“Jalan-jalan Santai ke Rumah” M Aan Mansyur

Oleh: Dul Abdul Rahman

(Catatan Kecil Selepas Membaca “Aku Hendak Pindah Rumah”)

Memasuki “rumah” M.Aan Manyur (MAM) tiba-tiba saya berubah pikiran. Mulanya saya masuk dengan sok kritikus menenteng setenteng buku-buku teori sastra.Bak seorang jagoan, buku-buku itu adalah peluru saya untuk menembaki isi rumah MAM. Aha! Di “taman depan” saya langsung terpesona merona, saya disuguhi kopi hangat dengan seduhan sederhana ala MAM.

“Engkau selalu sengaja memilih busana yang sederhana agar kecantikanmu tidak karam ke dalam kemewahan. Aku selalu sengaja memilih bahasa yang bersahaja saja agar makna sajakku tidak lenyap di perangkap ungkapan.

“Ya, kopi sederhana itu adalah “secangkir” puisi yang sangat menggugah selera saya untuk menyeruput seduhan-seduhan berikutnya.

Saya bergegas masuk. Peluru-peluru saya simpan rapat-rapat dalam tas, takut asal meletus, apalagi saya belum terbiasa memasuki rumah puisi, selama ini memang saya hanya “bertamu” di rumah-rumah cerpen dan novel. Itu pun saya hanya mengintip dari luar lalu “berpote-pote” (berkata-kata) banyak sok kritikus hebat. Ya, sok tahu saya.

Rupanya pintu rumah MAM berjumlah empat. Saya sedikit bingung mulai masuk di pintu yang mana. Kali ini saya sok “keluarga” dengan MAM. Saya memilih masuk pintu yang mana saja, sekehendak hati saja. Dan benar, kali ini saya langsung nyelonong lewat pintu ketiga atau pintu baru.

Lewat pintu ketiga, saya benar-benar ketemu dengan MAM. MAM berbisik kepada saya di kamar 130 (boleh dibaca hal.130) dengan bahasa yang sangat lembut, sederhana, dan menggugah lewat pusinya “Aku Hendak Pindah Rumah.”

Aku hendak pindah rumah. Rumah yang lama biarlah kenangan. Rumah yang berisi aroma hujan juga wajah yang melulu dipenuhi sedu atau sedih yang tak mau sudah. Terlalu teduh rumah seperti itu. Sungguh, aku rindu pada peluh.

Saya terhenyak sejenak. Lihatlah sajak itu teramat indah dengan lapis suara (sound stratum). Baris pertama dan kedua didominasi oleh asonansi a, baris ketiga, keempat, dan kelima didominasi oleh asonansi u.

selanjutnya puisi kian nampak lembut dengan aliterasi h, seperti pindah-rumah-wajah-sedih-sudah-teduh-sungguh-peluh. Dalam sajak ini bunyi-bunyi yang dominan adalah vokal bersuara berat a dan u, hal ini dipergunakan MAM sebagai lambang rasa (klanksymboliek).

MAM menutup puisi dengan kalimat penegas tetapi masih dengan aliterasi h. Aliterasi ini menunjukkan kesedihan atau keresahan. Dengan asonansi dan aliterasi a-u-h, seolah MAM meracau auh-aduh.

Inilah bentuk kegalauan MAM atas dunia hyper-real yang dihadapinya. Makanya pintu ketiga ini disebut juga pintu kegaduhan. Lihatlah dua baris terakhir (baris ke-26,27):

Aku hanya menginginkan sebuah rumah yang penuh dengan kalimat gaduh atau kalimat rusuh. Sungguh! Selanjutnya saya memasuki pintu keempat rumah MAM, kali ini saya memilih kamar 157, lagi-lagi MAM berbisik lirih pada saya lewat puisinya “Peti Mati” Akhir-akhir ini, aku lebih giat menabung.

Belum lagi seminggu seluruh tubuhku sudah jatuh ke peti mati tabunganku- jari-jari kaki-tanganku, sepasang lenganku yang letih, kepala dan rambutnya yang belum putih, juga mata dan hatiku yang senantiasa sedih. (baris 6-11)

Tentu saja saya ikut lirih dan merintih, MAM dengan bahasa lembut seolah menasihati saya (dan mungkin juga Anda) bahwa betapa perjalanan seorang penulis kadang-kadang tersandung oleh batu-batu kesedihan, terhimpit oleh dinding-dinding kegalauan, atau tertiup angin keresahan.

Tapi bukankah buat penyair, perjalanan kesedihaan, kegalauan, dan keresahan laksana danau jingga yang menguapkan embun-embun harapan? Harapan untuk berkarya.

Puas saya berjalan-jalan di rumah empat lewat pintu waktu atau pintu perjalanan, MAM berbisik pada saya, “ Ke mana pun akan pergi dan sampai, langkahmu boleh meninggalkan pintu.”(Puisi April, 175). Saya keluar dari pintu empat. Selanjutnya saya masuk lewat pintu dua atau pintu hati.

Di pintu hati saya kaget. Betapa tidak setelah berbisik hendak pindah rumah, lalu ingin lebih giat menabung, MAM bersedekap sambil berdoa di kamar 73, kali ini MAM berdoa lewat puisinya “Doa”:

Ingatkan agar aku sadar usiaku akan pelan-pelan berubah jadi bumi. Ingatkan aku seluruh tangan yang pernah menanam bebijian di ladang-tubuhku.

Sebab aku ingin melihat mereka merayakan pesta di musim ini Saya sedikit salah mengira. Ketika memasuki pintu hati atau pintu persembunyian ini, saya mengira akan mendapati MAM sedang tersedu dalam tangis, atau terseduh dalam peluh, atau berpeluh dengan luka. Nyatanya MAM berdoa dan prihatin atas lingkungan sekitar.

Maka benarlah petunjuk Hasan Aspahani bahwa MAM adalah penyair yang kuat serta meluaskan tema sajak-sajaknya. Ya MAM memang bukan hanya “memikirkan diri sendiri”, ia perhatian terhadap siapa saja juga prihatin terhadap kemalangan siapa saja.

Tibalah saatnya saya memasuki pintu lama rumah MAM. Sebenarnya ini menjadi pintu satu, tapi saya sengaja terakhir memasukinya dari empat pintu. Alasan saya, ini pintu kenangan, pintu nostalgia, saya ingin bersenang-senang di sana. Saya benar-benar terlena di kamar 30 dengan puisi “Di Dadanya Kamar Tidurku”.

Perempuan itu, di dadanya kamar tidurku. Kasur seempuk peluk. Selimut selembut kabut. Di sana ia pejamkan keteganganku dengan ninabobo semerdu doa ibu. (baris 1-6)

Berbeda dengan tiga pintu lainnya yang bertaburan tema-tema sosial, di pintu ini MAM tampak lebih “meninabobokan” para pengunjung termasuk saya dengan tema kerinduan dan kehangatan.

Sementara saya menyeruput “kopi” kehangatan dan kerinduan, MAM berdendang sendu tapi merdu di kamar 35 lewat puisinya “Beberapa Hari Setelah Kau Pergi”.

Pohon-pohon kopi itu kau yang tanam sebab katamu kau benci kopi kemasan. Pohon-pohon itu kau wariskan kepadaku agar aku selalu lebih cerah dari matahari. (baris 32-35)

Saya terkesima, menyimak. Meski agak tergamak, saya sangat berbahagia bertamu di rumah MAM, saya seperti meninggalkan jejak-jejak yang amat bermakna. Sebelum pulang saya singgah di taman belakang. Di taman itu saya membuat catatan pendek tentang MAM.

“MAM adalah penyair Sulsel yang paling popular saat ini. Ia juga satu-satunya penyair Sulsel yang berdomisili di Sulsel yang karyanya masuk dalam 100 puisi Indonesia Terbaik 2008.

Bukan hanya itu, MAM adalah seorang cerpenis dan novelis yang andal. Makanya buat penulis pemula atau penulis senior yang lagi “impotent”, rajin-rajinlah berkunjung ke rumah MAM.”

Saya melangkah ke luar. Saya sedih. Saya tak bisa berlama-lama di rumah MAM, rumah MAM terlalu besar untuk disinggahi orang kecil (kritikus kecil?) macam saya, apalagi ruang menulis saya di kolom ini sempit. Lain kali saya akan berkunjung ke rumah MAM, kalau perlu “menginap” sambil melahap habis isi rumahnya.

*Penulis, Pekerja Sastra dan Budaya, Email: dulabdul@gmail.com

–dari Harian Fajar, Minggu, 06 April 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s