengan wajah serta perawakan seperti ini mulanya di kepala saya. Tapi ini kenyataan dalam bawah sadar saya.

Kedua alasan ini sering membuat saya kaget. Seolah-olah saya sedang ketemu Hairil Anwar, atau Sapardi, atau yang lainnya.

Sajak MAM merepresentasi (mungkin) suara samannya. Saman yang sedang dirundung rindu pada kesederhanaan pada semua tempat. Politik, ekonomi, kepemimpinan, kemasyarakatan, atau kebudayaan, juga dalam bahasa (sastra). Sastra, khususnya, karya MAM ini menyimbolkan jawaban atas kerinduan itu. Sebuah ekspresi spiritual tentang pentingnya sebuah kesederhanaan. Bahasanya dalam sajak meminjam kata Hasan Aspahani dalam pengantar buku Aku Hendak Pindah Rumah sajak MAM ‘membuat kita percaya kalau Bahasa Indonesia itu kaya’. Kaya, mungkin, dalam artian kalau tanpa menggunakan bahasa asing, yang hilir mudik buncah begitu saja dari mulut kita, pun sajak itu bisa padu, indah dan ‘bercita rasa’. Ini bisa dicontohkan misalnya pada sajak pada sebuah tengah malam: udara begitu kelam,/diam bagai air kolam//engkau mengendap-endap ke dalam kenangku/pelan meletakkan satu ciuman di keningku.//lalu seluruh waktu silam/tiba-tiba ngin kembali aku sulam//wahai, di mana gerangan kini engkau tertambat,/jika sekarang aku pulang apakah aku terlambat?

Atau misalnya simak sajak Doa: ingatkan agar aku sadar/usiaku akan pelan-pelan/berubah jadi bumi//ingatkan aku seluruh tangan/yang pernah menanam bebijian/di ladang tubuhku//sebab aku ingin melihat mereka/merayakan pesta dimusim panen.

Dua sajak ini selain merepresentasikan sebuah kesederhanaan pilihan kata, juga menyimbolkan sebuah perlawanan keluar. Ini adalah sebuah pilihan untuk zuhud. MAM mencoba untuk berpuasa dalam menggunakan kata-kata yang rumit, mewah, impor dan yang ‘tingg-tinggi’. Ia menggunakan kata seadanya, kata-kata sehari-hari tapi MAM berhasil mengubahnya jadi sajak yang menawarkan sebuah suara ‘yang lain’. Berupa suara yang hendak menentang konsumerisme bahasa. Mungkin dia tahu kalau bahasa indonesia kita sudah demikian tersudut di sudut bibir kita sendiri penuturnya. Bahasa Indonesia tergeser oleh bahasa Inggris atau bahasa asing yang dengan santai dan pelan-pelan menggeser bahasa indonesia sampai ke titik marjinal. Di ruang publik misalnya kita akan cenderung malu menjadi seseorang yang tak fasih bahasa Inggris. Iklan-iklan kita menjadi berbahasa asing semua. Bahkan Pilkada untuk menawarkan calon yang juga orang indonesia asli posternya harus berbahasa Inggris. Sebuah kekerasan yang nanti akan mengeliminasi eksistensi bahasa indoensia sendiri. Saya percaya kalau bahasa adalah sesuatu yang dinamis, bisa saling isi antara satu bahasa dengan bahasa lainnya.tapi bahasa inggris demikian massif mengganti kosakata-kosakata Indonesia menjadi inggris. Orang minta tolong akan bilang please dong, atau orang bilang kenapa tidak akan diganti dengan why not atau juga misalnya di hand phone kita akan ada SMS dengan tulisan BTW yang artinya by the way. Tidak cukupkah bahasa indonesia menyiapkan kosakata untuk kita pakai? Jawabannya menurut MAM saya yakin cukup. Sajaknya menjawab pertanyaan itu dengan menggunakan semaksimal mungkin bahasa Indonesia yang sederhana untuk menampilkan tampilan estetis sebuah sajak.

Dari perjuangan melawan konsumerisme bahasa ini MAM kemudian menelanjangi sajak. Ia ingin sajak yang telanjang. Tidak terperangkap dalam berbagai-bagai ungkapan yang membuat kita bingung. Ini misalnya dia sampaikan dalam sajak di Taman Depan bukunya engkau dan sajakku: engkau selalu sengaja memilih busana yang sederhana/agar kecantikanmu tidak karam ke dalam kemewahan./aku selalu sengaja memilih bahasa yang bersahaja saja/agar makna sajakku tidak lenyap di perangkap ungkapan.

Saya kira inilah makna zuhud di era konsumerisme bahasa ini. Sebuah pilihan sikap yang menjauhkan diri dari keglamouran bahasa, konsumerisme serta kejauhan bahasa sajak dari khalayak. Ia mencoba menciptakan jarak yang tidak begitu jauh antara sajak dan pembacanya.

Namun demikian penulis melihat ada sesuatu yang paradoks di sini (buku Aku Hendak Pindah Rumah, maksudnya). Seperti halnya yang selalu dikatakan pada saya sejak sajaknya yang terakhir sekitar tiga bulan lalu di kompas terbit ‘kalau sekarang ia sedang ingin ke luar’. Ia sedang berusaha untuk ke luar ke ranah sosial yang demikian luas untuk disorot. Ia ingin tidak melulu ada dalam problem dalam dirinya sendiri. Dia misalnya sudah mulai menyorot kebijakan pemerintah yang perlahan dan tanpa kita sadar sudah terlalu jauh masuk ke dalam hal yang paling pribadi dari kita, atau tentang lubang di jalanan yang tidak pernah diperhatikan, tentang riuhnya jalanan, tentang hutan yang terbakar, tentang kota, dll. Tapi sepertinya usahanya untuk ke luar masih terseok-seok oleh ‘sajak cinta’ yang egois.

Keinginannya untuk ke luar misalnya bisa dilihat pada sajak Dunia Yang Lengang, Puluhan Tahun Kemudian, Sajak Buat Istri Yang Buta Dari Suami Yang Tuli, Tentang Senyuman Ibu, Sebuah Sajak Yang Tak Indah, atau Lubang Untukmu serta Kota: Anak Desa Yang Kurang Ajar. Tapi rupanya sajak-sajak yang ingin keluar ini masih di penjara oleh sajak yang masuk ke dalam. Masuk ke dalam dalam artian hanya melulu membahas dirinya sendiri. Membahas dirinya sendiri. Sajak yang tampak egois dan menutup mata atas problem di luar yang mestinya juga dipikirkan oleh penyair.

Saya kira saya tidak berada tepat pada pemikiran tentang seni yang harus berpolitik seperti misalnya realisme sosialis yang dipertunjukkan oleh Pram, atau Widji Tukul atau juga mungkin Rendra atau yang terbaru misalnya Fadjroel Rahman atau dalam bentuknya yang lain Acep Zamzam Noor. Saya hanya ingin melihat sedikit saja tampilan sebuah sajak yang lantang berteriak tentang keadaan sosial yang timpang, curang dan tidak berkeadilan. Saya hanya ingin menyaksikan sedikit saja sajak yang berani menjadi ‘pengeras suara’ rakyat yang kurang beruntung.

Hal itu ingin ditunjukkan oleh MAM, saya kira. Ia ingin sekali ke luar ke persoalan yang lebih luas. Ia ingin sekali berkata dengan kata-kata yang bersuara parau untuk untuk keadilan. Saya kira MAM tahu itu. Walaupun saya tahu dia memilih jalan yang lain. Jalan yang mungkin tidak sevulgar sajak Widji Tukul. Widji Tukul misalnya bilang: bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya sudah gawat,/bila omongan penguasa tidak boleh dibantah, kebenaran pasti terancam./ apabila usul ditolak tanpa ditmbang, suara dibungkam,/kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan,/maka hanya ada satu kata: lawan!

MAM sendiri akan bilang dengan lirih, dan mungkin sedikit berbisik ‘kota menyuruh anak-anaknya pergi ke kampung/ membangun villa dan membuka usaha tambang./orang-orang asing gatang berwisata dan pulang/ membawa bertruk-truk emas, minyak dan uang.

Sajak terakhir ini menunjukkan MAM sedang ingin keluar. Ia ingin sekali berteriak tentang tanah, tentang emas yang dirampas, tentang minyak yang habis dibawa lari, tentang kita yang hanya tinggal melihat-lihat. Saya kira MAM tahu negeri tidak sedang baik-baik saja. Ada banyak masalah. Hingga mungkin MAM sedang terjebak antara pilihan ke luar yang menggebu naluri sosialnya atau (tetap) di dalam yang sudah menjadi gayanya dalam sajak?

One thought on “[ulasan] aku hendak pindah rumah #8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s