Sajak Bumikelana

Sesaat Itu

:Aan Mansyur

Aku datang. Hanya pun sesaat. Duduk di antara jemaat. Asing di keterasingan. Upacara melafal kata, pertemuan suara tanpa aksara. Lalai, ada senyumku yang melompat, jatuh di matamu.

Aku diam. Mendengar-dengar. Manalah tahu ada berkat yang boleh ku bawa pulang. Sekadar senda, meliburkan dosa dari keringat. Kitab suci tentang cinta. Semimbar mimpi anak-anak di rumah.

“Asal bukan wahyu tentang raja terusir dari singgasana..
Bukan pula tafsir tentang dewa tersesat dari nirwana”

*

Aku muak. Sudah pun pekak. Bolehlah bertuang darah menjadi tinta. Sehampar daging menjelma kertas. Menahbis peta perjalanan. Aduh, di tangan kau yang penuh doa, masih ada yang titip bendera.

Aku pergi. Tergesa-gesa. Gemeletak para berhala lapuk menyulur remas. Dengung angkuh bertalu-talu. Berkhotbah, menuntut penyembahan di atas altar. Berpilin sabda, memilah nyawa.

“Kurban tak selalu sudi, mantera basi. Bara dupa pun mati usai bersimpuh diri..
Dalam rayuku yang jalang menantang jarak, sepenggal kidung ibadah mengusang ”

*

Surga, rumah bagi yang mahir mencecap madu di pangkal duga.

“Dan, itulah kita..
Yang berhasil durhaka,
dari tobat yang paling bejat”

Sesaat itu, senyumku kembali lalai.
Melompat, jatuh di matamu.
Dari jauh.

Elang, 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s