Kepada Puisi

PADA akhirnya hanya engkau yang sabar
menerima seluruh serapah yang tak mampu
aku teriakkan di mikrofon. Tentang jalan
semakin raya tetapi semakin payah membawa
roda-roda kendaraan dan pejalan kaki
yang ingin pergi meninggalkan rumah.
Tentang cuaca yang membuat sawah
dan para petani menangis, berharap
bisa membuat irigasi dari air mata.

PADA akhirnya hanya engkau yang sabar
mendengar seluruh kecewa yang tak mampu
aku sembuhkan dengan memukul-mukul tembok.
Tentang mall, bioskop dan restoran
yang sungguh-sungguh susah dibedakan
dari rumah sakit; alangkah mahal dan terus
memperparah rasa sakit. Tentang pencuri
yang berkembang biak seperti jamur di musim bencana,
satu-satunya musim di negeri ini. Tentang televisi
yang membuat anak kecil tiba-tiba menjelma orang tua
dan orang tua tiba-tiba menjelma anak kecil.

PADA akhirnya hanya engkau yang sabar
menghibur seluruh kesedihan yang tak mampu
ditampung air mataku. Tentang kawan-kawan
dan kekasih yang semakin mahir berkhianat
dan tidak punya apa-apa buat membayar
kecuali dengan melupakan, ilmu yang dipelajari
bertahun-tahun di sekolah.

PADA akhirnya hanya engkau yang sabar
merawat sakitku, mengurus mayatku
dan menaburkan bunga-bunga di atas kuburanku.
Pada akhirnya hanya engkau!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s