[ulasan] aku hendak pindah rumah #7

Hajatan Sebelum Pindah Rumah

Dedy Hermansyah

An, saya bukanlah pengulas sajak yang handal. Saya hanya seorang awam yang menikmati sajak dengan cara apa adanya. Jika ada sajak yang saya suka, ia akan senantiasa bermukim di kepala, tapi jika tidak, saya pun tak akan mengumpat. Sebab, bagiku, sajak tak mesti altruis, sekali-kali ia mesti egois. Jadi, jika ada hal yang dirasa tak biasa dan konyol dalam menafsir sajak-sajak yang ada dalam “Aku Hendak Pindah Rumah”, mohon dimaklumi. Jujur saja, seandainya bukan karena hutang beberapa ratus kata untuk membayar buku itu, mungkin saya tak akan menulis tulisan yang diusahakan menjadi ulasan atawa resensi ini (ah, An, saya begitu iri membaca begitu banyak ulasan tentang buku itu. Mampu tidak, ya, saya menulis seperti itu?)

Baik. Jika ditanyakan kepada saya pendapat perihal sajak-sajak dalam buku Aku Hendak Pindah Rumah, saya akan menjawab, sajak-sajak di sana bagus-bagus (tuh, kan, basi!). Begini, sebuah sajak dikatakan bagus, menurutku, tak mesti berisi pujian. Ia membuka begitu banyak kemungkinan untuk ditafsirkan. Artinya, ia memberi ruang dialog bagi banyak ‘kubu’ untuk berpolemik. Ini penting.

Selanjutnya, sajak-sajak dalam buku ini seperti mendewasakan dirinya sendiri. Bagi orang yang mungkin berpendapat penyair yang menulis sajak cinta pasti penyair cengeng, kontradiksi hidupnya pasti tak jauh dari ketentraman dan kenyamanan hidup, mereka harus kecewa. Buku ini dengan begitu lirih, tidak berteriak-teriak ketika membicarakan perihal sosial. Dan seperti itulah: sajak-sajak dalam buku ini tak hilang keromantisannya meski di sana-sini diselipi protes terhadap kondisi sosial yang miris.

******

Sesungguhnya saya pernah punya kekhawatiran besar saat mendengar Aan “akan pindah rumah”. Dari diskusi dengan sesama anggota Komunitas Jalan Pulang (Kojapu) di danau Unhas, di sekret Idefix, dan ruang pustaka biblioholic, Aan selalu mengulang hal itu. Ia selalu geram kepada orang-orang yang menafsir sajak cintanya dengan begitu dangkal. Dan pada masa bulan madu Kojapu, harus diakui, Aan paling produktif dengan menuliskan berlembar-lembar puisi yang sangat berbeda dengan puisi-puisinya terdahulu. Seingat saya, “Pagi Ini”, “Kota: Anak Desa yang Kurang Ajar”, “Dalam Sajak Ini Ada Kota yang Terbakar”, “Mengejar Kaki-kaki Kota”,dan puisi sejenis itu, ditulis saat puasa, di mana masing-masing kami bepisah untuk berpuasa dan lebaran di kampung halaman kami. Bandingkan keseluruhan sajak dengan puisi-puisi disebutkan tadi. Akan sangat terasa keseriusan Aan untuk meluaskan tema sajaknya, seperti kata Hasan Aspahani.

Yah, puisi Aan Aku hendak Pindah Rumah, saya tafsirkan sebagai manifesto pribadi untuk tak lagi melulu terjebak pada tema cinta:

*****

Aku hendak pindah rumah. Rumah yang lama
Biarlah kenangan. Rumah yang berisi aroma
Hujan juga wajah yang melulu dipenuhi sedu
Atau sedih yang tak mau sudah. Terlalu teduh
Rumah seperti itu. Sungguh, aku rindu pada peluh.

Saya tidak tahu, apakah bait puisi ini dimaksudkan untuk membunuh sekian puisi yang berbicara hujan, kesedihan tak berkesudahan, serta kenangan yang meneduhkan. Karena saya tahu benar, sebuah keputusan besar dan beresiko bagi seorang penyair untuk mengikrarkan perihal “pindah rumah”. Sangat sukar membangun sebuah rumah dari awal: menggali lubang untuk penguat pondasi, membangun tembok untuk pembatas, dan memasang atap untuk berteduh.

Atau mungkin saya salah. Rumah tempat Aan akan pindah jauh dari makna rumah secara fisik.

Aku mulai benci tetanggaku. Mereka selalu percaya
Hidup itu lebih indah dinikmati dengan mata terkatup.
Kadang-kadang ada orang tandang ke dalam tidurku
Meminta aku jadi Ibrahim. Bakarlah mereka, katanya.

Tapi akhirnya aku pilih membakar rumahku saja
Seperti sebuah upacara kremasi mayat sendiri.

Ini alasannya Aan akan pindah rumah. Ia benci pada orang-orang yang menikmati hidup dengan mengatup mata, mengalihkan pandangan dari sekeliling. Sementara dalam mata sepenuh terbuka, begitu banyak hal yang mesti diperjuangkan. Begitu banyak rencana jahat yang tengah mengendap ke dalam bilik-bilik kamar orang tak berdaya. Tafsiran ini dikuatkan oleh kata-kata Aan dalam berbagai diskusi kecil kami.

Tapi, sebelum Aan memutuskan untuk membakar rumahnya sendiri, aku sarankan agar menggelar hajatan perpisahan untuk seluruh penghuni yang bermukim di taman-taman, rumah-rumah dan pintu-pintu di dalam buku ini. Atau tundalah dahulu—bila perlu batalkan saja—rencana pembakaran itu. Biarkan hujan tumbuh di halaman rumah sepasang suami-istri yang salah satunya buta dan satunya tuli. Mungkin suatu hari laki-laki yang lama ditunggu akan kembali.

*****

Aku hendak rumah. Aku cari sebuah negeri
Yang penghuninya diizinkan mencaci hidup sendiri
Dan orang lain, negeri yang tidak memiliki penjara
Dan polisi bagi orang yang suka memaki jika bicara.

(Hahaha… Aan, apa-apaan ini? ini mimpi gila. Ini keinginan edan. Saya tidak bisa membayangkan betapa beratnya perjalanan yang harus ditempuh untuk mencari negeri serupa itu).

Aan, jujur, dulu saya pernah pesimis, pilihan kata seperti Polisi, Penjara, Memaki, Mencaci, tak akan berhasil memberi warna puitis dalam puisimu. Apalagi membayangkan seorang Aan macam-macam membayangkan dunia gila seperti bait tadi. Tapi saya salah. Saya tak tahu, perihal apa yang membuat kata-kata ini bisa menjadi cocok dengan puisimu.

Aku telah lelah membawa gembok di mulut. Kata-kata
Kotor mulai aku rasa jadi tumor hampir di seluruh tubuh.
Kata-kata itu harus dikeluarkan sebelum tahu membunuh.
Harus dikeluarkan sebagai tahi yang pupuk yang paling ampuh.

Kalimat yang suka berdandan tidak pernah cantik, bukan?

Terbongkar sudah rahasia. Selama ini penyair ini telah menyimpan rapat-rapat segenap kemarahan, caci-maki, dan kata-kata kotor. Ia lebih memilih bahasa-bahasa santun dan “cantik” untuk puisi-puisinya.

An, izinkan saya mengulang kalimat yang pernah keluar dari mulutmu suatu saat di bulan puasa tahun lalu, tentang citra perpuisian di media nasional dan lokal. Kau bilang, mereka yang ada di balik meja redaksi desk budayalah yang paling bersalah menjadikan citra puisi hanya sekedar kata-kata puitis, liris, tanpa ruang bagi kalimat realis (apa pun definisinya). Penyair-penyair kita secara tak sadar menjadi tergiring untuk membuat puisi dengan aroma dan warna yang hampir sama. Merekalah yang tidak memberi ruang bagi puisi realis. Sehingga penyair yang tumbuh adalah penyair yang hanya berkutat pada pencarian kalimat-kalimat puitis tanpa ekplorasi dan elaborasi yang serius perihal fenomena sosial. Itulah yang perlahan membentuk citra pada banyak orang bahwa puisi adalah dunia para pemimpi.

Aan, kau benar, kalimat yang suka berdandan tak pernah cantik.

Aku hendak pindah rumah. Segera. Di sebuah daerah
Konon sebuah rumah akan dijual dengan harga murah.
Di sana tidak lagi ada larangan marah. Tidak ada perintah
Untuk mengurut dada. Tidak ada tetangga yang hidup
Dengan mata terkatup atau pintu atau telinga tertutup.

Aku hanya menginginkan sebuah rumah yang penuh
Dengan kalimat gaduh atau kalimat rusuh. Sungguh!

Ah, aku tak sabar untuk bergaduh-gaduh ria di rumah barumu. Aku sudah melihatmu berguling-guling di jalanan di suatu pagi, ketika kau menahan rasa untuk buang air dan mall tak menyediakan toilet untukmu. Aku sudah melihatmu membakar sebuah kota untuk membangun sebuah keluarga tanpa cakar-cakar kota. Aku juga telah melihatmu terbirit-birit mengejar kaki-kaki kota. Dan sebagai perantau, aku telah membaca surat cintamu untuk sebuah kota. Dan diam-diam aku mengendap-endap di setiap peristiwa itu…

******

Aan, akhirnya hanya ini yang bisa aku tulis. Seperti pada pembuka tulisan ini, aku bukanlah pengulas sajak yang handal. Bahkan, aku rasa, aku lebih banyak berkisah tentang perasaanku pribadi ketimbang menganalisis setiap kalimat dengan teori-teori sastra. Maaf!

Semoga hutang saya telah dianggap lunas. Amien…

Makassar, 25 April 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s