[ulasan] Aku Hendak Pindah Rumah #2

Membaca Aan, Pelukis Kata-kata

::Daeng Rusle

Kalau seorang Andrea Hirata digelari seniman kata-kata, maka saya – dengan bermaksud ikut meniru – menancapkan gelaran pada Aan sebagai pelukis kata-kata. Dia melukis dengan kuas yang lantang bercerita, diatas kanvas tema yang menarik dan membingkainya dengan kata yang diolah dari bahasa indonesia yang indah. Jadilah puisi. Lukisan puisi ini yang sering membuat kita terkesima, sebahagian besar adalah pemandangan keseharian seorang Aan yang bisa menjadi cermin buat siapa saja. Menatap lukisan kata-kata Aan, terutama buat penikmat puisi yang awam – umumnya diisitilahkan sebagai passanjak Koddala, termasuk saya he2 – maka refleksi yang terlontar adalah refleksi diri, deja vu!

Bukan bermaksud memuji, ah kenapa mesti menyembunyikan diri? – tapi puisi Aan banyak menginspirasi passanjak koddala untuk turut melukis kata juga. Di milis panyingkul, ada beberapa passanjak koddala yang kadang secara tidak senonoh ikut-ikutan berkompetisi dengan lukisan kata Aan yang terbiasa mendapat applaus kata-kata dari khalayak milis. Saya adalah termasuk passanjak koddala yang paling narsis. Sungguh tidak level, menorehkan sanjak ke dalam komunitas pencinta kegiatan menulis itu secara asupan sastra yang terbiasa mereka cerna adalah sekualitas lukisan kata Aan dan yang sekalibernya.

Tapi sanjak Aan adalah inspirasi. Demikian juga dengan Aan sendiri sebagai pribadi. Dia mendorong kita untuk terus membaca puisi, karenanya kita bisa tertular oleh sihir dahsyat kata-kata itu. Aan juga tidak suka mempersoalkan makna dari kata, walaupun kekuatan puisi Aan adalah makna dibalik kata dan alurnya. Petuah paling dahsyat dari seorang Aan muncul dari hasil kontemplasi – mungkin saduran, wallahu ‘alam, yakni ungkapannya yang mengatakan “aku menjadikan diriku sebagai puisi! setiap gerak dan laku ku adalah puisi. Karenanya puisi menjadi hidupku. (kata-kata terakhir ini hasil interpretasi saya sendiri, he2).

Kemaren, saya menerima kiriman buku puisi Aan bertajuk – Aku Hendak Pindah Rumah. Buku puisi ini adalah yang ke-2, yang perdana adalah buku sajak berjudul “Hujan Rintih-Rintih”.

Saya belum lagi menamatkannya, tapi saya sudah terburu2 membuat rangkuman. Tentu saja rangkuman yang subyektif, tapu pasti berangkat dari penilaian atas sajak-sajak Aan yang secara ikhlas dan tawadhu rajin diposting ke milis panyingkul, terutama setelah tayang di beberapa harian ibukota, Kompas misalnya.

Saya belum lagi membaca pengantar dari Hasan Aspahani, tapi 99 puisi Aan di buku ini membuat saya tidak bisa tidur malam ini. Hanya untuk menulis sebuah pengantar buat saya sendiri.

Terakhir, mudah2an pujian disini tidak over dosis. Syukur2 bisa jadi ajang promosi buku bagus ini. Tapi saya kira, kata-kata Aan yang dilukisnya ini sudah bisa menarik sendiri para peminat tanpa digombali. Mau tahu rasanya? Baca saja sendiri.

ulasan ini diambil di blog Daeng Rusle

2 thoughts on “[ulasan] Aku Hendak Pindah Rumah #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s