#9 . 2008

KEPADA PUISI

PADA akhirnya hanya engkau yang sabar menerima seluruh serapah
yang tak mampu aku sebutkan di mikrofon. Tentang jalan semakin raya
tetapi semakin payah menampung reroda kendaraan dan pejalan kaki
yang ingin pergi meninggalkan rumah. Tentang cuaca yang membuat sawah
dan para petani menangis dan berharap bisa membuat irigasi dari air mata.

PADA akhirnya hanya engkau yang sabar mendengar seluruh kecewa
yang tak mampu aku sembuhkan dengan memukul-mukul tembok.
Tentang mall, bioskop dan restoran yang sungguh-sungguh susah dibedakan
dari rumah sakit; alangkah mahal dan terus-terusan memperparah rasa sakit.
Tentang pencuri yang berkembang biak seperti jamur di musim bencana,
satu-satunya musim di negeri ini. Tentang televisi yang membuat anak kecil
tiba-tiba menjelma orang tua dan orang tua tiba-tiba menjelma anak kecil.

PADA akhirnya hanya engkau yang sabar menghibur seluruh kesedihan
yang tak mampu ditampung air mataku. Tentang kawan-kawan dan kekasih
yang semakin mahir berkhianat dan tak punya apa-apa buat membayar
kecuali dengan melupakan, ilmu yang dipelajari bertahun-tahun di sekolah.

PADA akhirnya hanya engkau yang sabar merawat sakitku, mengurus mayatku
dan menaburkan bunga-bunga di atas kuburanku. Pada akhirnya hanya engkau!

12/04/08

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s